curcol..curcol di dinding kota

itu orang2 intelek, berpendidikan tinggi, mobil bagus2 kok ngga bisa baca rambu2 lalu lintas ya? udah jelas2 tertulis dilarang masuk kecuali busway, tapi tetap aja menyerobot jalur steril busway.

Tulisan diatas merupakan status seorang teman di fesbuknya, dan ini mungkin bukan kali pertama teman tersebut menuangkan kekesalannya akan mobil-mobil pribadi yang menerobos jalur busway. Di status sejenis beberapa waktu lalu saya justru menilai dari sudut pandang yang berbeda, tidak membela maupun menyalahkan pengendara mobil pribadi, tidak hitam putih jalur busway versus mobil pribadi yang menerobos jalur, tapi melihat dari view yang lebih luas, semua itu adalah kesalahan yang harusnya mempunyai kewenangan mengatur, mengadakan dan memberikan layanan transportasi bagi masyarakat kota, siapa lagi kalau ga pemerintah kotanya, pemerintah pusatnya. Pemerintah kota atas ketidakmampuannya menyediakan sarana transportasi yang layak untuk warga yang telah menggaji mereka dengan aneka pajaknya, pemerintah pusat dan kota yang membuka keran sebesar-besarnya untuk produksi mobil tanpa memikirkan rasionya dengan ketersediaan jalan, lagi-lagi demi mendapatkan pajak untuk gaji mereka, walau disisi lain terkait ini ada positifnya yaitu untuk penyerapan tenaga kerja, tapi lagi-lagi itu ketidakbecusan pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja tanpa harus mengorbankan sisi lainnya. Lagi, terkait jalan, adalah kesewenang-wenangan pemerintah kota yang dengan tangan besinya merampas hak jalan demi proyek busway, yaa karena disana ada unsur yang namanya ‘proyek’ yang kalau benar-benar dikaji keefektifannya tidak sebanding dengan kemacetan baru yang ditimbulkannya karena perebutan area jalan yang sudah minus masih dirampas untuk busway. Bukankah pernah dikaji seberapa besar bahan bakar yang terbuang karena macet yang ditimbulkan, berapa banyak transportasi lain seperti bus dan metromini yang direbut penumpangnya, seberapa mulut yang jatahnya terganggu karena yang memberi makannya tidak membawa uang yang cukup tuk makannya mereka 😦 .. Yaa begitulah, semua ini sumbernya cuma satu, ketidakbecusan..

Lantas kita sebagai pengguna..
Perlu kesadaran personal memang untuk ini..

Inilah yang menjadi ide tulisan kali ini sebenarnya, status teman tadi seolah me-rollback aneka peristiwa selama perjalanan menuju kantor tadi pagi. Semua terkait kesadaran personal akan berkendara. Agak egosentris memang, melihat dari sisi saya sebagai pengendara, tapi tidak ada salahnya untuk dibagi.

Bermula dari mempersilahkan seorang ibu yang sedang memboncengkan anaknya, ibu yang dengan motornya akan menyeberang menuju gang rumahnya, mempersilahkan lebih kepada pemikiran bahwa sang ibu pengendara yang dari jauh saya lihat menunggu untuk menyeberang, lebih kepada asas antrian, ibu itu antri lebih dulu, maka layak dipersilahkan untuk duluan.. dan untuk ini saya mendapat bonus sebuah senyum dari ibu ini, alhamdulillah dapat tabungan pahala sebuah senyuman dipagi hari.

Kemudian ketika di tol melihat sebuah mobil APV menyalip mobil dibelakang saya, jarak saya dengan mobil dibelakang yang sebelumnya tidak seberapa dipaksa si APV tuk nyempil, dan sebuah raungan klakson saya dengar dari belakang, kebayang respon rem mendadak mobil yang tadi dibelakang saya atas apa yang diperbuat si pengendara APV. Saya teringat akan petuah, tips saya ke adik ketika mengendarai mobilnya, memberikan wejangan kepadanya yang sedang belajar menyetir di keramaian kota jakarta, sebuah tips ringan tapi terkait etika mengendara dimana saya bilang menyalip yang baik adalah menyalip tanpa harus memaksa mobil yang disalip mengerem, memberi ruang karena terpaksa, dan etika itulah yang dilanggar si pengendara APV tadi pagi.

Masih di tol, saya memberi klakson ke sebuah mobil mercy C200 baru yang akan mengambil jalan yang saya lewati dalam kecepatan 90-100km/jam, dan tak lama setelah itu di sebuah tikungan saya memberi dia jalan, karena menurut saya dia memang layak mengambil jalan saya, menyalip saya. Lagi-lagi masalah etika kepantasan, saya tidak akan memberi jalan jika itu tidak memungkinkan, tapi disaat berikutnya ketika itu patut, saya tidak akan menghalangi, lagi-lagi.. masalah etika berkendara, dan kembali yang namanya etika itu kembali ke personal orangnya.. **bukan berarti mau nyombong lho, tapi sekedar mengingatkan diri sendiri juga untuk lebih ingat akan ‘Etika’..

Terakhir, ketika keluar tol Ampera dan langsung ketemu traffic light Ampera, dikejauhan traffic light menunjukkan lampu merah, tapi polisi masih memberi perintah untuk mobil dijalur saya untuk tetap menyeberang, beberapa saat kemudian persis di mobil di depan saya polisi memberi aba-aba untuk berhenti, tapi mobil didepan saya sebuah Yaris hitam tetap memaksa untuk menyeberang walau telah diperingatkan berhenti oleh polisi, saya sendiri menghentikan mobil karena aba-aba itu, dan memang, ketidaksabarannya si pengendara Yaris berbuah manis, dia berada ditengah kerumunan motor, dan sebuah motor yang sudah tidak sabar dari tadi memaksa jalan dan menyenggol si Yaris, kebayang akan baret yang ditimbulkannya, saya yang menyaksikan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, itulah buah dari ketidaksabaran dalam berkemudi, kesabaran adalah salah satu kunci berkendara ditengah keriwehan transportasi jakarta, kesabaran ditengah berjuta pengendara yang tidak sabar **khususnya pengendara sepeda motor, bersabar demi keselamatan mereka, dan kesabaran akan kemacetan yang telah menjadi karakter dari lalu lintas jakarta

Hah.. donlot firefoxnya yang diperlukan untuk bekerja udah 15 menit yang lalu, waktu menunggu telah berakhir, siap kembali ke aktifitas..

morning jakarta..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s