diketinggian 29ribu kaki

Memulai tulisan ini di ketinggian 29 ribu kaki, ketika awan kelabu di batas pandangan mengguncang, guncangan yang mengingatkan akan cerita-cerita mereka yang telah lebih duluan merasakan naik pesawat, ketika booming tiket pesawat disekitar tahun 2002, ketika banyak dari kita baru akan memulai merasakan naik pesawat, dan mereka yang lebih beruntung yang telah merasakan menempuh ribuan kilo meter hanya dalam hitungan jam, guncangan yang ditimbulkan ketika pesawat menerobos gumpalan awan menjadi topik hangat waktu itu, kita para newbie mendengarkan dengan serius dan menyimpannya sebagai salah satu modal ketakutan di pesawat..

..dan benar
pengalaman pertama pulang dengan pesawat Bali Air yang sekarang sudah gulung tikar memberi modal keparnoan akan pengalaman terbang, terbang dari jakarta menuju barat menjelang lebaran di musim yang tidak bersahabat untuk terbang. Hanya beberapa menit sebelum mendarat di kota tujuan, berbagai guncangan seperti yang digambarkan dirasakan, tapi itu ternyata tak seberapa dibanding pengalaman setelahnya. Pesawat yang sempat berputar-putar diatas kota padang akibat hujan deras dibawah sana tidak memungkinkan pesawat untuk mendarat, derasnya hujan terlihat dari butiran air yang menempel di jendela pesawat, tidak seperti berkendara di darat ketika hujan, butiran hujan terlihat sangat jelas di kaca depan, tapi itu tidak berlaku di pesawat yang bergerak di kecepatan diatas 800km/jam, hanya hujan yang sangat deras yang akan meninggalkan sapuan butiran air yang sangat tipis di jendela. Kembali ke pesawat, setelah beberapa menit mengitari udara menunggu perubahan cuaca, pilot memutuskan untuk mengalihkan penerbangan ke bandara terdekat, dan bandara di Pekanbaru menjadi pelabuhan sementara menjelang kondisi cuaca di udara Padang layak untuk pendaratan.

Setelah hampir 2 jam menunggu, akhirnya penerbangan menuju padang dilanjutkan, semua penumpang terlihat gembira karena kampung halaman telah didepan sana yang hanya ditempuh tak lebih dari 1/2 jam perjalanan. Tapi disana awal bencana, ditengah keceriaan, seluruh penumpang dikagetkan oleh turbulance yang terjadi 10 menit setelah take off, pesawat seperti terperosok ke lubang tak berudara, tidak ada yang siap menghadapi itu, kursi yang diduduki seperti anjok sepersekian senti kebawah, meninggalkan tubuh mengambang sesaat dan ikut anjlok terbawa gravitasi. Ketakutan tidak hanya terlihat di wajah penumpang, para pramugaripun yang sedang membagikan makanan ringan saling tatap ketakutan, terlihat dari ekspresinya bahwa ini pengalaman pertama juga untuk mereka. Tapi bagi pilot kejadian seperti itu mungkin hal yang biasa baginya, penerbanganpun dilanjutkan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Tapi walau bagaimanapun, pengalaman mengerikan tersebut terpatri indah di otak, pengalaman mengerikan yang hanya terulang ketika perjalanan dinas ke makasar di hari yang sama dengan kejadian jatuhnya pesawat Lion Air di bandara solo beberapa tahun yang lalu..

..dan perjalanan dinas kali ini juga sama, disaat musim tak bersahabat untuk terbang..semoga tulisan ini bisa ikut mendarat di belahan indonesia sana 😀

##pesan terakhir: jangan tulis pengalaman mengerikan di pesawat ketika anda lagi di pesawat, karena anda akan parno sendiri ketika menghabiskan sisa penerbangan, itu pengalaman barusan.. Haaaa 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s