Indigo

Nulis ga yaa…

Selalu begini. Setiap kali ada sesuatu yang mengganggu pikiran dan itu ada hubungan dengan orang lain, saya selalu berusaha menjauh dari sicindai karena pengalaman menunjukkan menulis ketika emosi tidak stabil sangat beda hasilnya ketika duduk dengan kepala dingin. Jadi sekarang enaknya dinginin dulu…

Sebenarnya ada lagi yang mengganggu..

ini agak lucu, berhubungan dengan tidur. Beberapa hari yang lalu saya datang ke kantor, teman-teman di kantor pada comment kok saya keliatan kusut. Ternyata tidak bisa yaa.. tidak bisa menyembunyikan apa yang ada dalam pikiran… kekusutannya tergambar ke ekspresi muka. Sayangnya kekusutan itu berlanjut.. hari berikutnya.. hari berikutnya dan hari ini.. hmmm berarti udah 4 hari.. apalagi  kalau tidak gara-gara mimpi.. mimpi itu..

Kadang saya memang termasuk yang percaya akan beberapa hal, termasuk mimpi. Sama dengan diskusi kemaren dengan teman-teman di kantor. Awalnya cerita tentang autisme pada anak, kemudian cerita melebar masalah ponaryo yang menurut pendapat sebagian merupakan fenomena indigo pada anak. Fenomena ini sebenarnya udah lama, menurut teman dulu sempat dibahas di Femina/kartini tentang seorang ibu yang punya anak yang extraordinary tersebut. Anaknya yang ketika dibawa ke China bisa langsung berbahasa cina, dan ketika dibawa ke Museum langsung tau semua sejarah benda-benda purbakala yang ada disana.

Teman-teman saling menduga penyebab fenomena indigo ini. Saya jadi teringat akan film Contact yang diperankan oleh Jodie Foster. Film yang bersumber dari novel ilmiah karya Carl Sagan (Carl Sagan adalah seorang Astronom.. meski novel pasti punya dasar ilmiah). Naah, dalam film itu diceritakan Jodie Foster menerima sinyal dari ruang angkasa yang ternyata berasal dari pancaran siaran televisi dijaman Nazi dulu. Disana diceritakan bahwa ternyata gelombang siaran televisi itu terpancar ke ruang angkasa kemudian setelah berpuluh tahun gelombang itu kembali ke bumi dan ditangkap oleh perangkat parabolanya Jodie.

Naah, fenomena Ponaryo dan mereka yang mengalami fenomena indigo hampir sama dengan gambaran pada film diatas. Bagi penganut prinsip gelombang memercayai bahwa semua benda termasuk manusia memancarkan gelombang di frekuensi tertentu. Gelombang itu ditangkap dan oleh indra kemudian diterjemahkan oleh otak. Paling simple adalah warna yang kita lihat adalah pantulan dari cahaya yang mengenai suatu benda gelombang pantulannya ditanggap oleh mata dan diterjemahkan otak mengasosiasikan suatu warna. Begitu juga bau, pendengaran, bahkan sentuhanpun adalah bagian dari gelombang energi panas yang mengalir dan ditangkap oleh tubuh lainnya. Semuanya adalah manipulasi gelombang dalam bentuk yang berbeda-beda. Setelah ditangkap indra, gelombang itu tidak berarti hilang. Gelombang itu tetap ada dan ditangkap oleh indra lain dalam bentuk yang berbeda-beda.

Naah disana hubungan dengan ponaryo dan para  indigo children, mereka memiliki indra yang lebih peka dari manusia biasa yang dapat menagkap banyak gelombang dan diterjemahkan kedalam bahasa yang kita mengerti.

Trus, hubungannya dengan mimpi.. hmmm…masih menduga maknanya apa… 😀

Dah akh…

tulisan yang sebenarnya ditulis tadi pagi… dan baru bisa di selesaikan sore ini.

Balik…balik.. kereta Sudirman – Serpong sudah menunggu.

Happy wiken 😉

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s