sicindai..

…………..

Ia berdiri di tepi sungai, mengisi lubang-lubang di lumpur dengan air jernih, yang mungkin terbentuk dari unsur lain dari materi cokelat kekuning-kuningan dan berbintik-bintik, tampak keras seperti aspal, mengalir dari kanal ke kanal. Ia ke depan. Tak dilepasnya sepatu. Air sangat dingin, namun ia masih sanggup menahan. Ia berhenti sejenak, berdiri dalam air dingin sampai lutut. Di benaknya terlintas Leonard. Dia memikirkan tenaga dan jenggot Leonard, serta garis-garis wajahnya di sekitar mulutnya. Terlintas pula Vanessa, anak-anakna, Via dan Ethel: Banyak sekali. mereka semua telah gagal, bukan? Mendadak ia merasa amat kasihan pada mereka. Ia membayangkan berbalik, mengeluarkan batu dari saku, lalu pulang. Mungkin ia bisa pulang dan sempat merobek surat-surat tadi. ia bisa terus hidup; ia bisa melakukan kebaikan terakhir. Masih berdiri sedalam lutut di aliran air sungai, ia memutuskan menolak pilihan tersebut. Suara-suara ada di sini, sakit kepala menyerangnya lagi, dan jika menyerahkan diri kembali kepada Leonard dan Vanessa, mereka tak akan membiarkannya pergi lagi, ya ‘kan? Ia bersikeras dibiarkan pergi. Ia berjalan canggung menentang arus (dasar sungai sangat berlumpur) hingga air mencapai pinggang. ia melihat ke arah hulu sungai, tempat nelayan berada. nelayan itu berjaket merah, dan tidak melihatnya. permukaan kuning sungai (lebih mendekati kuning daripada cokelat jika dilihat dari dekat) samar-samar merekfleksikan langit. Maka di sinilah momen terakhir dari persepsi sejati, seorang pria berjaket merah memancing ikan dan langit berawan terpantul di air kusam. Hampir terpaksa (terasa dipaksakan baginya) ia melangkah atau tersendung ke depan, dan bebatuan itu menyeretnya. Sesaat, semua terkesan sepele; terkesan seperti kegagalan biasa; hanya air dingin yang bisa dengan mudah ia renangi; tapi segera seketika arus melilit tubuhnya, bagai pria kekar baru bangkit dari dasar sungai dan sekuat tenaga menarik kakinya, lalu menahannya dalam pelukan. Terasa sangat pribadi.

….

dikutip dari prolog The Hours

Iklan

One thought on “sicindai..

  1. moment terakhirkah ini..?!!
    aku tersedak, tanganku menggapai-gapai

    tak pernah mungkin ku bisa hadapi ini
    kehilanganmu..
    aku tak mau.., tak mungkin bisa
    kehilanganmu..

    hmm…
    mungkin hanya air dingin, yang mudah
    untuk kurenungi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s