4 dirham

Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa syayidina Ali ra. jika pagi hari memiliki uang 4 dirham maka 1 dirham akan di sedekahkan pagi hari secara diam-diam, 1 dirham disedekahkan dengan terang-terangan agar dicontoh oleh umat dan 2 dirham sisa akan disedekahkan pada sore harinya (*khusus 2 yang terakhir agak lupa redaksionalnya, mohon masukkannya jika ada yang ingat 🙂 )

Cerita diatas saya dapatkan dalam sebuah ceramah rutin di kantor pada saat puasa kemaren. Saya teringat kisah tersebut karena sedih dan heran pada diri sendiri kenapa tidak bisa berbuat seperti Ali ra yang jika memiliki harta semuanya akan di sedekahkan. Ingat kisah ini karena sedih tidak bisa membantu saudara-saudara di tanah kelahiran sana, sedih karena ingin membantu pada saat tidak sanggup membantu. Jika diandaikan seperti Ali, saya sebenarnya hanya punya 2 dirham itu, 2 dirham yang dipegang Ali sampai sore yang jika tidak punya kebutuhan di hari itu akan bisa disedekahkan disore harinya… Semoga siang cepat berlalu dan 2 dirham itu masih utuh ditangan agar kemudian dapat disedekahkan 😦

Terlepas dari masalah sedekah diatas, berkaitan dengan bencana di tanah seberang, setiap kali bencana banyak orang mengaitkan dengan amalan, dengan tobat, dengan peringatan dari-Nya.. Apakah memang demikian, apakah kita akan selalu menakar diri, menakar amalan, bertobat dan selalu menjadikan semua bencana sebagai peringatan, mohon pencerahannya.

Bagi saya semua itu hanya proses alam.. Saya jadi teringat ceramah taruwih di Salman Bandung ketika ramadhan yang baru saja lewat dimana sang khatib berpendapat bahwa sesungguhnya Allah menurunkan 2 hal yaitu hukum agama yang disebut fiqih dan hukum alam dan kedua-duanya menggambarkan kebesaran-Nya. Para ahli agama mempelajari dan mendalami ilmu fiqih dan para saintis mempelaji ilmu alam. Apa yang terjadi dengan gempa adalah peristiwa alam yang hanya bisa diurai dengan ilmu alam. Tidak ada kaitannya dengan amalan dan dosa manusianya. Saya **untuk saat ini** tidak setuju dengan kata ‘peringatan’ tapi lebih setuju dengan kata ‘pengingat’ karena gempa yaa begitulah adanya, begitulah alam mempunyai caranya sendiri, bukan peringatan akan dosa, ga ada kaitan dengan dosa dan pahala manusianya kecuali yang nyata-nyata dikisahkan dalam Al-qur’an ketika Allah berkehendak akan umat-umat yang durhaka yang dimusnahkan dimasa lampau, sebagai pengingat bagi kita sekarang akan kuasa-Nya. Saya lebih setuju jika bencana itu menjadi ‘pengingat’ bahwa sesungguhnya jika Allah berkehendak, kematian bisa datang kapan saja, menjadi pengingat bahwa kita bisa tiba-tiba saja di jemput, pada saat tidur ataupun saat terjaga, pengingat apakah untuk menghadapi semua itu kita telah mempersiapkan bekal yang cukup untuk menuju kampung keabadian.

..dan.. Bersyukurlah jika kita masih diberi petunjuk untuk bisa ingat akan semua itu, karena tidak semua orang diberi Allah petunjuk dalam hatinya untuk selalu ingat..

Iklan

3 thoughts on “4 dirham

  1. apakah kita akan selalu menakar diri, menakar amalan, bertobat dan selalu menjadikan semua bencana sebagai peringatan, mohon pencerahannya..

    secara pribadi bundo berusaha merubah cara pandang ttg segala musibah.. tak lagi mempertanyakan ujiankah ini?, azabkah ini?.. mulai berpikir sederhana, bencana di belahan dunia manapun adalah kejadian antara aku dan Tuhan saja.. agar lebih banyak introspeksi, agar aku lebih bersandar padaNYA

    dan berlatih mencari sisi untuk tersenyum..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s