Nikmat dan laknat..

Ada ungkapan menarik yang sempat saya dengar belum lama ini yang bunyinya kira-kira begini;

… bisa jadi rahmat tapi juga bisa menimbulkan laknat, tergantung bagaimana kita menggunakannya

… (titik-titiknya) saya lupa apa. Tapi itu bisa berlaku umum, apa saja yang merupakan titipan Allah ke kita, yaa harta, anak, pangkat dan banyak lagi.

Sebagai contoh, paling dekat uang… uang THR misalnya

hmmm, baru tadi pagi terima THR… senang dong..!!

Yaaa senang… tapi sesaat…

Makin sore, iblis makin banyak menyatroni otak mengenai mau diapain itu duit. Di satu sisi dia membisikkan, simpan-simpan.. nilai yang bertambah di rekening memberikan kebahagiaan semu. Rasanya itu duit tidak mau bergeser sedikitpun dari nilai yang tertera ketika tadi ngeprint di mini atm kantor.

Lantas, sore godaannya makin kencang. Adanya janji pada seseorang menyebabkan hati tidak tentram, tidak rela digit-digit di rekening itu berkurang sedikitpun. Ampun.. dasar setan. Belum lagi, ketika syetan mulai menggerogoti niat mengeluarkan zakatnya, beribu alasan tiba-tiba mengambang di otak. Yaaa amfuuunn..

Kalkulator di otak berputar kencang, semuanya diitung, berbagai kebutuhan segera, utang yang bakal ditagih, piutang-piutang… aakhh, otak tidak berhenti dengan angka-angka dan angka.

Dalam posisi seperti ini apakah uang telah menjelma menjadi laknak.. atau cuma nikmatnya yang dicabut.

Kadang ada bisikan Ilahi di otak, bukankah semua itu hanya titipan. Tidak semua titipan harus dikonotasikan diteruskan ke orang lain. Penerimanya bisa saja kita, dan juga bisa saja hanya mampir untuk diteruskan ke orang lain. Ketika penerimanya adalah kita, Allah menuntut bagaimana kita bisa bijak menggunakannya, bukan untuk hal-hal yang mubizir, apalagi dijalan maksiat, jangan sampai.

Ketika titipan itu hanya singgah, atau cuma ditumpangkan.. tidak ada hak bagi kita untuk menahannya… buat zakat misalnya.

Terkadang juga kita hanya seperti bank atau fund manager, kita cuma diminta mengatur tapi tidak menggunakan.. suatu saat dipinjamkan, suatu saat ditarik kemudian diinvestasikan tapi hasilnya bukan untuk diri sendiri, mungkin buat keluarga, anak-anak atau mungkin orang lain yang tidak ada hubungan darah sama sekali dengan kita, misal karyawan.

Banyak cara sebenarnya, tergantung jalan mana yang kita pilih, yang pasti jalannya syetan tidak ada enak-enaknya, kalaupun enak itu cuma sampai di tenggorokan.. hanya enak dilidah tapi tidak memberi manfaat ketika telah ditelan. Atau hanya enak dipelupuk mata, enak dilihat, tapi tidak ada manfaat bagi diri dan hanya menimbulkan ria dan sombong. Atau menumpuk harta yang hanya enak diingat dan ditimang-timang, tapi tidak pernah merasakan..

Terakhir, tetap.. saya butuh fund manager… walau ga banyak, tapi dapat mengelolanya dengan lebih bijak lagi… ga dibikin pusing seperti skarang.. semoga yaa non..lah kok 😀

tiduuuuuuuurrr……!

jam 12 ne’… met ultah buat Vivie,, my friend, my little sister 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s