Dejavu

Hari ini, ketika di bus Damri sekembali dari perjalanan dinas, saya liat traffic menuju tomang dari arah Slipi padat merayap. Melihat kondisi tersebut saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke kebon Jeruk dengan naik Angkot M11 tidak dengan taksi sebagaimana saya biasa lakukan. Apalagi saya pulang dari perjalanan dinas masih dengan pakaian lengkap seperti halnya pada saat pulang kerja biasa, dan cuma membawa satu backpack seperti hari-hari biasa.

Ketika menyeberangi Slipi sehabis turun dari bus, saya telah merasakan hal yang beda. Dan di seberang, saya sepertinya sangat familiar dengan teriakan supir angkot ‘Jeruk..jeruk..jeruk..’, saya melihat salah satu angkot telah terisi hampir penuh, sehingga saya memilih naik, karena kebiasaan angkot-angkot tersebut yang akan langsung jalan jika penumpangnya sudah penuh. Ambil posisi paling pojok disisi kaca belakang, saya seperti merasa dejavu, suasana itu seperti telah pernah saya rasakan. Tidak lama setelah duduk, angkot bergerak pelan menjauh dari Slipi.

Dengan iPod nempel ketat ke telinga, saya menyandarkan kening ke kaca, menatap kearah jalan dan angkot serta motor di belakang yang saling kejar-kejaran. Tanpa terasa saya teringat masa-masa ketika saya naik angkot dulu, telah lebih dari setahun saya tidak lagi naik angkot, semenjak si Meong menemanin tiap hari ke kantor walau terkadang diselingi ditemani si bejo dan ibu.. memory ketika di angkot dulu kembali terangkat, bagaimana hal yang sama saya suka lakukan, menempelkan jidat ke kaca dan memikirkan banyak hal, memikirkan orang-orang yang disayang, perjuangan orang-tua, adik-adik dan kondisi diri sendiri untuk membahagiakan mereka dan berbagai do’a dalam hati demi kebahagiaan mereka kerap saya lakukan dulu, dan memory itu serasa kembali ketika tadi duduk mojok di angkot. Ada keharuan, ada rasa bahwa melakukan napak tilas perjalanan seperti mengembalikan kepada harkat dan niatan yang dulu sempat terbersit dipikiran, mengembalikan diri ke titik nol, titik tempat beranjak.

Tidak lama, saya mulai meraba kamera di dalam tas, dan coba beberapa jepretan sekedar pengingat kelak bahwa perjalanan ini pernah saya lakukan, dan semoga jadi pengingat akan cita-cita mulia yang dulu tercetus pada masa-masa sulit (semoga kedepan lebih baik..).

Sesampai di kebon jeruk, kembali saya terkenang masa-masa berjalan kaki dari jalan lapangan bola ke arah rumah melalui jalan pejuangan. Tidak lupa mampir makan sate Umar Madura di belokan jalan sepak bola ke arah jalan Pejuangan. Hmmm, semua memory itu kembali, dan itu menimbulkan kesan mendalam. Semoga Allah selalu mengigatkan untuk selalu berpijak kepada semua cita-cita mulia, dan semoga Dia mengabulkan..Amin.

Sementara itu, di iPod mengalun Come what may soundtrack Moulin Rouge yang dibawakan oleh Ewan Macgregor dan Nicole Kidman..

Never knew I could feel like this
Like I’ve never seen the sky before
Want to vanish inside your kiss
Everyday I love you more and more
Listen to my heart, can you hear it sings
Telling me to give you everything
Seasons may change winter to spring
But I love you until the end of time

Come what may, come what may
I will love you until my dying day

Suddenly the world seems such a perfect place
Suddenly it moves with such a perfect grace
Suddenly my life doesn’t seem such a waste
It all revolves around you

And there’s no mountain too high no river too wide
Sing out this song and I’ll be there by your side
Storm clouds may gather and stars may collide
But I love you until the end of time

Come what may, come what may
I will love you until my dying day
Oh come what may, come what may
I will love you

Iklan

One thought on “Dejavu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s