4DB4VD

Jarang-jarang yang namanya duduk di pesawat tidak tidur, tidur di pesawat bagi saya udah kayak jum’atan, bisa di hitung dengan jari dalam 5 tahun ini saya yang ga tidur selama khutbah jum’at, bahkan tidak jarang tertidur telah dimulai sebelum mulai khutbah, ingat yaa tertidur.. Naah di pesawatpun begitu, tertidur terkadang telah mulai ketika pesawat masih di darat alias belum take off, seperti keberangkatan kemaren menuju negeri toba, masih di bandara soetta mata telah terpejam dan baru terbangun ketika pesawat telah stabil mengudara, padahal itu siang, kehadiran sang mimpi tidak bisa ditolak.. Tapi malam ini benar-benar anomali, sudah kondisi fisik lelah setelah sehari penuh ngajar, dan take off di jam-nya tidur tapi mata sama sekali tidak bisa di ajak kompromi buat tidur bahkan hanya untuk sesaat. Apesnya lagi si ipod tidak berada di pangkuan tertinggal dalam tas di bagasi. Setelah bergumul dengan mati gaya ga bisa ngapa-ngapain, akhirnya memberanikan diri ngomong ke pramugari ijin mengambil si ipod di bagasi, dan alhamdulillah diijinin.. 😀

Alunan lagu membuka pintu ide untuk kembali memainkan jari di tooth nya si gemini, dan syukurnya ketika akan take off si gemini tidak di shutdown tapi hanya di uncheck koneksi ke operator jadi sekarang hanya berfungsi bak komputer genggam tak mengeluarkan dan mencari sinyal seperti yang selama ini ditakuti orang-orang jika berhape di pesawat. Pada masa smartphone awal ketika si mikrosop berjaya dengan windows mobile nya dikenal istilah flight mode buat mode hape bisa nyala dalam penerbangan. Ketika pertama bawa si hape nya RIM ini sempat mikir option flight mode nya dimana yaa..booomm untung si otak masih bisa di ajak di jalan yang tidak mulu lurus, berpikir agak triki tapi sesuai fungsinya yaitu logis.. Si otak langsung ngasi bocoran, kenapa ga koneksi ke operatornya aja yang di putuskan, dan beneerr, kondisinya logikanya akan sama dengan flight mode nya si windows mobile..dan benar, setelah 5 kali penerbangan alhamdulillah bisa dijalani dengan selamat, dan di penerbangan ke 6 ini yang berlangsung 2 jam moga bisa berjalan seperti 5 penerbangan sebelumnya, do’akan yee..

Hmm mau cerita apa yaah..
Cerita di atas sebenarnya dah sangat panjang kalau dituangkan kedalam satu posting, tapi entah kenapa jari masih pengen bermain, mengayun belum mau berhenti. Kangen kali yaa, kangen berada di kondisi ketersendirian seperti ini.. Kondisi yang memenuhi sepanjang hari-hari dulu ketika celotehan si hantu tarok gencar bergema.

Hmm.. Di si ipod sekarang mengalun Deviation sebuah lagu dari album Reborn nya Indra Lesmana, hmm dengerin dentingan keyboard nya Indra sangat kental nuansa jazz nya dan kaya inprovisasi, beberapa tahun belakangan semenjak hati terikat pada irama musik yang satu ini meski jiwa cadas terpalingkan, Indra Lesmana salah satu musisi yang perjalanan bermusiknya dengan setia saya ikuti, dari album reborn, rumah ke 7, menyaksikan pertunjukan perdana kolaborasi dengan Gilang Ramadhan, penampilan perdana dengan JavaJazz setelah sekian tahun vakum dan terakhir kolaborasi dengan Berry Likumahua di LLW, sayang khusus yang terakhir yang sesaat lagi akan release lambung (saat ini dalam proses mastering, maklum follower di twitter :)), ingin rasanya menyaksikan penampilan Indra dengan LLW nya yang sekarang rutin setiap minggu malam tampil di Red white Launge, sebuah cafe di kawasan Kemang, tidak hanya indra, terkadang musisi-musisi jazz baik yang senior ataupun baru terkadang ikut mengisi.. Huu kapaaan yaa punya waktu untuk nonton kesana.. Berada diantara komunitas jazz..

Dulu, 4 tahun lalu ketika java jazz festival belum ngepop, sepopular sekarang, sangat terasa JJF adalah event terbesar berkumpulnya komunitas jazz, tidak hanya dalam tapi juga dari luar negeri. Suasana sangat jazzy, nonton tidak berdesak-desakan.. Alunan indah jazz yang kaya improvisasi sangat enak untuk dinikmati.. Tapi ketika JJF tidak lagi jazzy tapi ngepop, hawa jazz nya perlahan hilang, komunitas jazz berganti dengan komunitas ABG, komunitas orang mampu yang berbondong-bondong menonton bukan untuk menikmati musiknya, merasakan nikmatnya hawa jazz, berganti tempat berfoya, menghamburkan kelebihan uang tanpa membawa apapun setelah menyaksikannya..

Sebentar lagi.. Kurang satu bulan lagi, JJF kembali digelar.. Kemeriahan akan kehadirannya telah mulai terasa road to JJF telah mulai digelar di beberapa mall di jakarta. Sederetan artis jazz papan atas dunia telah berjejer siap mengisi, fourplay berada di deretan incaran bagi saya..sementara musisi jazz lokalpun tak kalah daya tariknya.. Andien salah satunya.. Bagaimana dengan Indra Lesmana.. Moga tampil dengan LLW nya, dan moga ketiganya dihadirkan di hari yang sama di jam yang berbeda.. Jadi cukup hadir satu hari saja ditengah keriuhan gemerlapnya pesta sang kaya raya..

Posted with WordPress for BlackBerry.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s