..syukur..

menulis itu mood.. dan itu yang terjadi disini.
Tadi ketika di jalan menuju peraduan ini banyak ide terlintas, hanya butuh duduk tenang untuk menumpahkannya dalam satu tulisan yang pasti menarik #huuuuu…!

..tapi apa yang mau dikata..
kadang ada hal yang diluar kendali, ada hal yang tak diprediksi hadir, mengacak-acak itu semua..

Mood.. oh mood..
Ketika itu menulis tidak lagi suatu yang mengenakkan.. Memaksakan sama halnya dengan merusak apa yang telah ada.. yang ada hanya tumpahan kekusutan ini dalam dua tiga baris kataa..

stoopp… dah lebih dari dua barisss…

huff.. ternyata ceceran tulisan diatas membangkitkan ide itu.. ide yang tadi telah terbenam jauh, justru kini naik ke permukaan.. yaap, tumpahan diatas bak minyak yang menumpuk diatas kemurnian air.. setelah dialirkan, kemudian air – ide yang tadi terendam jauh dibawah sana kini muncul ke permukaan..

Begini ceritanya..

Jum’at kemarin, dalam khutbah jum’at **1 diantara ribuan khutbah yang terlewatkan, tertimpa mimpi karena ketiduran 🙂 ** yaa.. dalam khutbah sang khatib bercerita ketika Rasulullah saw ditanya kenapa beliau begitu khusyuk dan taatnya beribadah, tak ada sebenarnya yang perlu dikhawatirkan oleh beliau karena dosanya pasti terampuni dan tempat terindah di surga telah disiapkan bagi beliau, tapi kenapa beliau masih memperbanyak ibadahnya. Beliau menjawab bahwa ibadah itu tidak lagi bentuk kewajiban bagi beliau tapi adalah wujud rasa syukur

—–kisah selengkapnya seperti kutipan dibawah
Dikisahkan, suatu malam, Nabi Muhammad Saw lama sekali shalat, hingga kakinya pun bengkak. Siti Aisyah, istri beliau, merasa heran dan bertanya. ”Bukankah engkau seorang yang ma’shum yang sudah diampuni dosanya?” tanya Aisyah.Nabi Saw menjawab singkat: Afalam akuunu abdan syakura….” Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?”
—–

Cerita sang khatib menempel lama dikepala, entah kenapa.. rasanya tidak ada yang istimewa, cuma ada yang bebeda dari pemahaman yang selama ini ada karena sebelumnya di kepala hanya ada pemikiran sufistik bahwa ada tiga tipe orang dalam beribah, pertama mereka beribadah karena takut kepada Allah, kedua karena mengharapkan pahala, dan yang ketiga adalah beribadah semata karena kecintaan kepada Allah swt, dan ini yang dipandang paling tinggi derajatnya oleh para sufi. Dalam Syair Cintanya seorang sufi perempuan (rabiah) al-Adawiyah al-Bashriyah menulis;

Aku mengabdi kepada Tuhan
Bukan karena takut neraka
Bukan pula karena mengharap masuk surga
Tetapi aku mengabdi,
Karena cintaku padaNya
Ya Allah, jika aku menyembahMu
Karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Dan jika aku menyembahMu
Karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembahMu
Demi Engkau semata,
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajahMu
Yang abadi padaku

Ungkapan sang sufi ‘jika aku menyembahMu Karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya‘ sempat menjadi kontroversial karena dimata sebagian kalangan merupakan ungkapan yang tidak lazim. Tapi begitulah cara sufi mengungkapkan kecintaannya pada sang Khalik. Beberapa tahun yang lalu ketika Cak Nur (nurcholis madjid) masih hidup, dalam suatu kuliah subuh beliau di tv swasta beberapa saat sebelum shalat idul fitri, beliau sempat bercerita tentang karakter muslim dapat dilihat dari cara mereka beribadah, merupakan penterjemaahan dari 3 cara beribadah umat diatas dimana Cak Nur menyimbulkan 2 cara beribadah yang pertama adalah umat yang bermental budak, melakukan sesuatu karena takut akan hukuman atau mengharapkan imbalan dari Tuhannya, sementara kelompok ketiga digambarkan sebagai hamba bermental merdeka, beribadah semata-mata hanya mengharapkan cinta-Nya.

Nah, ceramah jum’at kemaren memberikan suatu yang baru, memberikan makna bahwa ibadah ternyata adalah simbol dari rasa syukur. Ceramah yang menempel terus di kepala yang tiba-tiba ketika di shalat magrib berjamaah di mushalla belakang rumah ada letupan kecil ide di otak ‘bluuuppp..’  ..otak sepertinya meletupkan pikiran bahwa sepantasnyalah Rasulullah saw beribadah dengan begitunya karena apa yang di berikan ke beliau adalah rahmat yang paling besar, tiada rahmat Allah yang lebih besar kecuali rahmat yang diberikan kepada beliau, dipilih sebagai utusanNya, kecintaanNya, perlindunganNya, surgaNya, semuanya diberikan kepada beliau dan sepantasnyalah beliau menjadi hamba yang paling banyak ibadahnya, paling bersyukur kepadanya.

Lantas kitaa..
Kalau mengikuti logika, tentu otak memerintahkan untuk tidak perlu beribadah setaat beliau, toh rahmat-Nya tidak sebesar yang diberikan ke beliau saw. Disana hati berbicara, ditengah kebenaran logika, hati yang paling bisa menjawab. Hati berkata, semakin taat beribadah, semakin terbuka mata hati melihat akan rahmat-Nya, dan semakin kita bersyukur akannya. Apa yang dikatakan hati persis seperti apa yang digambarkan Bimbo dalam lirik lagu Tuhan nya

aku jauh Engkau jauh
aku dekat Engkau dekat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s