semalam (tak) di jakarta

aku pulang..dari rantau
bertahun-tahun di negeri orang ooo malaysia jakarta

Tapi pulang kali ini harusnya beda, tidak lagi ke the end of the hill/ujung bukit tapi ke thick rock/batu taba/tebal. Aneh memang, pulang kampung tapi ga ke rumah kelahiran. Tapi itulah adat, di budaya minang, laki-laki tidak pulang ke rumah orang tuanya, tapi ke rumah mertua. Orang di luar minang mengenal laki-laki minang/padang itu di beli, tidak salah memang, istilah yang tepat sebenarnya di jemput (di japuik), di jemput ke rumah perempuan (meski sebagian wilayah di sumatera barat sana memang laki-lakinya dibeli). Di satu sisi, nilai laki-laki tinggi disini, mereka tidak melamar justru di lamar, mereka tidak datang sendiri tapi dijemput untuk memperistri, jadi menantu bagi keluarga perempuan. Ada harga diri disini bagi laki-laki, kasarnya ‘gw ga minta nikah kok, tapi gw diminta/dijemput untuk menikah’. Disisi lain bagi wanita, dengan laki-laki didatangkan ke rumahnya, itu simbol bahwa perempuan dilindungi karena tetap berada dalam lingkar keluarganya.

Tapi pulang kali ini adalah exceptionnya, secara go home alone, Miya ditinggal karena pulang hanya untuk 2 malam saja. Exception, karena ini kepulangan pertama, belum pernah tidur di rumah mertua secara nikahnya disini. Secara adat, di jemput tetap.. masalahnya kalau di jemput, dijemput untuk siapa, secara Miya nun jauh disini, di jakarta. Akhirnya tanah Tarok untuk saat ini tetap tempatku kembali.

Tempat kembali..

hmm.. jadi teringat, dalam budaya minang juga di kenal tempat kembali dalam arti yang lebih dalam, tempat akhir perjalanan. Yah, di minang sana dikenal kuburan keluarga. Ketika seorang laki-laki yang sudah menikah meninggal, tempat kembalinya ada dua, apakah di kuburan keluarga istri **istilahnya di rumah anak**, ataukah di kuburan keluarga nya, yaah semacam reverse nya dijapuik.. dikembalikan. kemanakah tempatku kembali nanti.. the end of the hill ataukah thick rock.. hmm.. dua-duanya jauh dari jakarta 😀

Kekasih hatipun telah pula hilang
Hilang tiada pesan
Aduhai nasib, apakah daya
Cinta hamba jiwaku merana, mana dinda

hiks, ditinggal di jakarta 😦

Iklan

2 thoughts on “semalam (tak) di jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s