august 1

Ini contoh anak-muda minangkabau. Deni (30) merantau ke Bandung setelah menyelesaikan sekolah menengah atas di Bukittinggi, Sumatera Barat. Tujuannya untuk memperoleh pendidikan tinggi yang lebih baik. Setelah itu, ia bekerja di Jakarta. Alasannya, peluang kerja di Jakarta lebih banyak dan kondisi kerja lebih menantang. (Kompas, 1 Agustus 2009)

Demikian sekelumit tulisan di harian Kompas kemaren berjudul Rantau, Surau, Lapau di Minangkabau. Lucu aja karena pemuda Minangkabau yang diwawancara diatas adalah adik sendiri. Karena alasan wartawan connection, adik di wawancara oleh temannya sendiri dari harian Kompas.

Selain tulisan diatas, yang juga menarik dari harian Kompas kemaren **lah kok jadi kayak editorial MI di Metro TV yaa 😀 ** , yang juga menarik adalah tulisan tentang perjalanan Alvaro Neil, warga spanyol yang keliling dunia dengan sepedanya. Menarik ketika dia bilang dia jengkel sama perilaku warga indonesia yang tidak ramah sama pengendara sepeda. Dia bercerita sering di klaksonin dan bahkan diteriakin ketika melewati jalanan di sumatera, serta bagaimana dia takut sama bus dan truk yang ugal-ugalan. Diakhir cerita dikatakan bahwa perilaku dijalanan mencerminkan perilaku sesungguhnya sebuah bangsa.

Saya jadi teringat ketika 2 hari lagu bersepeda ke kantor, diseputar pasar Ciledug saya terpaksa memperlambat jalanannya sepeda gara-gara seorang ibu-ibu berjalan di depan saya, dipinggir jalan. Trotoar yang harusnya menjadi tempat pejalan kaki telah berubah menjadi tempat jualan, sementara jalan yang lebih pinggir telah dikuasai oleh tukang ojek, sehingga si ibu-ibu tersebut terpaksa mengambil jalan yang lebih ketengah. Saya dengan sabar mengikuti si ibu karena tidak bisa mendahuluinya, dan dengan sabar tidak membunyikan bel kring-kring sepeda. Beberapa motor mengiringi dibelakang saya ga tau apakah sudah geram atau cukup sabar.

Demikianlah, jalanan di jakarta sebenarnya mengajarkan bagaimana kita bersikap, bersikap menghargai. Menghargai pejalanan kaki kekita berkendara, menghargai pe-sepeda bagi yang duduk di motor atau dibalik kemudi mobil, menghargai pengendara motor ketika membawa mobil, dan sebaliknya. Kerasnya kehidupan jakarta tergambar dijalanannya, saling salip, tidak menghargai pengendara lain, klakson sana-sini ketika macet, ugal-ugalan dan tidak mengindahkan keselamatan orang lain, sungguh tidak menggambarkan sebagai bangsa yang ramah.

Kembali, semuanya adalah kesadaran pribadi. Bicara masalah kesadaran pribadi, saya jadi teringat beberapa hari yang lalu di salah satu acara TV luar, saya agak lupa lagi membahas masalah apa, tapi satu yang saya ingat orang yang diwawancara itu berkata ‘kita tidak bisa hanya mengambil secara gratis sesuatu yang seharusnya dibayar, suatu yang harusnya dibayar, yaa kita bayar meski memungkinkan untuk diambil gratis’.. demikianlah, kesadaran pribadi menjadi pemandu bagaimana seharusnya bersikap. Saya juga teringat ketika akan keluar lift di luar sana, seorang bule yang berdiri diluar akan memasuki lift, berdiri dipinggir memberi jalan mereka yang akan keluar lift sambil memegangi pintu lift agar tidak menutup, kemudian setelah semuanya keluar, dengan masih memegang pintu lift, dia mempersilahkan yang lain untuk masuk duluan. Demikianlah, tanpa perlu koar-koar menyatakan diri sebagai bangsa yang ramah, mereka menunjukkan dari tindakan.

Hayuk dimulai dari diri sendiri 😀

Iklan

2 thoughts on “august 1

  1. wah, deni kenapa ga bawa-bawa kita yaa.. 😛

    itulah kesadaran pada sekeliling.. seringnya kita lupa, seolah dunia hanya berpusat pada diri sendiri.. yang penting urusan diri sendiri, beress..!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s