Dari nasgor hingga penyelamatan bumi ^^

Hah… connect..!

Agak surprise liat si IM2 bisa connect, biasanya kalau sekali-dua dicoba ga bisa connect-connect alamat bakal ga connect 1-2 jam kedepan, ee tumben-tumbennya dicoba berkali-kali akhirnya connect juga, dan cepat lagi.

Hmm, ini tulisan singkat aja berhubung perut sudah teriak-teriak minta di isi. Kehilangan ide mau makan atau masak apa ketika barusan mau berangkat shalat isya, ee pulang shalat ketika melewati taman di depan komplek liat gerobak nasi goreng, tiba-tiba timbul semangat untuk coba bikin nasi goreng.. sendiri..! berhubung nasi di dalam rice cooker masih ada, yaa udah coba di utilize, hmm moga-moga sukses. Kangen merasakan nasi goreng buatan sendiri yang biasanya cuma merupakan adonan dari bawang yang digoreng, trus dicampur cabe, sampai aroma senga nya cabe hilang, trus di ceplokin telur.. aduk-aduk… udah deh tinggal masukin nasi… aduk sampai rata daaan… tunggu sampai panas, tentu jangan lupa kasih garam dan kecilin api nya biar panasnya merata dan tidak gosong. Haah, sepertinya sudah cukup ingat.

Barusan juga balik dari masjid mampir ke mini market buat beli perlengkapan mandi buat persiapan untuk kembali gowes besok melengkapi kekurangan perlengkapan ketika gowes senin kemaren. Trus terang, pengalaman gowes senin kemaren cukup berkesan, secara itu pertama kali coba bersepeda sampai kantor. Liat di odometer ketika sampai kantor adalah 28 km, ga tau itu jarak akumulasi dengan perjalanan hari sebelumnya yang sekitar 6 km, yaa kalau bersihnya mungkin 22 km.

Lumayan, lumayan segar sampai dikantor, ga begitu kelelahan. Berangkat dari rumah ketika jam menunjukkan pukul 5.40. Tadinya saya kira bakal telat banget, karena ketika bersepeda dari toko sepeda di Serpong ke rumah waktu itu kecepatan rata-rata 12 km/jam. Kalau itung-itung jarak kantor 24 km, berarti saya butuh waktu 2 jam buat sampai di kantor alias sampai jam 7.40 secara kantor masuknya jam setengah 8. Hmm, dalam hati, alamat bakal telat. Tapi bismillah aja.. dan mulai mengayuh. Baru beberapa ratus meter dari rumah, napas dah mulai terasa ngos-ngosan.. waduuh, sempat berpikir buat balik ke rumah, sebelum terlambat.. kalau udah di perjalanan, tidak ada jalan kembali, dorong sepeda, hmm ampun.. Tapi, go..go..go boy.. teriak dalam hati. Dan berangsur-angsur menjauh dari komplek.

Teorinya, saya harus mengayuh konstan, jadi di odometer ada candence untuk mengukur kecepatan kayuhan. Berpatokan dari itu, saya coba bertahan diatas 70 kayuhan per menit (70 rpm..  jauh banget yaaa dibanding rpm mobil yang bisa sampai 8 ribu rpm 😀 ). Dengan berpedoman pada konstan kecepatan kayuhan saya harus memainkan gigi untuk mengimbangi agar kayuhan tidak terlalu berat ketika menanjak. Dan, alhamdulillah, cara ini ampuh.

Komplek graha raya berhasil saya lewati, dalam hati berkata ‘itu baru 4 km, masih ada 20 km lagi didepan’. Tarikan napas telah menemui ritme nya kembali ke tarikan normal tidak lagi ngos-ngosan. Tubuh telah menyesuaikan diri. Kini tinggal indurance, daya tahannya yang bakal diuji. Dengan yakin masuk ke keramaian jalan celedug raya. Meski masih jam 6 kurang, tapi jalanan sudah rame meski belum macet. Dengan yakin saya melibas jalan ciledug raya, menghindari underpass karena akan menguras tenaga ketika keluar dari underpass yang mendaki tajam, saya memilih jalur atas meski ketemu lampu merah. Lepas dari Pasar ciledug, jalanan semakin rame oleh bus, mentromini dan angkot. Berhubung mindset otak masih motor, saya coba menyalip satu-per satu dari sisi kanan, dan tidak jauh dari pasar celedug sebuah angkok berhenti agak ketengah persis didepan putaran. Tanpa ragu saya menyalip angkok tersebut, dan bruggg… ban belakang seperti slip terdorong dari belakang. Dalam hati, ‘mati gw, ketabrak motor dari belakang’. Dan tau sendiri kalau sepeda yang sangat ringan dibanding motor kedorong tenaga motor dari belakang pasti akan terdorong sangat kuat. Ditengah kepasrahan itu saya mendengar suara ‘pragg..’ di belakang, dan sekilas dari sudut mata saya melihat sebuah sepeda motor merah jatuh tergolek dibelakang sementara sepeda masih bisa dikendalikan dan melaju normal kedepan. Tidak jauh, saya menepi, melihat kebelakang. Si pengendara motor kembali berdiri, dari jarak 10 meteran saya liat dia sehat wal’afiat, motorpun masih mulus. Saya tungguin, dan dia menyusul. Saya perhatiin lebih detil ga ada satupun lecet di tangan atau kakinya. Motorpun, hanya ada sedikit goresan di cup depan. Alhamdulillah kata saya dalam hati, saya maupun dia tidak terluka. Di kursi belakang saya lihat tergantung tas dagangan. Sepertinya pedagang yang baru balik dari pasar celedug beli barang dagangan. Saya sempat ngobrol sebentar nanya keadaannya, setelah saya yakin dia OK. Saya pun melanjutkan perjalanan.

Sejak itu, saya lebih hati-hati, dan menghindari menyalip dari kanan, untuk menghindari kejadian serupa, karena secara sepeda dengan motor kecepatan menyalipnya berbeda, sehingga itu yang membuat si mas pengendara motor tadi tidak bisa mengendalikan motornya ketika dia ikutan menyalip bareng-bareng saya sehingga dia harus ngerem mendadak dan oleng ga bisa mengendalikan motornya.

Perjalanan kemudian berbelok ke jalan joglo. Jalan kecil yang berbelok-belok. Karena merupakan jalur yang sama dengan jalur ketika bermotor, sehingga saya cukup hapal titik-titik macet, belokan maupun pertigaan dimana motor atau mobil biasa muncul. Alhamdulillah, dengan cukup lancar saya menembus jalur joglo dan keluar joglo raya. jalanan besar dengan kontur mendaki dan menurun tajam. Benar-benar dituntut kesiapan fisik, dan alhamdulillah dengan strategi harus mengayuh konstan walau lambat, saya terpaksa bermain gigi bahkan sampai ke gigi 2-3 untuk mempertahankan kayuhan padahal dalam kondisi jalanan datar bisa dilibas di gigi 6-7.

Akhirnya bisa keluar pos pengumben. Dalam hati berteriak, alhamdulillah, tinggal 5 km lagi ke kantor. Cuma sekarang tantangan tidak kalah menantang, jalan raya yang padat mobilnya. Dan ketika sampai di lampu merah patal senayan, otak mulai memikirkan untuk jalur ke kantor, apakah di TVRI naik ke fly over taman ria resikonya saya harus berada ditengah kerumunan mobil-mobil dan motor yang melaju kencang hingga 70-80 km/jam, atau ngambil jalur bawah fly over kemudian menyeberang menggunakan jembatan penyeberangan didepan Farmasi. Yang ini lebih aman tapi agak bete aja harus menuntun sepeda mendaki jembatan penyeberangan.

Lampu hijau patal senayan mulai menyala dan perjalanan dilanjutkan. Ketika melewati TVRI sesuai perkiraan jalur lurus itu seperti berubah menjadi jalan bebas hambatan, semua melaju sangat kencang. Saya memilih berada di pinggir kiri **tau diri 😀 **. Sesaat sebelum tanjakan flyover taman ria saya menengok ke belakang, dan woow, kosong, saya langsung menyeberang dan mengambil jalur fly over. Akhh, tanjakannya gile beneeerr,, saya harus turun sampai gigi 1 untuk tetap bertahan. Hampir menyerah untuk turun dari sepeda dan menuntun saking tingginya, tapi alhamdulillah berhasil juga sampai atas tanpa harus menuntun sepeda. Udaah, langsung pelan-pelan naik ke gigi tinggi dan mulai mengayuh untuk kemudian melepaskannya melaju sendiri di turunan menuju benhil.

Beberapa saat kemudian, masuk area kantor. Satpam dengan ramah mempersilahkan saya mengambil jalur pejalan kaki. Sempat coba naik ke parkiran lantai 2, karena menurut gosip, di parkiran BRI ada parkir khusus sepeda di lantai 2. Setelah sampai lantai 2, tanya satpam ternyata tidak ada. udaah, sepeda mengarah ke lift barang gedung kantor dan akhirnya parkir di depan lift lantai 3 kantor. Buka odometer dan liat waktu, wow… 1 jam 13 menit, dan liat jam kantor masih kurang dari jam 7. Haah, saya bisa save 50 menit. Alhamdulillah.

fluh.. segarnya sampai kantor, meski agak pegel-pegel tapi badan serasa segar apalagi setelah coba mandi. Teman-teman pada exciting menyaksikan saya berhasil bersepeda sampai kantor, secara itu sepeda baru dibeli sabtu sore, dan senin langsung di jejal sampai kantor. Hari itu bahkan sampai tadi siang masih ada saja teman yang berpapasan bertanya masalah apakah benar saya bersepeda dari graha sampai sudirman, bahkan boss pun sempat coba menaiki sepeda yang terparkir dibelakang dekat rest room. Dan beberapa dari teman cukup tertarik untuk mencoba. Senang, –bukan bangga– senang karena ternyata itu memberi dampak positif, teman-teman jadi tertarik dan tertantang untuk juga mencoba bersepada ke kantor. Terbayang kalau beberapa dari mereka benar-benar mewujudkannya, dan itu bisa jadi efek berantai dan semakin banyak orang yang mencoba bersepeda. Dan tentu walau tidak besar, yang penting telah berpartisipasi untuk menjaga bumi dari polusi dan menghemat energi.

Dampak positif lainnya, saya bawaannya lapaar mulu. Haah, moga-moga itu pertanda baik agar berat badannya bertambah.

Dah akh, kepanjangan.. tadinya mau pendek doang. Jadwal malam ini masih banyak, masak nasi goreng, cuci pakaian, dan coba tidur cepat biar besok berangkat segar. Do’ain yaaa.. 😀

gutnite, have a nice dream 😀

Iklan

2 thoughts on “Dari nasgor hingga penyelamatan bumi ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s