Catatan Pinggir

Sedikit berbagi cerita yang tercecer ketika sang nenek wafat senin kemarin. Tenang.. tenang, ini bukan cerita sedih, cuma pengen cerita kultur kita-kita di bukittinggi sini, khususnya di daerah tempat tinggal saya, salah satu pojok kota bukittinggi (ga benar-benar di pojok kok, boleh di bilang jantung kota 🙂 ). Apa yang unik, mungkin saya urutin dari kejadian:

1. Ngabarin kematian

Saya udah lama ga dengar tentang yang satu ini, baru nyadar kemaren ketika salah satu sepupu nyokap datang melayat, dan baru mengetahui sang nenek meninggal. Ada satu ciri klasik disini, yaitu ngabari tentang saudara/ibu yang wafat ke pihak keluarga terdekat terutama bako (pihak keluarga bapak dari yang meninggal) dan anak pusako (pihak keluarga ibu dari yang meninggal). Dulu, sebelum ada hape dan telpon, Adat mengabari biasanya  dilakukan oleh pihak keluarga terdekat dengan mengabari langsung (bukan via telpon) mendatangi rumah-rumah pihak bako dan anak pusako.

2. Kain kafan dan kain tutup mayat

Pihak bako dan anak pusako seperti cerita diatas punya kewajiban (secara adat) menyelimuti mayat dengan semacam kain penutup mayat ketika mayat disemayamkan dirumah sebelum dimandiin. Kain penutup mayat itu biasanya berwarna hitam atau hijau berbahan belundru, sebagian ada yang dihiasi kaligrafi bertuliskan ayat-ayat alqur’an. Selain itu, bako dan anak pusako juga membelikan kain kafan yang nanti digunakan untuk mengafani mayat. Semakin banyak bako dan anak pusako, makin banyak stock kain kafan dan kapas untuk mengkafani yang meninggal.

3. Menunggu ‘urang rantau’

Walau bukan merupakan adat, tapi merupakan suatu kelaziman pihak keluarga menunggu keluarga terdekat seperti anak atau cucu yang datang dari rantau untuk melihat yang wafat untuk yang terakhir kalinya, dan mungkin udah karakter orang padang yang keluarganya banyak merantau, jadi menunggu orang balik dari rantau adalah suatu kelaziman. Meski begitu, yang pasti nunggunya ga lama-lama karena kasian mayat juga kalau ga buru-buru dikuburkan. Biasanya ga sampai mayatnya bermalam, paling nguburnya jadi lebih sore, atau sampai setelah magrib, kalau masih belum datang, mayat akan langsung dikubur.

4. Gali kubur

Salah satu ciri yang unik juga adalah gali kubur disini bukan dilakukan oleh tukang gali kubur khusus tapi dilakukan oleh para remaja dan pemuda di RT/RW bersangkutan. Mereka secara bergotong royong akan menggali kuburan dan menyelenggarakan pemakaman hingga selesai. Oo yaa.. beda dengan di jakarta, di bukittinggi tiap keluarga besar punya area pekuburan, jadi kita ga perlu beli atau sewa lahan lagi kayak di tanah kusir. Pengaruh bermasyarakat sangat terlihat disini, orang yang jarang bergaul, biasanya para pemuda agak males datang ke pekuburan buat bantuin menggali kuburan. Satu ciri lagi, biasanya, kaum ibu-ibu PKK udah mempersiapkan makanan unutuk mereka yang ikut di kuburan, sekembali mereka dari menguburkan. Akan ada acara makan bersama, dan pihak yang berduka udah tau beres, semuanya di handle sama ibu-ibu sekitar.

5. Angkat keranda

Sudah semacam kelaziman, bahwa yang mangangkat keranda mayat, begitu juga dengan yang mengangkat dan meletakkan mayat ke dalam liang lahat, adalah keluarga terdekat sebagai sebagai wujud bakti mereka terhadap yang meninggal. Satu ciri mengangkat keranda, adalah harus dipikul di bahu, ga boleh di jinjing, buat menghargai yang wafat. Buat yang belum pernah mengangkat keranda, ampun dj, berat banget… Ketika dalam perjalanan dinas 2 hari yang lalu ke medan, saya ketemu orang yang telah memodifasi dimana keranda ditaruh diatas gerobak, dan tinggal di dorong. Memang lebih simple, tapi ada faktor kehikmatan yang tidak didapat dengan menggunakan gerobak. Make it’s simple memang bagus, tapi tidak selamanya baik 😀

6. Ratik (Yasinan)

Biasanya 3 hari setelah wafat, diadakan wirid yasinan di rumah yang meninggal dunia, setiap malam setelah shalat Magrib. Yang unik di acara ini adalah adanya acara manitah (berpantun secara adat), sebelum dan sesudah wirid. Pantun-pantun untuk acara ratik ini khusus, berbeda dengan pantun-pantun yang ada pada acara pernikahan. Terasa lebih rumit, tapi begitulah orang padang, rumit itu bukan berarti mempersulit, tapi biar segala sesuatu tidak terasa ‘ringan’, suatu yang instan menyebabkan kurangnya penghargaan. Manitah, salah satu wujud menghargai orang rumah dan tamu. Pokoknya seru siy, dengar pantun-pantun mereka, seperti mahir banget. Bravo buat yang jago manitah..

ga sedih khan.. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s