Amanah

Hari ini si Aa Gym Muncul lagi di Kick Andi, pengulangan dari yang dulu pernah ditayangkan tapi dalam versi yang lebih komplit tanpa di edit. Salah satu potongan wawancara yang dulu tidak ditampilkan adalah ketika Aa bercerita tentang orang yang memberikan komentar tidak baik terhadapnya. Aa memberi perumpamaan, perkataan itu seperti apa yang keluar dari cangkir, kalau isinya kopi keluarnya kopi, isinya susu keluarnya susu atau isinya air putih keluarnya air putih. Hati digambarkan sebagai cangkir, sementara perkataan adalah isinya yang keluar tadi. Saya tertarik dengan perkataan ini terutama tentang menjaga ucapan, tentang apa yang terucap adalah gambaran dari hati kita, keluar kotor isinya kotor, sementara yang terucap baik apakah benar didalamnya baik.

Saya agak sangsi dengan hal itu, tapi semuanya balik ke diri masing-masing. Kadang emang karakter masing-masing orang yang tidak bisa menjaga ucapannya, sehingga apa yang kepikiran atau dirasa langsung ditumpahkan, sehingga apa yang ada dalam hatinya begitu jelas tergambar dengan ucapannya. Disana ucapan si Aa ada benarnya. Tapi bagaimana dengan mereka dengan karakter yang sangat berhati-hati dengan ucapannya, apa benar hatinya sebersih ucapannya, hmmm instrospeksi diri masing-masing aja yaaa, karena tulisan ini juga bagian dari instrospeksi saya, apa benar apa yang terucap atau ditulis disini merupakan gambaran dari diri saya sebenarnya. Berkaitan dengan itu, banyak hal dari tulisan disini sebenarnya merupakan gambaran dari diri saya atau paling tidak merupakan suatu hal yang ingin saya capai 🙂

Khusus berkaitan dengan hati, ada sedikit sebenarnya yang cukup mengganggu yang biasanya susah saya petakan, sebenarnya hati saya ini benar apa ga siy, yaitu masalah kepercayaan. Dari dulu, saya menganggap diri saya ini adalah orang yang mudah percaya, atau minimal selalu berusaha percaya pada semua orang. Kenapa saya bilang berusaha, karena saya punya banyak sekali pengalaman buruk masalah kepercayaan. Tiap ketemu orang baru, teman atau kerabat lama, satu hal yang selalu saya bunuh adalah rasa curiga dan coba selalu menanamkan rasa percaya. Tapi entah kenapa, dalam beberapa kasus, orang yang saya ragukan untuk dipercaya, ternyata memang menghianati kepercayaan yang saya berikan. Disana saya ragu, apa itu pelajaran dari Tuhan agar saya jangan ragu dan totally percaya, atau justru sebaliknya, jangan terlalu percaya.

Naah disitu yang saya bilang tadi, saya terus terang ragu akan sikap hati saya dalam hal kepercayaan, apa saya salah dengan terlalu percaya atau justru adanya secuil keraguan akan seseorang adalah sikap yang tidak pantas dipelihara. Satu yang saya yakini, masalah kepercayaan adalah masalah amanah, dan yang namanya memelihara amanah mendapat tempat yang khusus dalam agama, karena amanah adalah salah satu kunci dalam habblum munan naas, ketika kita menghianati amanah, disaat itulah hubungan silaturahmi menjadi taruhannya, wallahu’alam.

Serius lageeeee…! 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s