Uneg-uneg buat si Om

Saya sebenarnya agak males nulis yang seriusan di blog ini, maklum emang bukan kapasitas saya. Jadi ini bukan suatu tulisan yang serius tapi sekedar uneg-uneg, kekesalan sama yang namanya pemerintahan SBY, sorry yaa om, disebut.. tapi ini udah ga jamannya kopkamtib lagi kan yang tiba-tiba ntar malem saya di culik, kalau diculik sama ‘si-itu’ siy mau banget, paling jam 10 dipulangin, tapi kalau diculik trus ga balik-balik dan pulang-pulang saya-nya hamil, haaa kan jadi kacau.. πŸ˜€

Ini niy yang pengen saya protes sama Om SBY, kenapa pemerintahanmu itu males banget siy, bisa cuma naikin, ngatur ini dan itu tanpa ngasih solusi. Semuanya cuma demi angka-angka yang menunjukkan indikator kesuksesan pemerintah ga tau yang namanya kita-kita dibawah udah empot-empotan.

Kepikiran nulis ini sebenarnya berawal ketika saya mendengar kabar tentang pembatasan premium bersubsidi. Yang kedua tadi ketika baca di Media Indonesia hari ini tentang akan diterapkannya ERP (Electronic Pricing Road) untuk pembatasan kendaraan pribadi. Dua aturan itu sebenarnya merupakan aturan yang sejalan, disatu sisi ‘katanya’ buat ngurangin subsidi agar dana yang tadi buat subsidi tidak jatuh ke orang-orang mampu dalam bentuk BBM premium tapi bisa disalurkan buat masyarakat banyak (manaaa.. kita ga pernah rasakan Om, jalan-jalan umum makin jelek penuh lubang ga pernah diperbaiki PU, sekolah-sekolah dari jaman Soeharto ga pernah diperbaiki, orang miskin makin banyak, gaji ga naik-naik, ampuuun..), sementara yang satunya lagi buat pembatasan kendaraan pribadi, yang muaranya tetep pengurangan konsumsi premium oleh kendaraan pribadi.

Naah, nyang bikin saya kesal, keduanya itu cuma program cuci tangan pemerintah, kalau cuma nelorin program kayak gitu buat nyelamatin APBN, ga perlu Om yang jadi presiden, saya juga bisa, abang Udin tukang ojek depan gang juga bisa bikin aturan kayak gitu

Tante Sri: APBN kita seret pak, gimana caranya?

Bang Udin: yang ngabisin tu anggaran apa Tan (te)?

Tante Sri: Subsidi BBM, subsidi BBM untuk listrik Pak

Bang Udin: Yaa dah, subsidinya di potong, gitu aja kok repot?

sayapun kalau jadi presiden juga bisa.. (tapi siapa yang mau milih saya yaaa.. vote sicindai for RI 1, halah πŸ˜€ ). Disitu saya bilang pemerintahan Om itu males, bisanya cuma bikin aturan tanpa mikirin jalan keluar buat mereka yang kena imbas aturan tersebut.. mikir dong om, mikir dong tan (te), dasar males…!

Yang saya sebutkan solusi adalah –ini pemikiran seorang kuntilanak (cindai) penjaga pohon depan aja, jadi aga bodo.. tapi ga salah kalau didengarin–, kalau emang orang-orang yang sekarang berkendaraan pribadi ‘dipaksa’ bayar mahal biar mereka mau meninggalkan kendaraannya dan beralih ke moda transportasi umum, pertanyaannya

  1. mana transportasi umum yang layak buat mereka, mana hayoo.. pasti kalau mereka beralih ke moda yang skarang ada, mereka akan begelantungan di pintu Bus/Metromini atau ikut-ikutan duduk di atap kereta api karena ga ada tempat, penuh, armada kurang..
  2. Apakah moda transportasi itu udah terintegrasi. Mbus-way, hmmm no way.. isinya cuma secuil buat ngangkutin orang yang segunung, ga mungkin Om, itu pikiran bodo si paman guber sebelumnya, (paman guber yang sekarang kayaknya juga bodo juga walaupun katanya bergelar Eng. dalam perencanaan kota πŸ˜› )

Harusnya Om nyiapin dulu dua hal diatas sebelum brani naikin. Cukup dua itu, kalau Om bisa penuhi, Om mau naikin harga BBM selangit sampai langit ketujuh juga boleh, karena mereka akan tetap milih naik kendaraan umum. Disisi lain sebenarnya industri otomotif pasti ga mau niy solusi kayak gini begitu juga dirjen pajak juga akan kepangkas pendapatannya, disitu tugas Om, dan Om-om dan tante-tante lainnya yang dikabinet buat mikirin…sebenarnya masalah negara ini emang banyak, Om jangan milih yang mudahnya aja, situ kan presiden.. πŸ˜›

===========

ps. Masalah kelayakan dan harga transportasi umum sebenarnya akar masalah khususnya Jakarta, termasuk fenomena program 10 juta motor di jakarta.. (Program siapa tu yaa, ngarang siiyyy.. πŸ™‚ ), pembahasan yang bagus tentang fenomena motor dan mass transportation ini bisa baca di blog nya Aa Noto, redaksionalnya yang pasti ga seamburadul tulisan diatas. Saya setuju dengan mu Aa πŸ˜€

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s