Dilamun Rindu

Ga ada Oh la la hari ini..

Iya, seperti telah menjadi ritual, saya jadi terbiasa ke Oh la la selasa dan kamis.. bermula dari minggu kemaren kemudian berlanjut ke minggu ini, tapi sayang hari ini hujan telah membatalkan semuanya, i’m stuck @ home. Nongkrong di Oh la la di hari selasa dan kamis rencananya memang mau di fix-kan di . Betapa beruntungnya Oh la la puri bakal dapat fix income minimal 23.200 untuk segelas coklat panas yang menjadi menu rutin setiap kali kesana –kecuali selasa kemaren ding.. karena abis makan doner kebab, perut cukup full sehingga mesannya black coffee–. Jika sudah fix –insyaallah 🙂 — bagi yang ingin ketemu silahkan mampir ke Oh la la puri di dua hari tersebut sehabis magrib, insyaallah ketemu. Begitu juga sebaliknya, bagi yang ga mau ketemu sebaiknya hindari Oh la la di jam-jam tersebut, kalau ga muka dingin tak bersahabat ini akan menghiasi hari anda 🙂 .

Meski hari ini tidak ada oh la la, tapi tetap ada coklat panas. Ceritanya karena dingin di rumah sehabis magrib, keingatan untuk bikin roti panggang, sekalian ngetes listrik karena sejak disini pemanggang roti belum pernah dipake, takut listriknya ga kuat, dan alhamdulillah ternyata kuat. Roti panggang yang beberapa hari ini diidamkan akhirnya terhidang. Naah, buat nemanin roti bakar tadinya pengen bikin teh manis. Ketika manasin air, lihat ke kulkas, ternyata persedian teh telah habis dan yang terlihat adalah sebungkus bubuk coklat murni yang kemaren diberi teman ‘si chocolate factory’.. akhirnya bikin coklat panas dengan takaran 3 sendok teh untuk coklat + 3 sendok teh untuk gulanya.. seperti yang dianjurkan ‘si choco fac’ . Dan ternyata adonannya memang pas banget.. dijamin coklat oh la la maupun starbuck kalah. Warna coklat yang lebih hitam mirip kopi menunjukkan kemurnian coklatnya. Thank q buat choco nya.. ntar habis kasih lagi yaa… hehehe..biasa ngelunjak .. dan harus di biasakan karena saya orangnya begitu hehehe.. 😀

Akh, cerita jadi kemana-mana. Tadinya pengen cerita tentang pertemuan dengan seorang teman lama di fesbuk, my best friend.. kita temanan dekat dari kelas 1 SMA, sampai berpisah ketika saya ke jakarta dan dianya masih kuliah di kedokteran Unpad. Teman belajar, ‘sumandan’ –partner– main domino, ‘bonceng’er kalau mau kemana-mana dengan suzuki crystal nya, teman main kasti hingga perang air ketika satu kost-an.. banyak cerita yang dilalui, sampai rahasia keluargapun sebagian dipercayakan ke saya dan alhamdulillah sampai sekarang masih kepegang ga bocor kemana-mana **ember kali bocoorr..** 🙂

Yaa begitulah, setelah lulus kuliah saya kerja di jakarta sementara dirinya lulus kuliah PTT di daerah terpencil di ujung barat pulau ini. Beberapa tahun yang lalu saya dapat undangan pernikahannya, dan untuk terakhir kali saya bertemu, mengucapkan selamat.. dia telah memilih jalan terbaik yang seharusnya dipilih. Sejak itu saya kehilangan kontak, ada selentingan cerita setelah PTT dia ikut Bulan sabit merah (palang merahnya islam) bekerja di arab saudi. Dan setelah sekian lama hilang semalam sekitar jam 12 dia nge-buzz di chat nya fesbuk. Ukhh, senang tidak kepalang, ketemu sobat lama. Dan ternyata sekarang dia kembali ke tempat dimana dulunya dia PTT. Katanya lagi nyiapin segala sesuatu untuk pembangunan jembatan sehat di desa tersebut.

Satu yang membuat saya terkesan adalah, dia seperti menjadi role model bagaimana dokter seharusnya — dimata saya 🙂 –, dokter yang hidupnya semata untuk mengabdi untuk masyarakat. Anugerah yang diberikan Allah lewat kemampuannya mengobati orang-orang benar-benar di utilize dengan ikhlas. Ketika semalam dia break karena harus mengurus dua anaknya yang kebangun gara-gara nyamuk, ‘maklum di desa, banyak nyamuk..’ begitu katanya.. saya benar-benar terharu, alhamdulillah keluarganya mendukung jalan amal yang dia tempuh. Selamat bro, semoga dirimu bisa menjadi Salmiati yang baru.. berjuta do’a dari mereka yang telah disembuhkan, dan yang pasti dari saya.. dan saya sangat yakin diri-Nya maha bijaksana membalas semua uluran tanganmu untuk hamba-Nya

cerita tetang bu Salmiati ada disini

cerita dengan judul ga ada hubungannya yaa hehehe.. biasa.. kadang suasana hati ga harus tergambar di tulisan cukup lewat judul 😀 . Judul itupun terinspirasi pepatah ‘payah dilamun ombak, tercapai juga tanah tepi’, artinya.. hmm cari di wiki aja.. sekarang masih dilamun.. masih berharap melihat tepian –jangankan sampai, melihat tepian aja blum.. masih jauh ne’ — 😀

Iklan

2 thoughts on “Dilamun Rindu

  1. Pure cocoa powder itu warnanya macem2 mas.. Shade-nya ada yellowish, reddish, brownish bahkan black ^^… Btw Puri itu sebelah mana yah.. 😉

  2. ikut senang om sicindai bertemu teman lamanya.. kepompong juga kagum atas pilihan beliau dalam mengabdi, tante nakja aja belum tentu bisa begitu.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s