pegel re’

Siapa bilang bawa matic ga pegal kayak bawa yang manual. Saya saksi hidupnya, itu cuma memindahkan rasa pegal dari kaki kiri ke kaki kanan, dari pinggang kiri ke pinggang kanan.. hah, apalagi dengan traffic kayak jakarta, berangkat jam 5.20 pagi nyampai kantor jam 8.20, pulang jam 5.10 nyampai rumah jam 7.20.. gimana ga pegal..

Saya justru merasa kasian dengan mereka yang terpaksa harus bawa mobil karena tuntutan pekerjaan. Pekerjaan yang mobile dan harus tetap fresh mau-tidak-mau harus memaksa mereka untuk berada dibelakang kemudi. Ketika kemaren berangkat dari rumah jam 5.20 karena harus mampir dulu ke empu yang punya mobil **maklum pinjaman 🙂 ** , saya kira jalanan bakal sepi. Ternyata di jalan serpong raya jalur telah rame seperti siang, ga macet siy tapi rame lancaar. Begitu juga ketika memasuki tol dan kawasan karawaci, mobil pribadi rame berseliweran. Saya ga kebayang mereka bangun sepagi itu untuk ke kantor. Saya yang pakai motor atau sepeda aja, jam 5.20 itu  jadwalnya melanjutkan tidur, sementara mereka udah berjibaku menghadapi traffic dipagi buta.

Belum lagi ketika memasuki tol kebun jeruk arah tomang, jalanan nyaris stack ga bergerak. Menatap orang-orang sekeliling, saya membayangkan kehidupan mereka sehari-hari. Begini ternyata, duduk dibalik mobil mewah-atau-biasa ga jaminan mereka lebih enak daripada saya dan teman-teman lainnya yang suka salip kanan-kiri berpanas-panasan di motor **jangan bandingankan dengan sepedaa, ga sebanding… sepeda enaak bangett, cuma butuh tenaga ekstra… 🙂 **

Disana rasa syukur dalam hati terucap.. Allah masih memberi saya pilihan pekerjaan, tempat kerja, jarak rumah, dan moda transportasi yang banyak pilihan. Bersepeda masih bisa sejam-10-menit, dengan motor 50menit-1jam an, akh… kadang kita suka tergoda melihat sekeliling, serasa mereka lebih baik, lebih enak.. ternyata setelah dialami sendiri, tidak selalu apa yang terlihat lebih baik dari yang dibayangkan..

Tiba-tiba angan juga melayang ke pekerjaan, membayangkan teman-teman diluar atau boss boss di kantor yang berpenghasilan jauh lebih besar tapi mereka harus mengorbankan kebanyakan waktunya untuk keluarga, untuk istirahat demi tuntutan tanggung jawab yang juga lebih besar. Penghasilan yang menggiurkan kadang menuntut pengorbanan yang juga tidak kecil. Hah, kembali saya bersyukur, penghasilan yang alhamdulillah sedikit lebih dari pas-pas-an ini ternyata bisa saya nikmati tanpa mengorbankan apapun (apalagi mengorbankan orang lain dan keyakinan, jangan sampai yaa Allah.. 😥 ), plus bisa sedikit berbagi.  Alhamdulillah.. semoga Allah selalu memberikan apapun yang membuat kita selalu bersyukur.. semoga… 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s