KD

Kami bekerja sehari-hari.
Untuk belanja rumah sendiri.
Walaupun hidup seribu tahun.
Kalau tak sembahyang apa gunanya.

Kami sembahyang fardhu, sembahyang sunatpun ada.
Supaya Allah menjadi sayang.
Kami bekerja hatilah riang.

Kami sembahyang limalah waktu.
Siang dan malam sudahlah tentu.
Hidup di kubur yatim piatu.
Tinggal seorang dipukul dipalu.

Tiba-tiba terngiang lirik lagu nasyid diatas ketika melepas kepergian teman, kakak, guru yang baik di kantor tadi siang sungguh dengan hati lapang. Ketika semua orang bersimpuh dihadapan mayat yang terbujur berselimut kafan, berbagai do’a mereka ucapkan, saya hanya terdiam menatap lama muka yang bersih dan tenang itu, kepergiannya dengan wajah seperti itu membuat saya kagum dan senang. Sepanjanga hayat beliau, tidak pernah saya menemukan wajahnya sesegar tadi siang, kesegaran yang justru terpancar ketika beliau telah terbujur kaku.

Dalam hati saya sangat bersyukur, beliau dijemput dalam keadaan sebaik-baiknya hamba menghadap Tuhannya. Yaa Allah, semoga pancaran itu adalah pancaran kasih-Mu.

Selamat jalan kang, tugasmu di bumi Allah ini telah engkau jalankan dengan sangat baik. Sungguh semua kebaikan, bantuan dan contoh yang engkau berikan buat kami yang tinggal adalah pahala yang akan selalu akang terima di alam barzah sana.

–in memories : Kang Deni Hardeni–

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s