Basa-basi yang basi..

Malam ini saya pantas berterima kasih saya yang namanya mosquito karena lewat gigitannya Allah membangunkan saya untuk tahajud. Hati kemaren berbisik, udah lama ga lagi terbangun untuk tahajud karena selalu bablas dan baru kebangun ketika azan subuh berkumandang, dan ternyata Allah mendengarkan, dan mengirimkan suara ‘ngee..ngeee..ngeee di telinga’.. seperti gema azan untuk tahajud. Terbangun dan liat jam, hmm masih 2.50, masih dapat buat tahajud. Meski setengah dari tubuh ini susah untuk beranjak dari tempat tidur, tapi hati lebih kuat memaksa untuk bangun..dan itu tidak terbantahkan.

Dan kini, ketika ngetik disini.. sang mosquito masih saja menemani.. hoooiii… udah, udah bangun..

pergi.. cepat pergi

jangan.. jangan kembali..

tinggalkan.. ku sendiri.

memang lebih baik begini

itu kata cokelat..

Kemaren, saya punya pengalaman jelek.. sedih sekaligus menyebalkan. Ceritanya, ketika mau shalat Zuhur ke masjid di cluster sebelah, seperti biasa saya harus melewati gerbang yang dibuka dan di tutup oleh sang satpam penjaga. Beda dengan cluster dimana saya tinggal, gerbang siang hari hanya ditutupi portal dimana sang satpam cukup sambil duduk menutup dan membuka portal dengan cara menarik atau melepas tali portal, sementara di cluster sebelah, gerbang di pagar dan sang satpam terpaksa nongkrongin itu pagar untuk membuka dan menutup setiap orang atau kendaraan yang lewat. Naah, kemaren ketika saya mau lewat untuk shalat, saya liat didepan saya ada motor ingin masuk dan sang satpam membuka pintu, di belakang motor itu saya juga dengan motor menghampiri. Sebelnya, persis setelah motor didepan saya lewat, sang satpam langsung menutup gerbang dan dengan muka masam bertanya

‘mau kemana’

Saya yakin sekali itu bukan tatapan curiga, karena tidak ada di wajah saya yang patut dicurigai. Tongkrongan ga kayak salesman, pemulung atau peminta-minta sumbangan beras.

Liat tatapan tersebut, saya balas menatap tajam sama lelaki dibalik pagar itu sambil bilang

‘ke masjid’.

Dia kemudian membuka pagar, ketika melewati pagar, mata saya tidak lepas dari matanya. Ketika abis shalat, kembali saya berhadapan dengan pagar angkuh dan sang satpam. Kali ini saya tetap menatap matanya, dan bilang ‘terima kasih’.

Lepas dari pintu pagar, dalam hati bilang bahwa saya telah kehilangan 2 masjid hari itu.

Yah, semua itu konsekuensi.. konsekuensi bahwa;

– di cluster tidak ada masjid

– tiap cluster punya pagar dan aturan sendiri. Saya sebenarnya lebih suka konsep portal daripada pagar. Portal hanya memfilter, kalau tidak sesuai dengan filternya, otomatis akan di tolak, semenatara kalau pagar itu tegas, permit or deny.. seperti hanya IPS dan firewall (apaan tuh… πŸ˜€ ), atau kalau dalam konotasi yang lain, pagar itu seperti bahasa digital yang hanya punya dua opsi.. yes yang disimbolkan dengan 1 dan no yang disimbolkan dengan 0, sementara portal itu seperti bahasa pemograman yang punya opsi if dan else.. halah, makin ga jelas πŸ˜€

– ga semua satpam menyadari peran dan tugasnya **yang dalam kasus ini hal tugasnya adalah membuka dan menutup pintu pagar. Kasian memang.. tapi dia berani menerima tawaran untuk jadi satpam disana, dan itu harus dilakukannya. Bayangkan kalau saya lagi dirumah seharian dan seharian ke masjid sana (kecuali subuh), kebayang sang satpam harus membukakan 8 kali gerbang hanya untuk saya lewat masuk-dan-keluar masjid, kasian khan.. tapi memang itu tugasnya** . Meski begitu, saya sebenarnya cukup paham peran mereka secara saya sendiri di kantor juga ‘satpam’ yang dalam tugas salah satunya memang mengatur peran satpam. Dalam konsep keamanan **halah sok jago nya muncul** ada istilah security deterring, yang artinya pengamanan yang fungsinya hanya menakut-nakuti. Kadang fungsi satpam itu hanya untuk menakut-nakuti agar orang tidak melakukan tindak kejahatan. Keberadaan mereka hanya semacam pajangan buat mempertegas bahwa disitu ada pengamanan. Dan itu yang seharusnya dilakukan oleh pengamanan oleh satpam gerbang. Buka aja pagar, biarkan orang lalu lalang, khan mereka bisa membedakan mana yang orang komplek, orang biasa, dan mana yang mencurigakan. Sementara disisi maling pun mereka cukup was-was dengan adanya satpam disana. Sebagian kantor, satpam hanya berdiri, dan mengawasi.. sebagian yang lebih ketat hanya mengatur mereka yang tidak punya ID perusahaan yang terdaftar di gedung tersebut, sementara yang punya ID langsung dilewatkan… begitu kira-kira implementasi dari security deterring.. **akh sok tau** πŸ™‚

– saya bukan tipe orang yang menjadikan basa basi sebagai menu rutin

Untuk yang terakhir ini, saya teringat istilah ‘gang punteun’ ketika dibandung dulu. Sebutan bagi gang yang bisa dilewati dimana disana suka banyak orang duduk nongkrong sepanjang gang, dan setiap lewat kita terpaksa bilang punteun. Sekali punteun (permisi) siy ga apa-apa, tapi ketika itu harus berkali-kali dan setiap hari, menjadikan semua itu hanya basa-basi. Bagi saya yang lewat, cape harus bermuka manis setiap hari, setiap lewat. Bagitu juga mungkin dengan mereka yang nongkrong disana. Akhirnya saya lebih memilih jalan lain, jalan tanpa basa-basi.

Begitu juga dengan gerbang satpam, saya tidak bisa dan tidak mau tiap hari harus memajang tampang manis dan senyum serta sapaan pamit ke masjid sebelah. Saya pun yakin sang satpam juga bosen harus menjawab setiap permisi. Dan, itu yang saya lakukan selama ini ke gerbang sebelah, saya biasa mengikuti mobil atau motor yang lewat, sehingga sang satpam tidak harus membuka 2 kali untuk setiap 2 kendaraan yang masuk. Dan saya serta dia pun tidak perlu cape berbasa basi demi sebuah gerbang itu. Tapi yaa, mungkin tidak semua orang sama. Bagi saya suatu formalitas, dan basa-basi itu perlu, tapi ketika semua itu menjadi rutin.. menyebabkan basa-basi menjadi basi.

Konsekuensinya.. harus mencari masjid baru. Masjid tanpa basa-basi.

Iklan

5 thoughts on “Basa-basi yang basi..

  1. tongkrongan anda memang sama sekali tak mirip salesman, pemulung atau peminta-minta sumbangan beras..

    menurut saya anda itu mirip harry potter.. suerrr!!!
    **baik kan, saya..** semoga cukup menghibur.. πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s