Mana tuan mu

Lagi semangat nulis, jadi lanjutin akh. Setelah selesai dengan tentang Vietnam, saya jadi keingat tentang masalah nasionalisme. Kecintaan terhadap negeri ini. Meski baru mengunjungi negeri orang bisa di itung dengan jari, dan itupun variasinya ga banyak, tapi satu yang bisa saya simpulkan, I luv my country.

Saya ga perlu dengan perempamaan ‘hujan emas di negeri orang – hujan batu di negeri sendiri’ buat menggambarkan kecintaan atas negeri sendiri, karena itu berlebihan, kalau ada hujan emas di negeri orang pasti harga emas bakal jatuh dong, ngapain kesana hehehe… So, apa yang bikin saya sangat cinta akan negeri ini, lebih karena suasana religiusnya. Satu hal yang selalu saya ingatkan ke teman-teman yang pengen kerja keluar negeri sana, bagi mereka yang muslim, percaya deh, anda tidak akan mendapatkan suasana tersebut. Paling simple adalah, anda tidak akan pernah dibangunkan dengan yang namanya azam subuh, anda tidak akan pernah merasakan enaknya suasana jum’atan seperti jum’atan disini, meski disini kalau jum’atan sering sendalnya raib terbawa kaki-kaki yang tidak bertanggung jawab, tapi tetap shalat disini jauh lebih enak. Belum lagi lebaran, uuhhhh, anda ga akan bisa menikmati gema takbir, hangatnya suasana mudik, tidak cuma perjalanannya tapi suasana keriuhannya menjelang mudik dan juga arus balik, dan tentu puncaknya lebaran.. dijamin, anda tidak akan bisa menikmati.

Masing-masing orang mungkin beda-beda yaaa, tapi bagi saya pribadi tidak ada yang lebih berharga didunia ini kecuali yang namanya nuansa religi, dan negara ini dengan kebobrokan mental orang-orangnya, masih jauh nuansa religinya daripada dimanapun..

Trus, ada yang nanya, bagaimana jika kerja nya ke Malaysia, yaaa kalau Malaysia siy ga jauh kayak indonesia, ngapain merantau kesana.. negara Arab, akhh males, seberapapun banyaknya duit disana, anda tetap seperti bangsa budak disana, bangsa kelas bawah dimata mereka, ngapaiin.. Jadi ingat cerita teman, dia kerja di offshore, dan kebetulan checkpointnya di salah satu negara Arab. Naah ketika dia nyampe di bandara, petugas bandaranya nanya ‘Mana tuan mu’.. gubrak, capeee dey, emang enak dikira pembantu – TKI.. sebegitu rendahnya orang kita dimata orang sana.. 😦

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s