Tari

Nulis cepaaatt…

Berhubung dah mau magrib tulisan ini harus ditulis cepat, anggap aja kejar tayang πŸ™‚

Ceritanya kemarin saya ketemu seorang partner kantor. Seperti halnya pertemanan dengan teman-teman partner kantor lainnya, biasanya setiap ketemu ngomongin bisnisnya ga lebih dari 1%, sisanya ngobrol ngalor-ngidul, kemana-mana. Begitu juga kemaren, awalnya ketemuan di lobby atas, setelah setengah jam ngobrol ternyata ga cukup, akhirnya obrolan berlanjut ke warung kopi di bawah.

Tanpa terasa, kita ngobrol panjaaang banget.. Tau-tau waktu sudah menunjukkan jam 5 sore. Karena kebelet ke belakang gara-gara kebanyakan minum **padahal cuma secangkir kecil expresso πŸ™‚ ** obrolan pun terpaksa diakhiri. Satu saya yang ga nyangka bahwa kita bisa ngobrol sepanjang itu. Themanya macem-macem. Senang punya teman yang bisa diajak ngobrol banyak hal mulai bisnis berkaitan dengan kerjaan kantor, pengalaman-pengalaman harian, pandangan hidup sampai hal-hal ringan seperti film, wine, kalkum **berhubung berbeda keyakinan, saya bisa nanya hal-hal yang saya tidak ketahui karena adanya larangan, hanya pengen tau πŸ™‚ ** . Dari ngobrolin film akhirnya obrolan mengarah ke masalah tarian yang ternyata teman satu ini jago nari. Saking jagonya, dia pernah ikut nari didepan alm ibu Tien Soeharto dalam satu event seminar anggrek dunia *kalau ga salah** dan sempat berlatih dengan Hari Tulang ketika akan tampil di Munas PDi waktu PDI masih dijaman represif Soeharto, . Satu yang disayangkan dia ga kenal Boy G Sakti, kareografer muda dan paling bersinar saat ini untuk tarian kontemporer.

Hah, akhirnya menemukan teman yang nanti-nanti mungkin bisa diajak buat liat pagelaran tari khususnya kontemporer. Saya sendiri ga suka nari tapi sangat appreciate sama mereka yang jago tari. Tari merupakan suatu product dari orang-orang kreatif dalam hal olah tubuh yang tidak kalah kreatifnya dengan para seniman musik, lukis atau para fotografer.

So, kalau ada info pagelaran tari, kabar-kabari yaa.

Ada satu lagi yang cukup menarik dari pembicaraan kemaren adalah masalah laki-laki.. Beberapa kali saya dengar dari mulut teman yang satu ini kata-kata ‘mana ada si laki-laki yang kayak gitu skarang..’ ketika saya cerita kisah seorang suami yang baik, atau dulu pernah terucap ‘wajarlah.. Skarang bukan cuma ce yang matre, co juga matre..’ dan ucapan sejenis. Saya jadi penasaran, apa lingkungan yang membawa dia punya penilaian seperti itu terhadap co, atau ada trauma masa lalu.. Hmmm ..

dah akh, magriiiibbb…

cq

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s