my fren..

Kembali..

Hari ini teman itu kembali bersedih. Mendengar cerita yang beredar tentang dirinya membuat dia sedih, sedih bukan karena semua cerita jelek tesebut dan pandangan orang akan dirinya, tapi justru sedih membayangkan mereka yang telah menyebarkan cerita tersebut. Kemudian dia cerita tentang tulisan Alwi Shihab dibawah. Dia bilang, seandainya ada yang bisa dia lakukan untuk ikut meringankan beban yang mungkin ditimpakan Allah pada mereka yang menyebarkan berita tersebut, dia akan ikut memikul untuk meringankannya.

Mendengar itu saya hanya menyarankan mungkin dengan memaafkan akan dapat sedikit meringankan.

Lagi-lagi dia berkata bahwa tidak ada yang perlu dimaafkan karena memang dia tidak merasa tersakiti, tidak marah, apalagi dendam dengan semua omongan itu, jadi tidak ada alasan untuk memaafkan. Dia ikhlas dengan semua cerita jelek itu, biar Tuhannya yang menilai.. demikian katanya. Dia hanya memohon ampun jika benar kejelekan itu ada padanya, dan mohon terhindar dari semua itu jika tidak benar.

Kembali saya hanya terdiam.. saya mengamati tulisan yang dia sodorkan lewat email, dan saya mengerti bahwa memang bukan dia yang perlu dikasihani..

semoga kita semua terhindar yaa dari kejelekan yang satu ini 🙂

=====================

Berbicara tentang kejelekan orang lain dan mencelanya disebut menggunjing jika benar, dan disebut fitnah jika tidak benar. Tentu saja, tidak ada seorang manusia pun yang bebas dari dosa. Orang bijak mengatakan, manusia itu tidak lepas dari kesalahan dan lupa. Dengan begitu, manusia itu memang tidak sempurna, ia bisa berbuat khilaf. Manusia pada umumnya hidup di balik tabir, yang oleh Tuhan –dengan kebijakan-Nya– digunakan untuk menutupi perbuatan-perbuatannya. Kalau saja tabir Ilahi ini diangkat untuk memperlihatkan semua kesalahan dan kekeliruan kita, niscaya semua orang akan lari dengan yang lain dengan rasa jijik dan masyarakat akan runtuh hingga ke dasar-dasarnya. Itulah sebabnya mengapa Allah melarang kita membicarakan kejelekan orang lain. Maksudnya agar kita terlindung dari pembicaraan orang lain mengenai diri kita.

Dengan wujud dan kelemahan manusia seperti itulah, agama kemudian melarang kita untuk saling menggunjing dan, apalagi, menfitnah. Banyak ayat suci Alquran dan hadis Nabi Muhammad SAW yang mencela keras segala bentuk fitnah, yang justru akhir-akhir ini makin merebak di tanah air. Allah SWT berfirman, ”Sesungguhnya mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (Al-Nahl: 105).

Tidak dapat dimungkiri bahwa dampak dari fitnah bukan saja terhadap mereka yang difitnah, tapi juga terhadap masyarakat luas. Di tanah air kita sendiri seringkali terjadi keributan dan kerusuhan yang disebabkan oleh fitnah dan adu domba. Begitu besarnya bahaya dan dosa fitnah, hingga oleh Islam dikategorikannya sebagai perbuatan lebih kejam dari pembunuhan. Bahkan, Nabi Muhammad SAW lebih mempertegasnya lagi dengan sabdanya, ”Tidak akan masuk surga orang yang menghambur-hamburkan fitnah (suka mengadu domba).” (HR Abu Dawud dan At-Thurmudzi).

Menurut Islam, perilaku manusia dan tindakannya di dalam kehidupan merupakan salah satu dari fenomena akidahnya. Untuk itu kita diminta untuk berpegang teguh pada akidah yang telah ditetapkan dan digariskan agama. Para ulama mengatakan, kalau akidah kita baik, maka akan baik dan lurus pula perilaku kita. Dan, apabila akidah kita rusak, akan rusak pula perilaku kita. Oleh karena itu, maka akidah tauhid dan iman adalah penting dan dibutuhkan oleh manusia untuk menyempurnakan pribadinya dan mewujudkan kemanusiaannya.

Adalah ajakan kepada akidah ini merupakan hal pertama yang dilakukan Rasulullah agar ia menjadi batu pertama dalam bangunan umat Islam. Hal ini, karena kekokohan akidah ini di dalam jiwa manusia akan mengangkatnya dari materialisme yang rendah dan mengarahkannya kepada kebaikan, keluruhan, kesucian, dan kemuliaan.

Apabila akidah ini telah berkuasa, maka ia akan melahirkan keutamaan-keutamaan manusia yang tinggi seperti keberanian, kedermawanan, kebajikan, ketenteraman, dan pengorbanan. Orang yang berpegang pada akidah tidak akan mau melakukan perbuatan-perbuatan yang mengarah pada fitnah. Karena dengan akidahnya itu, ia tidak ingin tergelincir pada jurang kedosaan yang dikutuk agama. Wallahu a’lam.

==============================

Satu bagian terindah dari tulisan diatas menurut saya adalah ungkapan bahwa sesungguhnya manusia hidup dibalik tabir, begitu banyaknya kesalahan dan kekhilafan manusia yang ditutup oleh Allah, dan sesungguhnya jika disingkap, tidak ada manusia yang mampu menanggung malu melihat dosa-dosanya, Maha besar Allah. Sungguh mulia jika kita juga bisa menjaga semua kekurangan saudara-saudara kita seperti Allah menutupi dosa-dosa kita.. bukankah agama memuliakan manusia yang meniru sifat-sifat Allah.. betul apa betul..?! 🙂

Iklan

2 thoughts on “my fren..

  1. dan bila kau sudah yakin bahwa hanya Allah yang mampu menutupi dan membuka aibmu.. jangan lagi bersedih..
    sekarang lihatlah ke depan.. semua hanya antara kau dan Tuhanmu.. bukan orang-orang itu

    salam buat fren nya 🙂

  2. iya Bun.

    Exciting aja Bun baca tulisan diatas, liat kasus teman baru mengerti kenapa agama bilang ‘fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan’.. pembunuhan karakter. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s