Di Sebuah Mushalla

Mushalla tempat saya biasa melakukan shalat berjamaah berada di pinggir jalan yang banyak dilewati baik pengendara motor, mobil box, mobil pribadi maupun truk. Hanya sebuah mushalla kecil, yang sepertinya didirikan diatas tanah wakaf salah satu warga disitu (Betapa besar pahala orang yang telah mewakafkan tanahnya untuk masjid tersebut, seperti celengan pahala yang setiap saat diisi setiap orang shalat disitu 🙂 ). Meski kecil, mushalla ini selalu rame, tidak hanya di jam-jam shalat tapi sepanjang hari bahkan sampai shalat isya. Alasannya karena disana adalah tempat persinggahan mereka para pengendara yang ingin menjalankan ibadah sekaligus istirahat sejenak menghilangkan kepenatan.

Pemandangan seperti itu kadang yang menimbulkan banyak perasaan bagi saya. Disatu sisi saya angkat topi sama mereka, betapa besarnya pahala yang mereka dapatkan, menyempatkan diri mampir ke rumah Allah untuk menunaikan ibadah ditengah kesibukan mereka akan kerjaan yang menunggu, atau ditengah perjalanan menuju jalan pulang. Sering sekali saya ketemu mereka yang shalat disana adalah mereka yang memang sehari-hari mengais rejeki di jalan dengan penuh keringat, seperti para pengantar pesanan (delivery order), selesman, para pengantar surat, supir taksi, supir mobil box, pedagang keliling dan banyak lagi. Bagi mereka waktu sangatlah berarti apalagi bagi pengantar surat atau pengantar makanan dan supir taksi, tapi meski begitu di setiap waktu shalat mereka masih menyempatkan mampir kerumah-Nya untuk menunaikan kewajiban, masysyaallah..Saya sangat terharu dengan ketaatan mereka dalam beribadah, semoga do’a-do’a mereka untuk mendapat kehidupan lebih baik dibalas oleh-Nya.

Disisi lain, ketika melihat mereka istirahat di lantai teras mushalla tersebut, terlihat sekali wajah letih mereka yang mungkin telah berkendara berjam-jam. Tidak jarang juga mereka sepertinya orang-orang yang berpendidikan cuma tidak beruntung mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, sehingga harus menjalani pekerjaan yang terkadang dibawah kapasitas mereka. Disini saya kadang ingin meneteskan air mata karena bersyukur, sangat-sangat bersyukur telah diberi kehidupan lebih baik dari mereka. Dengan kondisi seperti itu, malu rasanya jika saya beribadah kurang dari yang mereka lakukan, mereka yang tidak seberuntung saya dan tidak diberi kelapangan waktu masih saja sempat menyempurnakan ibadahnya ditengah keterbatasan dan kekurangan mereka, masak saya dengan kehidupan lebih baik dan kelapangan waktu tidak bisa beribadah dengan lebih baik, karena ibadah adalah bagian dari bersyukur terhadap apa yang telah diberikan-Nya.

Semoga kita selalu diingatkan, ihdinashshiratal mustaqim.. Amin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s