Sukabumi..

fluhh…

Capek perjalanan kemaren masih tersisa. Tadinya mau lanjutin tidur abis subuh, tapi karena seharian kemaren ga internetan, yaa udah mampir sebenar en just to say Hi to everyone disini.

Perjalanan kemaren adalah dari Jakarta-Sukabumi-Jakarta. Brangkat jam 10.30 pagi dan nyampe kembali di jakarta 10.30 malam, dari 12 jam tersebut 7 jam diantaranya dihabiskan di mobil, paraaah. Pantat sampai sekarang masih panas, duduk di kasur seperti saat sekarang serasa dejavu 🙂

Sebagian teman comment kenapa harus balik cepat, sementara disana bisa tidur enak di tempat tidur lembut dan ruangan berAC. Bagi saya dari dulu tidur di rumah sendiri selalu lebih nikmat dibanding tidur di hotel bintang 5 sekalipun meski di rumah hanya tidur dilantai beralaskan tikar. Dan itu beneran, dulu pernah dalam suatu acara diskusi yang berjalan alot di sebuah hotel di bilangan Sudirman Jakarta, diskusi yang berlangsung hingga tengah malam sehingga pihak penyelenggara menyediakan kamar untuk menginap, tapi karena alasan diatas saya memilih pulang dengan taxi daripada harus menginap.

Ooo yaa, mengenai perjalanan ke Sukabumi, sudah lebih 10 tahun saya tidak kesana. Meski telah 10 tahun, tapi akses ke sana masih belum berubah, sementara lingkungan telah banyak berubah. Perumahan tumbuh pesat mulai dari Rancamaya, Lido dan lainnya. Akses yang seuprit menyebabkan laju kendaraan menuju kota Sukabumi sangat-sangat pelan. Belum lagi truk dan container yang masih banyak berlalu lalang, ditambah angkot yang ngetem sembarangan sehingga terasa jalur tersebut tidak bersahabat untuk pengendara. Yang ada dipikiran cuma satu, fasilitas umum yang buruk ditengah daerah yang berkembang pesat merupakan cerminan pemerintahan yang korup di daerah tersebut 😦

Sesampai di Sukabumi, bergabung dengan semua teman-teman di aula hotel tempat menginap. Saya cuma betah beberapa menit sebelum mengajak teman untuk kembali keluar memilih santap siang yang tertunda. Yang membuat tidak betah adalah topik yang ada pada pertemuan itu yang seperti menelanjangi seseorang di tengah kalayak umum, dan orang-orang justru menjadikan itu object untuk ditertawakan. Meski tidak membantah apa yang dipaparkan, tapi dasar diri ini aja yang suka tidak tega melihat satu orang dipojokkan sehingga benar-benar terpojok tanpa sanggup mengambil napas, jangankan untuk membela diri.

Yaa, ga tau itu karakter yang dari dulu telah terbentuk, saya tidak termasuk orang yang bisa larut dalam eforia massa. Lebih senang berada diluar kerumunan untuk bisa berpikir lebih jernih dan objektif..

Dah akh, pagi-pagi seriuss… Fesbuk..fesbuk.. 😀

Iklan

2 thoughts on “Sukabumi..

  1. walah.. 7 jam pantat nempel… huhuhuhuhu rata gak tuh?? coba di cek?? aku juga heran.. di indonesia pembangunannya hanya sibuk di kota2 besar saja.. padahal sukabumi berada gak jauh dr jakarta.. tetap saja gak terkena dampak pembangunannya.. jalan2 kesana masih khas… bikin cape dijalan…

    *iyah neh.. mencoba berhenti mratapi apa yang kurang didunia.. tapi mensyukuri apa yang diberikan*

  2. iBoy: Pantat okeh –karena sebelumnya emang udah rata 😀 — ikutaan akh… jadi orang yang banyak bersyukur, ‘harusnya’ ga akan meratapi kekurangan.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s