Yang tercecer dari JJ5 ..part1

Perjalanan pulang kali ini amat sangat melelahkan. Ga tau kenapa, ngantuk banget. Sempat menepi sebentar buka helm dan tidur dengan menaruh kepala ke atas tangan yang dilipat diatas spedomenter, tertidur sekian detik. Merasa sudah segar kembali perjalanan dilanjutkan, tapi ternyata tidak bertahan lama. Rasa ngantuk kembali menggantung dimata. Konsentrasi bermotor benar-benar buyar. Ketika memasuki gerbang utama komplek yang berjarak 4 km dari rumah, saya merasa sempat melayang.. tertidur sejenak dalam motor masih melaju. Berusaha menahan kantuk, dan itu terbantu dengan medan yang berbelok-belok. Sekitar 2 km dari rumah, jalanan kembali nyaris lurus dan hanya terhadang oleh polisi tidur untuk memaksa setiap pengendara mengurangi kecepatannya… daaann akh, beberapa kali saya sempat melayang.. ketiduran dan ketiduran.. ukkhhh sadis banget. Saya jadi teringat cerita nenek tentang supir antar kota. Saking seringnya melewati jalur yang sama, dia terbiasa tidur dari satu tikungan ke tikungan yang lain. Sayapun merasa demikian, suka tertidur dari satu polisi tidur dan terbangun kembali ketika sampai ke polisi tidur berikutnya.. akh, tetap mengerikan…

Ingat ngantuk dijalan, saya teringat pulang nonton java jazz kemaren. Akhirnya saya berhasil nonton dengan tiket dibeli dari calo dengan harga cukup menarik. Memasuki JCC jam 5 teng, persis ketika akan dimulai live performance dari Peabo Bryson. Beberapa lagu hits berkumandang, Tonight I celebrate my love, why goodbye, Can’t stop the rain, a whole new world mengalir tanpa disadari. Penonton -termasuk saya- larut dalam kebeningan suara Peabo Bryson.

Selesai Peabo Bryson waktu magrib menjelang. Magrib, kemudian berlanjut ke pagelaran berikutnya. Adik memilih nonton Tompi, sementara saya masih memilih-milih artis yang akan di tonton. Pengalaman tahun yang lalu, saya memilih ke Excebition Hall B yang agak terpisah dari ruang-ruang lain di JCC sehingga sering terlewat sama penonton lain. Dan di tahun yang lalu juga, ruang itu jadi stage untuk Evert Harp dan Lee Ritenour tampil. Hall yang sangat luas tersebut ternyata sangat beda dengan suasana di ruang lain. Ketika di ruang lain ribuan orang berdesak-desakan, di Hall A para penonton bisa duduk di lantai sambil selonjor. Beberapa malah rebahan. Saya memilih duduk agak menjarak dari panggung agar view ke panggung dapat dinikmati sambil duduk di lantai. Sekitar 1 meter dari saya duduk seorang ce yang sedang asik mengobrol dengan seorang teman wanita dan seorang teman pria lainnya. Beberapa senti dari kaki ce tersebut saya melihat seperti uang kertas terlipat rapi. Saya mengamati, dan ternyata benar, dan samar-samar saya menangkap sepertinya uang itu bernilai 1000 atau 50.000. Karena ruangan gelap, saya tidak dapat melihat dengan jelas.

Penasaran, saya tungguin itu uang, sempat lewat cleaning service ruang tersebut, mencoba memunguti sampah yang berserakan. Dalam hati saya berharap si CS melewatkan lipatan uang tersebut, dan benar. Hampir 15 menit saya menunggu, berharap si ce dan gerombolannya meninggalkan tempat. Dan benar, beberapa saat kemudian beberapa temannya dari arah panggung menghampiri, melihat teman-temannya mengarah ke arah dimana duit itu berada, sambil berpura-pura memotret saya memiringkan tubuh ke arah dimana duit itu berada. Menyadari itu, teman-teman si ce itu minggir, karena merasa menghalangi sambil minta maaf. Saya hanya tersenyum dan bilang ‘gpp’ karena memang bukan motret itu yang saya tuju. Selang satu menit, rombongan itupun pergi meninggalkan saya sendiri dan sang lipatan kertas. Masih berpura-pura hendak memotret saya menggeser duduk, hingga menduduki uang tersebut, dan tetap dalam posisi kamera mengarah ke panggung. Setelah saya rasa tidak cukup kentara, tangan mulai merogoh kertas yang diduduki. Pelan-pelan lipatan itu di buka, dan boom… ada 4 lembar bo’.. 50 ribuan… akhhh… saya tersenyum. Penantian yang tidak sia-sia, dan lumayan buat menutupi harga karcis. Sebenarnya bukan uangnya itu yang membuat saya tersenyum, tapi karena sensasi penantiannya. Mengingatkan pada film Dono-Kasino-Indro ketika mereka dengan segala upaya dan sabar menanti uang 10 ribu yang menempel dan kelindas ban mobil hartop.. pengalaman yang lucu 😀

..to be continue **biar ga kepanjangan

Iklan

One thought on “Yang tercecer dari JJ5 ..part1

  1. Ping balik: Yang tercecer dari JJ5 .. part2 « Sicindai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s