Spontan

Di posting kali ini saya akan cerita tentang obrolan saya dengan seorang teman. Ceritanya, teman ini adalah teman dekat saya, saking dekatnya, hampir semua tentang dia termasuk kisah cinta dengan pacar terakhirnya saya juga tau, maklum selama ini saya jadi kertas putih tempat dia menuliskan semua keluh kesahnya..

Naah, suatu sore kita ngobrol, tepatnya dia ngobrol saya mendengar.. Dengar banyak tentang kisah-kisah happy nya dengan pacar dia yang skarang. Saya tentu senang liat teman lagi senang, lagi berbunga-bunga.. Kalau saya juga lagi berbunga-bunga, tapi bunga bank.. Bayar cicilan maksudnya šŸ˜€

Ya udah, setelah cerita panjang, tiba-tiba saja muncul ucapan yang spontan dari mulut saya ‘ngomong-ngomong, apa yang telah kamu perbuat untuk membahagiakannya?’.. Ups, teman itu kaget, sekaget saya yang juga ga percaya apa yang berusan keluar dari mulut sendiri. Saya coba menyusun semua yang ada diotak, coba merunut apa yang melatarbelakangi ucapan sepontan tersebut. Akhirnya saya bisa susun dalam satu rangkaian kalimat seperti ini;

“dari dulu saya selalu dengar tentang bagaimana dirimu terhadap dirinya, bagaimana sms-sms mu, bagaimana panggilan-panggilan telpon mu, bagaimana ajakan dan perjalananmu bersamanya, bagaimana semua hadiah dan oleh-oleh ditiap perjalananmu, serta semua perhatianmu akan dirinya.. Tapi pernahkah terpikir olehmu bahwa semua itu hanya untukmu, untuk menyenangkan dirimu pribadi, sms dan telpon-telpon itu hanya untuk memenuhi kegundahan hatimu, perjalanan itu hanya untuk menyenangkan hatimu, hadiah-hadiah itu, saya ga tau apa ikhlas dari dirimu atau sebagai penarik perhatiannya atau juga mungkin pamrih atas perhatian dia akan dirimu”

Kemudian saya menarik nafas, coba ngumpulin kekuatan.. Dan satu kalimat terakhir terlontar

“Pernahkah dirimu tanyakan padanya, apakah sesungguhnya yang bisa kamu perbuat untuk membuat dia bahagia?”

Sore itu terasa lama, selama tulisan ini ikut dalam perjalanan dari tadi di pesawat sampai malam ini menjelang di upload

enjoy šŸ˜€

(terinspirasi dari hadist qudsi tentang surat Al-fatihah ketika Allah swt berkata bahwa bismillah – iyyakana’budu itu untuk Allah, sementara iyya kanash ta’in – wa’ladh dhalim.. Itu untuk hamba-Ku, dalam kaitan dengan teman saya tersebut, dia baru pada tahap iyya kanash ta’in, untuk dirinya tanpa pernah ingat untuk memberi apa yang diminta oleh Yang Dicintanya.. mengamalkan bismillah.. sebuah pemikiran sufistik hah hehehe.. Ria :D)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s