Adil

Huuuh, setelah menjalani hari yang berat kemaren – sangat berat – semalam sampai di rumah, makan dan bablas tidur, bangun-bangun jam 11, sempat nonton DVD Prison Break sebentar, nyambung tidur lagi dan kebangun tadi subuh-subuh dah ga bisa tidur, yaa dah ngetik ini blog.

Beberapa hari ini saya agak terganggu dengan masalah pemimpin yang adil, pertama setelah kematian Pak Harto, saya jadi mikir apakah pemimpin itu bisa kayak Hakim yang kalau sang pemimpin salah dalam mengambil keputusan tetap dapat satu pahala sedangkan kalau benar dapat dua pahala, selama keputusan itu diambil berdasarkan suatu azas keadilan. Tapi bagaimana dengan cerita teman yang pernah duduk di level managerial tentang kecendrungan management di sebuah perusahaan biasanya punya goal untuk efisiensi, salah satunya adalah dengan menekan kesejahteraan staf dibawahnya, dimana jika dia berhasil akan mendapatkan reward untuk itu, apakah demikian pemimpin yang adil. Khusus untuk yang namanya kesejahteraan, itu masalah hak seseorang terhadap keringat yang udah dikeluarkannya, menjadi pemimpin yang tidak bisa menghargai keringat anak buahnya dengan reward yang sepadan apalagi hanya atas momok ‘efisiensi’ sungguh suatu keputusan yang harus dipertanggungjawabkan tidak hanya di akhirat kelak dan tapi mungkin akan mendapat ganjalan di dunia. Selama suatu keputusan tidak berdasarkan ‘suka atau tidak-suka/subjectif’ atau ‘efisiensi’ insyaallah adalah penilaian yang adil, wallahu’alam.

Terakhir, sebuah kisah tentang Umar ra, Umar bin Khattab dikenal sebagai pemimpin yang adil dalam Islam, berikut kisahnya;

ketika sang Khalifah sedang ’meronda’, ia mendengar tangisan anak-anak dari sebuah rumah kumuh. Dari pinggiran jendela ia mendengar, sang ibu sedang berusaha menenangkan anaknya. Rupanya anaknya menangis karena kelaparan sementara sang ibu tidak memiliki apapun untuk dimasak malam itu. Sang ibupun berusaha menenangkan sang anak dengan berpura-pura merebus sesuatu yang tak lain adalah batu, agar anaknya tenang dan berharap anaknya tertidur karena kelelahan menunggu. Sambil merebus batu dan tanpa mengetahui kehadiran Khalifah Umar diluar jendela, sang ibupun bergumam mengenai betapa enaknya hidup khalifah negeri ini dibanding hidupnya yang serba susah. Khalifah Umar yang mendengar hal ini tak dapat menahan tangisnya, iapun pergi saat itu juga meninggalkan rumah itu. Malam itu juga ia menuju ke gudang makanan yang ada di kota, dan mengambil sekarung bahan makanan untuk diberikan kepada keluarga yang sedang kelaparan itu. Bahkan ia sendiri yang memanggul karung makanan itu dan tidak mengizinkan seorang pegawainya yang menemaninya untuk membantunya. Ia sendiri pula yang memasak makanan itu, kemudian menemani keluarga itu makan, dan bahkan masih sempat pula menghibur sang anak hingga tertidur sebelum ia pamit untuk pulang. Dan keluarga itu tak pernah tahu bahwa yang datang mempersiapkan makanan buat mereka malam itu adalah khalifah Umar bin Khatab !

Tema yang pas buat hari jum’at 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s