Social Responsibility

Ada kesedihan ketika membaca tulisan ‘Suara hati trainee BRI yang kecewa’ di blognya Priandoyo, sedih karena prihatin atas nasib teman-teman yang kecewa atas perlakuan BRI dalam proses penerimaan, sementara disisi lain juga sedih karena bank ini ternyata menyimpan banyak kekecewaan kepada orang-orang.

Saya tidak berada di pihak manapun baik teman-teman yang kecewa maupun BRI, dan saya juga tidak punya pendapat apapun apakah membela apalagi menasehati teman-teman, tapi dengan posting ini saya rasa cukup sebagai wujud simpati terhadap teman-teman yang dikecewakan.

Yang jadi sorotan saya adalah tentang sosial responsibility suatu perusahaan yang sekarang giat digalakkan. Saya melihat semua itu lebih sebagai media promosi terselubung dibanding dengan ketulusan perusahaan melakukan suatu bakti amal yang terhadap lingkungan sekitar. Liat aja betapa banyak kegiatan Social responsibility yang muncul di harian Kompas setiap minggunya.

Kecendrungan perusahaan modern yang profit oriented sepertinya bertolak belakangan dengan keharusan perusahaan melakukan social responsibility sehingga sulit membuktikan bahwa perusahaan tersebut benar-benar iklas dalam melakukan suatu kegiatan amal bakti social atau lebih untuk memenuhi kewajiban, atau malah sebagai iklan terselubung. Semua itu sebenarnya mudah dibuktikan dengan cara bagaimana perusahaan tersebut membina hubungan baik dengan lingkungan terdekatnya, yaa paling dekat adalah bagaimana perusahaan tersebut menghargai SDM melalui kesejahteraan karyawanannya karena perusahaan sekarang cendrung menjaga jarak dengan SDM nya, sehingga SDM tidak lagi komponen dari perusahaan tapi lebih sebagai partner. SDM adalah komponen sosial terdekat dengan perusahaan, melihat bagaimana perusahaan me-maintain SDM nya, mencerminkan pandangan sebenarnya perusahaan terhadap lingkungan sosial yang lebih luas. Selain itu juga perlu dilihat dalam hal etika berbisnis perusahaan kepada partner bisnis, nasabah dan baru terhadap lingkungan sekitarnya.

Naah, meskipun tidak semua pihak bisa dipuaskan, tapi sebenarnya selama semua dilakukan semua fair, masyarakat akan bisa menilai bagaimana perusahaan tersebut sebenarnya, dan apakah pantas disebut sebagai perusahaan memiliki kepedulian sosial atau cuma kepedulian palsu 😦

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s