Ditepi sungai Piedra – sebuah Prolog

Di tepi Sungai Piedra aku duduk dan menangis. Ada legenda bahwa segala sesuatu yang jatuh ke sungai ini –dedaunan, serangga, bulu burung– akan berubah menjadi batu yang membentuk dasar sungai. Kalau saja aku dapat mengeluarkan hatiku dan melemparkannya ke arus, maka kepedihan dan rinduku  akan berakhir, dan akhirnya aku pun melupakan semuanya.

Di tepi Sungai Piedra aku duduk dan menangis. Udara musim dingin membuat air mata yang mengalir di pipiku terasa dingin, dan air mataku menetes ke air sungai dingin yang mengelegak melewatiku. Di suatu tempat entah dimana, sungai ini akan bertemu sungai lain, lalu yang lain lagi, hingga –jauh dari hati dan pandanganku– semuanya menyatu dengan lautan.

Semoga air mataku mengalir sejauh-jauhnya, agar kekasihku tak pernah tahu bahwa suatu hari aku pernah menangis untuknya. Semoga air mataku mengalir sejauh-jauhnya, agar aku dapat melupakan Sungai Piedra, biara, gereja di Pegunungan Pyrenee, kabut, dan jalan-jalan yang kami lalui bersama.

Aku akan melupakan jalan-jalan, pegunungan, dan padang-padang mimpi-mimpiku –mimpi-mimpi yang takkan pernah menjadi kenyataan.

Aku ingat “saat magis”-ku –saat ketika sebuah “ya’ atau “tidak” dapat mengubah hidup seseorang untuk selamanya. Rasanya sudah lama sekali. Sulit dipercaya baru mingu lalu aku menemukan cintaku lagi, dan kemudian kehilangan dirinya.

Aku menulis kisah ini di tepi Sungai Piedra. Tanganku terasa beku, kakiku mati rasa, dan setiap menit aku ingin berhenti.

“Hiduplah. mengenang hanya untuk orang-orang tua,” ia berkata.

Mungkin cinta membuat kita menua sebelum waktunya –atau menjadi muda, jika masa muda telah lewat. Namun mana mungkin aku tidak mengenang saat-saat itu? Itulah sebabnya aku menulis–mencoba mengubah getir menjadi rindu, sepi menjadi kenangan. Sehingga ketika aku selesai menceritakan kisah ini pada diriku sendiri, aku bisa melemparkannya ke Piedra. Itulah yang dikatakan wanita yang memberiku tempat menginap. Ketika itulah–seperti kata satu orang kudus–air sungai akan memadamkan apa yang telah ditulis oleh lidah api.

Semua kisah cinta tiada berbeda.

============

sepertinya buku yang bagus, ga sengaja ketemu di kursi depan pintu, masih di plastik, sepertinya baru dibeli adik. Judulnya Di tepi Sungai Piedra Aku duduk dan Menangis karya Paulo Coelho. Prolognya sepertinya sedih, tapi kalau baca akhir tulisan di sampul belakang sepertinya happy ending –jadi teringat Harry di film When Harry meet Sally yang suka baca buku awal dan langsung loncat ke akhir buku, yang katanya seandainya dia meninggal ketika sedang membaca buku itu, dia udah tau akhir ceritanya 😀

lanjutin membaca.. 😀

Iklan

3 thoughts on “Ditepi sungai Piedra – sebuah Prolog

  1. yang menarik bagi bundo menjelang akhir cerita ada sebuah perumpamaan yang sangat sesuai dengan kisah cinta mereka..

    tentang sepasang kekasih yang bertunangan [hal 120] dan saling membelikan hadiah.. **baca ndiri yaa..

    uuhhh.., gemes! Paulo Coelho jago sekali mencari perumpamaan yang benar2 pas.. **bagi bundo itulah intinya, hahhhaa 😛

  2. tadinya saya bertekat menamatkan buku ini dalam satu malam, tapi deretan film di tv sangat menggoda mata, khususnya 27 Dresses, akhirnya sampai detik ini saya masih berkutat di halaman 48 😦

    meski begitu saya coba melompat ke perumpamaan halaman 210 seperti comment bundo diatas, daaann hmm.. sepertinya memang perumpamaan yang benar2 pas hehe 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s