Waktunya berubah

Tema ini sebenarnya telah lama mengendap di otak, tapi gara-gara si IM2 sekarang suka bolot (ditutup juga niy berlangganannya kalau tetap  gini, mengecewakan..!! ), akhirnya siang ini saya coba paksain nulis ide yang sebenarnya udah menguap di tempat tidur gara-gara kelamaan tidur.. bangun jam 10 boo , mantap bangett.. dah lama ga tidur panjang, asal jangan tidur ga bangun-bangun… blum cukup modal buat ngadap 😀

Bicara dengan my luv di telpon tentang hikmah puasa, yang kepikiran adalah bagaimana memegang momentum puasa agar kebawa sampai bulan ramadhan berikutnya. Ga ada yang salah jika kita beribadah  lebih di bulan yang memang penuh ampuanan dan limpahan rahmat, tapi yang paling sulit adalah bagaimana mempertahankan etos ibadah tersebut sehingga terbawa ke bulan-bulan lainnya. Dulu waktu masih di bandung saya suka memiliki target puasa-ke-puasa, puasa taun ini saya harus beribadah sampai taraf ini, dan target puasa tahun berikutnya harus lebih tinggi lagi. Untuk mendapatkan grafik yang bisa meningkat tersebut perlu usaha menjaga apa yang sudah dilakukan di puasa sebelumnya, sehingga ketika masuk ke bulan puasa yang baru, tidak harus memulai dari titik nol lagi untuk beribadah.

Sayang, pola seperti itu tidak lagi bisa diterapkan sekarang, beribu alasan di kepala yang berusaha menjadi pembenaran, yaa karena cape kerja lah, lingkungan di jakarta yang penuh godaan duniawi lah, dan beribu alasan pembenaran lainnya. Terus terang, puasa tahun ini tidak lebih baik dari puasa tahun yang lalu justru mungkin menurun. Kalau di tahun sebelumnya saya bisa mendobrak barrier yang menyebabkan saya males datang beribadah shalat wajib ke masjid, puasa tahun ini tidak ada dobrakan berarti. Tadinya pengen khatam baca Al-Qur’an, tapi melihat perkembangan setelah hampir seminggu puasa, sepertinya masih sangat jauh dari target.

Diluar semua itu, saya sangat-sangat senang dan bersyukur ramadhan taun ini jadi momentum buat seorang teman untuk lebih menyempurnakan ibadahnya. Saya jadi teringat lagu Tuhan dari Bimbo;


Aku jauh, engkau jauh
Aku dekat, engkau dekat
Hati adalah cermin
Tempat pahala dosa bertaruh

Perumpamaan kedekatan kita dengan Allah swt seperti berkaca di cermin dimana Allah sebagai bayang yang ada didalam cermin, semakin kita menjauh dari cermin, semakin jauh juga bayangan kita didalamnya. Lirik lagu diatas merupakan penggambaran yang indah dari Hadits;

“Jika ia manusia bertaqarrub (beribadah) kepada-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta. Jika ia berataqarrub kepada-Ku satu hasta, maka Aku mendekat kepada-Nya satu depa. Dan apabila ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari.” (HR. Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, At Tarmidzi, dan Ibnu Majah).

Semoga sisa puasa bisa menjadikan kita semakin dekat dengan-Nya, dan semoga kedekatan itu dapat dijaga di bulan-bulan lainnya setelah ramadhan usai, Amin..

Hayuk bersama-sama memperbaiki diri, tidak hanya ibadah, tapi juga perkataan dan perbuatan.. 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s