Surau

Meski sudah malam ketika balik dari luar kota sabtu dini hari kemaren, saya tetap menyempatkan diri menengok google reader sekedar ingin taun update blog-blog yang udah di feed. Satu tulisan yang cukup membuat tersentuh adalah cerita Maaf yang tak pernah termaafkan dari Yuni Ferawati pada Rectoverso week nya Dee. Bagi saya suatu cerita yang menyentuh biasanya karena cerita tersebut berhasil menggiring saya masuk kedalam pusaran cerita tersebut, seolah saya berada didalam semua kejadian tersebut. Selain itu bisa juga suatu cerita sepertinya related dengan yang saya alami. Dan untuk cerita diatas, sepertinya dua-duanya. Dua sensasi menyatu dalam satu cerita, halah..

Bagi saya, awal cerita adalah point yang paling menarik.. kata-kata yang terlahir justru ketika emosi tidak stabil. Dari dulu saya selalu menghindari hal-hal seperti itu, suatu ucapan yang terlontar dalam keadaan emosional terkadang hanya perasaan sesaat yang tercetus, dan tidak mewakili semua perasaan dan pikiran lainnya yang mungkin saling terkait dan tidak terpertimbangkan ketika ucapan tersebut, dan terkadang ucapan tersebut tidak dapat ditarik kembali, tak termaafkan seperti yang dialami sang istri dalam cerita tersebut.

Ga tau kenapa, walau sedikit tapi suka dihubung-hubungkan dengan apa yang dialami **memang lagi sensi ajah 😀 **, terkadang ada hal yang tak terselesaikan gara-gara tidak mendapatkan moment yang paling baik untuk berbicara, moment dimana semua dibicarakan dengan kepala dingin, sehingga tidak ada keputusan emosional disana.

Sama halnya dengan sicindai, membaca tulisan pembaca yang terkhianati, **sedikit  ge-er  🙂 ** , analogi yang pas bun.. saya lebih memilih ini adalah surau, dimana ketika azan-nya di surau ini suaranya tidak lagi menggugah warga kampung untuk menghadiri majelis shalat berjama’ah, akankah lebih baik suara datar sang muazin pindah ke surau sebelah, mencoba memanggil warga kampung yang baru untuk mau mengayunkan langkahnya bersama-sama bersujud di rumah-Nya. Tapi apakah meninggalkan surau adalah keputusan yang bijak atau suatu yang emotional.. hmm sepertinya yang terakhir. hmm… di hold dulu.. **sambil tetap mencoba menyusun bata-bata dan mengumpulkan semen untuk pembangunan surau sebelah**

Iklan

2 thoughts on “Surau

  1. bagi masyarakat disekeliling surau, tentu kabar menggembirakan bila mesjid megah akan dibangun karena akan menampung lbh banyak jamaah.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s