65

Kadang-kadang terasa, haiku menunjukkan sikap ethis yang sederhana: ia menerima hal-ikhwal seakan-akan dengan polos:

betapa enggan
lebah lepas dari tubir
kuntum peoni

Kalimat-kalimat itu ringkas, seperti tak selesai. Dunia seakan-akan diserahkan dan dibebaskan. Saya membayangkan haiku sebagai sepotong adegan yang ditangkap sebuah kamera yang pasif. Sang penyair hadir, tapi bukan sesosok aku yang mengarahkan kehendak dan kuasanya.

Dengan kata lain, haiku adalah momen intensi ketika berpadu dengan intuisi -momen ketika aku terberi dan dunia memberi, momen Gegebenheit dalam fenomenologi Husserl.

Tapi kepolosan itu bisa mengecoh kita. Saya bayangkan Basho, penyair Jepang abad ke 17 itu, berjalan di tepi sebuah danau pada suatu pagi yang berkabut: sejak ia menatap lanskap itu, ia telah memasang kerangka. Intensi mengarahkan yang diterima intuisi: lebah, kuntum peoni, bunyi “plung!” ketika katak masuk ke kolam, bulan yang merayap …

Intensi memang bisa lebih dominan, dan dalam haikunya, Basho tak hanya merekam lanskap yang muncul dalam kesadarannya. Ia juga memasang padanan baris, ia menghitung suku kata. Bahkan kadang-kadang terasa ia menyarankan makna frasa ringkas itu kepada kita.

Tapi haiku jadi berarti bukan karena kepiawaian membentuk. Kuntum peoni dan warnanya, kumbang dan getarnya, tapi menakjubkan (dan sebab itu haiku ditulis) justru karena didalamnya ada bayang-bayang, ada gema, dari yang beda dan tak terduga-duga dan sebab itu mempesona. Bahkan dalam sebuah kanvas Matisse, bahkan dalam permukaan yang apik dan manis itu, ada yang goyah dan mengejutkan, ada yang melepaskan atau terlepas dari bentuk, ada yang tak bisa diukur dan tak bisa dirumuskan dalam konsep.

Mungkin inilah yang ingin diingatkan Jean-Luc Marion ketika ia berbicara tentang Les Phenomenes satures, “fenomena yang dilimpahi.” Ia hendak menyebut kejadian yang kita lihat dalam kanvas itu sebagai “ke-terberi-an,” Gegebenheit, yang istimewa: saat pelimpahan sesuatu yang turah, tak tertampung dan tak terarahkan oleh intensi kita –sesuatu yang tak terhingga.

Marion, seorang Katolik yang percaya akan cinta dan karunia, adalah seorang yang bersyukur. Tapi ada saat bersyukur, ada saat mendamba. Ada saat ketika kita memandang sebuah coretan Rusli, mendengarkan sebentuk musik John Cage, membaca sepotong haiku, dan merasakan masing-masing justru sebagai sepatah bisik dalam suwung–bisik yang memanggil yang tak hadir. Tiap barisnya langkah malu-malu dan lemah yang mencoba mendekati yang kekal, yang indah, yang mutlak–sementara merasa bahwa yang didekati tak ada di sana.

Angin musim gugur
huruf satu-satu muncul
di nisan yang basah

Dan selebihnya sepi. jangan-jangan haiku hidup, sedikit bahagia, sedikit sayu, dalam pergerakan menanda yang berbeda-beda, di kancah permainan bunyi dan imaji yang tak pernah selesai–seraya menunggu, menunggu …

(Goenawan Mohamad dalam Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai essai 65)

Iklan

One thought on “65

  1. sebuah tulisan dari yang lagi melow..haiiks šŸ˜€

    **sengaja ditulis terpisah dari body posting agar tidak merusak indahnya lantunan kata GM.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s