simpati..

Barusan sekilas mampir ke Kompas ePaper, sekedar liat headline hari ini. Di salah satu halaman lagi-lagi terlihat masalah OMNI. Rumah sakit yang harus menelan pil pahit ditinggal pasiennya akibat kearoganannya.

Terlepas dari semua itu, sudah saatnya orang-orang berhenti menelanjangi, ada saatnya berkata CUKUP, mereka telah mendapatkan pelajaran berarti, tanparan atas kearoganannya. Cukup sudah, tidak perlu lagi ada penggalangan dukungan ‘say no to OMNI’, tidakkah sadar ada berapa ratus kepala yang bekerja disitu, tidak terbayang berapa ratus atau mungkin ribu kepala lainnya yang makan dari sana.

Saya jadi teringat ketika beberapa hari yang lalu berpisah dengan teman didepan rumah sakit itu, untuk melanjutkan perjalanan pulang saya harus mencari ojek untuk tumpangan, dan di depan RS itu saya ketemu seorang bapak yang lagi duduk-duduk dimotornya, berjaket yang saya kira tukang ojek. Saya tanya, ternyata tidak, si bapak menjawab ‘ga nak, ini lagi nunggu bocah (pulang kerja)’. Si bapak yang berusia sekitar 60-tahunan menunggu anaknya yang habis dinas sekitar jam 10-malam-an. Dalam perjalanan pulang dengan ojak, saya bertanya apa tukang ojek tidak boleh mangkal di depan RS itu, dan tukang ojek bercerita banyak tentang rumah sakit itu terkait dengan kasus yang menimpanya. Saya hanya tanggapi he-eh, iya, karena jauh didalam fikiran, angan saya melayang membayangkan obrolan-obrolan yang mungkin terlontar ketika si bapak tadi dan anaknya dalam perjalanan pulang. Seperti biasa mungkin anaknya akan bercerita ini dan itu, mungkin banyak cerita, banyak ketawa, angan-angan dan diam dalam perjalanan pulang yang telah mereka lalui selama ini.

apakah cerita itu tidak akan ada lagi.. yang tersisa hanya diam 😦

Iklan

One thought on “simpati..

  1. rein belajar melihat juga om.. bahwa kita harus bisa langsung lihat jiwa-jiwa yang berada disana, jangan lihat omni nya..

    spt juga heli jatuh kmrn, rein sedih bgt itu dijadikan olok2.. tak kah lihat jiwa2 yg bersedih ditinggal suami, ayah..?

    bahkan bagi rein, yahudi pun tak berhak untuk kita benci..
    bila begini terus, hari akan habis untuk olok-olok dan hati akan dipenuhi benci 😦

    benci.. pekerjaan siapakah itu..??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s