Sang bayi

Rebahan di tempat tidur sambil memainkan tut qwerty E61 yang ada ditangan, apalagi kalau ga go-blog dan fesbuk an. Dibalik jendela terlihat cuaca sangat cerah, hmm udah bisa dipastikan siang ini bakal sangat panas. Barusan kebangun gara-gara si Boss sms kalau ada permasalahan di pameran senci. Barusan ngusulin agar teman yang rumahnya dekat yang datang buat gantiin, ga kebayang panas-panas dari rumah ke sana.

Diluar kedengaran si mbak udah sibuk di dapur bersih-bersih dan cuci piring. Setelah 2 bulan mengelola rumah sendiri, akhirnya nyerah juga. Terlihat makin lama rumah makin ga terurus, belum lagi pakaian yang habis di cuci menumpuk di keranjang menunggu di setrika. Akhirnya 2 minggu yang lalu kita putuskan buat cari bibi buat bantu-bantu, dan alhamdulillah, dapat yang sepertinya rapi, cekatatn dan jujur, meski dalam 2 minggu udah ganti 3 bibi hanya karena alasan rekomendasi-rekomendasian sesama mereke, awalnya si mbak A, trus dengan alasan tertentu dia mengundurkan diri, merekomendasikan temannya si mbak B, trus dalam 1 minggu merekomensikan lagi temannya si mbak C. Kita disini cuma bilang ‘yaa..yaa..’ terserah sambil tersenyum membayangkan.. Bagi saya adanya si mbak bukan cuma buat bantu-bantu di rumah, tapi setelah mendengar ceritanya bahwa jadi pembantu buat nambah-nambah buat beli susu anaknya yang masih bayi, di otak langsung kebayang, waa sepertinya bisa jadi celengan akhirat, celengan hidup, bisa buat tempat buat bantu-bantu kalau saya punya sedikit rejeki untuk dibagi, semoga.

Ingat anak saya jadi ingat kejadian kemaren ketika duduk disamping teman yang lagi hamil. Tiba-tiba saja teman itu menunjuk ke perutnya dan terlihat dengan jelas perut itu bergerak-gerak. Terus terang saya sangat terkesan dengan pemandangan itu. Subhanallah, ada makhluk hidup, bakal manusia baru didalam sana. Itu kali pertama saya melihat pemandangan seperti itu meski sering dengar cerita tentang calon bayi yang suka bergerak, sungguh indah membayangkan kebesaran Allah akan satu itu. Dilain sisi, kebayang ikatan yang begitu erat antara sang bayi dengan ibunya, sungguh tidak terbayang kalau setelah lahir sang anak berani membuat sedih ibunya. Hmmm belum lagi bagaimana sang ibu membesarkan dan mendidiknya. Belum lama ini saya berkunjung ke rumah old bro dari teman yang istrinya habis melahirkan. Saya sangat terpesona menyaksikan jari-jari mungil sang bayi, jari-jari mungil yang biasa saya lihat pada boneka baby, kini hidup dan bergerak, sungguh menawan.

Semoga saja bayi dan calon-calon bayi itu kelak jadi anak shaleh dan membahagiakan orang tuanya, karena 2 hal itulah yang menyebabkan dia ada, kebesaran Allah dan ibu yang merawatnya dari dalam kandungan hingga dewasa.

Semoga semua, calon ibu bisa mengalami indahnya moment-moment itu, dan menyaksikan kebesaran-Nya, semoga.. 🙂

Iklan

4 thoughts on “Sang bayi

  1. uuuhhh.., sangat menyentuh
    seorang ibu.. memang indah, surga yang tampak
    seorang anak.. adalah anak panah yang siap melesat
    generasi penerus.. semoga menjadi generasi emas.. amiin

    note:
    2 bibi yang kemarin tampaknya ingin berbagi kebahagiaan kpd bibi ke 3.. agar merasakan senangnya mengurus anak bujang yang cool ini **serius, bukan drama**
    😀 , 😀 , 😀

  2. Memang berbeda sekali antara belum/tidak memiliki bayi dengan sudah memiliki bayi…paradigma berpikir dan bertindak kita akan jauh berbeda…Ga’ percaya ? silakan jalani saja atau tanya sama yg berpengalaman…;-)

  3. huh..
    kebayang si om, tapi kebayang doang 🙂

    tapi ga ada salahnya si Om bercerita buat kita-kita, untuk menggugah yang muda2 biar buruan..

    buruan kemana… ada yang ngejar.. ??!! 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s