2.0

Ide tulisan ini muncul ketika masih di motor di seputaran Pos pengumben – Joglo dalam perjalanan pulang. Saya teringat tulisan sendiri **biasa narsis, referensi tulisan sendiri juga 🙂 ** beberapa hari yang lalu tentang resolusi 2.0. Istilah 2.0 sangat populer di kalangan pemerhati internet khususnya berkaitan dengan blog dan jejaring sosial, istilah yang sebenarnya berasal dari web 2.0, suatu perubahan tren teknologi web dimana kolaborasi dan interaktif konten lebih di kedepankan.. dan penerapan paling dekat ke pengguna adalah melalui blog dan jejaring sosial. Teknologi yang sangat beda dengan internet jaman dulu, gimana web hanya media informatif, dengan interaksi yang terbatas antara web dan pengguna. Ga kebayang jaman dulu punya website sendiri.. kudu nyari web desain lah, dan macem-macem. Sekarang, lewat teknologi yang dikembangkan, semuanya mudah, contohnya wordpress ini, atau fesbuk.

Naah.. ketika kemaren di motor keingatan tentang adanya kemiripan antara relationship dengan teknologi diatas..

..lho kok bisa..

Dalam relationship, proses saling mengenal, sebelum maju ke jenjang berikutnya saya analogikan sebagai web 1.0 ..**saya tidak menggunakan istilah pacaran, tapi lebih memilih kata ta’aruf 🙂 ** saya menyebutnya relationship 1.0 sementara, pernikahan dan rumah tangga saya analogikan sebagai web 2.0 alias relationship 2.0. Seperti halnya web, kedua hal tersebut sangatlah beda. Kalau pada relationship 1.0, itu hanya pada sebatas mengenal tanpa bisa ‘boleh’ berinteraksi lebih dalam. Semuanya masih ditatanan penggalian ide, interaksi yang terbatas, tanpa adanya kolaborasi, persis seperti web jaman dulu, kita hanya bisa baca web sebelah tanpa bisa men’tag’, ‘post link’ dan sebagainya. Sementara pada relationship 2.0, seperti lirik lagu Dua kawan-nya Indra Lesmana ‘kau dan aku.. jadi kita’.. disana timbul kolaborasi karena memang demikianlah hakikat pernikahan.

Dalam Islam, 1.0 dengan 2.0 sangat jauh berbeda..menyerempet ke 2.0 sementara masih dalam tahap 1.0 sangat dilarang, karena akan menimbulkan kerumitan dikemudian hari, karena ada kaidah-kaidah yang dilanggar. Persis web, 1.0 yang dipaksakan menjadi 2.0 perlu kerja ekstra, akan sulit mengurai jika terjadi permasalahan, dan pasti hasilnya tidak akan sesempurna dan seindah web 2.0.

Web 1.0 sudah sangat matang sehingga orang bergerak ke 2.0, begitu juga hubungan, pahami makna relationship 1.0 dan selami apa yang harus digali pada tahap ini agar menjadi pondasi yang kokoh jika harus bergerak ke relationship 2.0. Yang kadan terjadi adalah keinginan untuk merasakan apa yang mereka 2.0 rasakan, sementara 1.0 sendiri belum dikuasai secara sempurna.

*sebatas ide** 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s