4#

Ketika akan merebahkan tubuh setelah pulang berbelanja kebutuhan tadi siang, adik mengatakan ayah dari temannya akhirnya meninggal dunia juga. Baru seminggu yang lalu adik bercerita tentang orang tua temannya –dimana temannya ini saya cukup kenal dekat karena sering main kerumah– sedang berada di ICU karena komplikasi sebagai dampak dari penyakit gula yang telah lama dialaminya. Saya masih ingat adik bilang

biasa dokter kampung, telat penanganan..

Ungkapan bernada sinis sebenarnya bermula ketika teman menyatakan rasa marah yang teramat sangat ketika mendapati orang-tuanya berada dalam keadaan kritis karena kesalahan analisa dan kelambatan penanganan dari dokter di rumah sakit sana yang berakhir dengan meninggalnya orang tua dari teman tersebut. Kesinisan itu menjadi hal yang biasa ketika kita sekeluarga mengalami sendiri berada dalam kondisi yang sama seperti yang dialami teman diatas ketika nenek setahun yang lalu dirawat di rumah sakit. Sebagai yang berada pada posisi yang sangat membutuhkan bantuan akan kesembuhan orang yang dicinta, kita terpaksa harus menelan pil pahit akan ketiadaan pilihan, itu yang bisa dirasakan. Terlepas dari kualitas dokter disana yang sangat diragukan, satu yang membuat kesal adalah itikad dari dokter untuk menyembuhkan pasiennya, terutama yang berada dalam keadaan kritis yang memerlukan penanganan segera, cepat dan tepat. Mereka tidak lebih menjalankan tugas rutin, seperti robot yang di program datang pagi dan petang tanpa peduli kondisi pasien yang memerlukan penanganan dan monitoring yang lebih intensif. Kesan yang saya dapatkan adalah dokter seolah memanfaatkan sifat pasrah dan sabar masyarakat sana dan saya meragukan apakah mereka aware bahwa yang mereka hadapi itu adalah berkaitan dengan nyawa seseorang. Saya masih ingat bagaimana mereka memberikan obat ketika kita mengeluhkan nenek terlihat gelisah dan susah istirahat ditengah kesetengah-sadarannya, dengan santai dokter memberi obat dan sejak itu nenek tidak sadar sama sekali hingga akhir hayatnya. Tidakkah mereka sadar ke-santai-an mereka memberi obat akan berakibat segitu parah.. di kota orang bisa bilang malpraktek, di negara maju sana orang bisa memperkarakan kasus kesalahan penanganan ini, sementara di daerah sana, masyarakat diracuni dengan bumbu pasrah akan kesalahan penanganan dari tenaga kesehatannya.

Hah, jauh sebelum kasus yang menimpa nenek saya mendengar cerita seorang teman tentang boss orangtuanya yang sakit nyaris tidak bisa bergerak dan dirawat hampir 2 minggu di salah satu rumah sakit terkenal di jakarta, 2 minggu tanpa ada kejelasan status kesembuhan, dan dengan dana yang cukup –maklum boss 🙂 — sang boss diterbangkan ke singapura dan dalam satu minggu sang boss bisa melenggang santai kembali ke tanah air.. itu di jakarta, secara dokter ahlinya seabreg, makanya ketika yang saya alami di daerah, tidak ada pilihan.. kita menelan pil pahit kesabaran itu..

tetap.. yang saya gugat bukan kualitas mereka, tapi itikad mereka untuk menyembuhkan, minimal membuat kondisi pasien lebih baik, itu yang saya ragukan..

..dan syukurnya, saya punya teman-teman dokter adalah mereka yang benar-benar berbeda dengan penilaian saya akan dokter pada umumnya.. semoga selalu demikian.. semoga mereka jadi Salmiati-salmiati baru, minimal di hati saya 😀

Iklan

3 thoughts on “4#

  1. om doain yaa.. biar bundonya rein bisa jadi dokter gigi yang baik. rein perhatiin beliau selalu happy klo pasiennya sepi, karena itu kesempatannya buat nge-net.. 😛

    yang sudah berlalu kita ikhlaskan ya om.. dulu rein lihat bundo lama juga marah sama dokter sewaktu kakek meninggal.. mungkin disitulah kita belajar ikhlas.. jadi pelajaran bagi kita kedepan..

    “bila kita mudahkan urusan seorang saudara, maka yakinlah Allah pun akan memudahkan urusan kita..” maka mengapa kita tak bersungguh-sungguh melakukan yang terbaik dibidang yang kita tekuni.. InsyaAllah..

  2. malpraktek terjadi pada seorang temanku bulan lalu di salah satu RS yang cukup ternama, sangat menyebalkan… penyakit ringan (diare biasa) dianggap berat dengan hasil diagnosa yang berubah-ubah dan membingungkan, hingga dia harus dirawat lama di RS, mengeluarkan biaya yang besar dan yang paling kasian harus meracuni tubuhnya dengan obat-obatan yang banyak padahal ga diperlukan!…. uuugh dokter atau apa ya namanya kalo seperti itu..?? **dan lagi-lagi pasien hanya pasrah (padahal kita-kita udah jadi kompor bleduk hihi..)

  3. Tu khan Bun, temannya miss me aja punya pengalaman yang sama, dan itu di jakarta.. yaa kan miss 😉 😀

    yang lama siy memang sudah di ikhlaskan bun, itu udah jalannya… tapi kesalnya kok kejadian-dan-kejadian lagi.. kesaaall bangeddd 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s