The Zahir

……………………..

“Apakah menurutmu ada yang salah dalam hubungan kita? Aku bertanya karena kadang-kadang aku merasa kau tidak menceritakan seluruhnya padaku; ada yang kau simpan untuk dirimu sendiri.”

“Ya, ada sesuatu yang salah. Kita merasa punya keharusan untuk berbahagia bersama-sama. Kau merasa berutang budi padaku atas dirimu yang sekarang ini, dan aku merasa berhak memperoleh lelaki seperti kau di sampingku.”

“Aku punya istri yang kucintai, tapi aku tidak selalu ingat itu, dan kadang-kadang aku bertanya: ‘Apa yang salah dengan diriku?”

“Bagus kalau kau bisa menyadari itu, tapi menurutku tidak ada yang salah pada dirimu atau diriku, karena aku sendiri menanyakan pertanyaan itu. Yang salah adalah cara kita menunjukkan cinta kita sekarang. Kalau kita mengakui bahwa itu menimbulkan masalah, kita bisa hidup dengan masalah itu dan tetap bahagia. Itu akan menjadi pertempuran tanpa akhir, tapi setidaknya itu membuat kita aktif, hidup, dan riang, dengan banyak masalah untuk ditaklukkan bersama; masalahnya adalah kita menuju suatu titik di mana kita merasa terlalu nyaman, di mana cinta berhenti menciptakan masalah dan pertentangan, dan hanya menjadi solusi.”

“Apa salahnya dengan itu?”

“Semuanya. Aku tidak lagi bisa merasakan kekuatan cinta, yang oleh orang-orang disebut kegairahan, mengalir melalui jiwa dan ragaku.”

“Tapi masih ada yang tersisa.”

“Tersisa? Apakah semua perkawinan harus berakhir seperti ini, dengan kegairahan tersingkirkan oleh ‘hubungan yang matang dan dewasa’? Aku membutuhkanmu. Aku rindu padamu. Kadang-kadang aku cemburu. Aku ingin memikirkan apa yang akan kusajikan padamu untuk makan malam, walau kadang-kadang kau bahkan tidak  memperhatikan apa yang kaumakan. Yang jelas, aku merasa tidak ada keriangan.”

“Tidak, itu tidak benar. Setiap kali kau pergi jauh, aku berharap kau ada didekatku. Aku membayangkan apa yang akan kita percakapkan waku kau pulang. Aku menelponmu untuk memastikan semua baik-baik saja. Aku ingin mendengar suaramu setiap hari. Aku masih mempunyai gairah terhadapmu, aku jamin itu.”

“Sama denganku, tapi apa yang terjadi waktu kita berdekatan? Kita berdebat, kita bertengkar mengenai hal-hal remeh, salah seorang dari kita ingin mengubah yang lain, ingin memaksakan pandangannya mengenai realitas. Kaumenuntut dariku hal-hal yang sama sekali tidak masuk akal dan aku melakukan yang sama terhadapmu. Kadang-kadang dalam kebisuan hati kita,  kita bicara pada diri sendiri: ‘Andai aku bebas, tidak punya komitmen.'”

“Kau benar. Dan pada saat-saat seperti itu, aku merasa kehilangan arah, karena aku tahu aku didampingi oleh wanita yang memang kuinginkan.”

Dan aku didampingi pria yang sejak semula memang kudambakan.”

……………………


[dikutip dari salah satu dialog dalam buku The Zahir – Paulo Coelho]

Iklan

One thought on “The Zahir

  1. Ping balik: The Zahir II « Sicindai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s