Dicari: Teman Lama

Nama: Indra Gunawan dan Rima (saja)

Mereka adalah teman-teman dekat, sempat sangat dekat sekitar tahun 96-98 (kalau ga salah). Dua teman aktivis HMI UI angkatan 93 yang kebetulan ketemu di salah satu kegiatan kerjasama kanpus ITB-UI-IPB. Kita sempat bikin kegiatan semacam KKN di daerah Jonggol sekitar tahun 96. Waktu itu Jonggol jadi promise land karena gosipnya bakal jadi wilayahnya Bambang Tri. Ga tau waktu itu, maksudnya jadi wilayah Bambang Tri, tapi yang pasti tanah di daerah sana benar-benar laku keras, hmm semuanya udah di patok dan dibeli orang kota. Yang paling ‘basah’ waktu itu yaaa kepala desa karena semua pengurusan dan pembebasan tanah melalui kepala desa, dan tentu mereka dapat bagian yang sangat besar dari pembebasan lahan tersebut. Kesejahteraan mereka dapat dilihat dari rumah mereka yang beusar banget, blum lagi mobilnya banyak. Orang-orang dekat kepala desa semuanya dapat bagian mobil dan income lain-lainnya sehingga juga punya rumah-rumah bagus.

Waktu di Jonggol, kita, saya dan 5 orang teman laennya termasuk Rima dan Indra, nginap di salah satu tangan kanannya kepala desa. Orang kaya tapi tetap bergaya kampung, dan baek banget, sayang saya lupa namanya. Rumah tempat kita nginap tersebut berada di salah satu lereng bukit, dengan view sawah lereng bukit dan sungai membelah di daerah lembah. Kalau di ingat-ingat sangat indah, kita biasanya abis shalat subuh berjamaah, suka tiduran di bale-bale bambu yang berada di halaman rumah, dan kadang tertidur karena dinginnya udara perbukitan dan baru kebangun ketika diterpa cahaya matahari pagi. Pokoknya, waktu itu suatu pengalaman yang tidak terlupakan. Belum lagi kalau jalan naik ke bukit di belakang rumah. Karena suburnya wilayah tersebut, daerah bukitpun dapat ditanami padi, jadi kita kadang cari udara segar diantara sawah-sawah dengan masih hijau dan baru tumbuh.

Belum lagi pengalaman naik transportasi dari kecamatan jonggol ke desa tempat kita tinggal. Biasanya ditempuh menggunakan mobil Colt atau L300 bak terbuka dimana orang-orang pada duduk dikeliling sisi mobil bak. Yang kasian teman cewek kayak Rima, biasanya agak kesulitan, belum lagi dengan pakaian jilbab besar yang dikenakannya. Ingat Rima, walau berjilbab besar, anaknya sangat enak diajak ngobrol dan punya wawasan luas. Belum lagi dia ada darah padangnya, jadi sangat interest kalau udah ngomongin seputaran adab padang, kayak cara makan dan lainnya. Trus kalau Indra, anak hukum UI dengan pola pikir yang sangat terstruktur tipikal orang hukum. Jadi kalau dengar orangnya debat, enak banget, belum lagi pemilihan katanya yang sangat bangus. Satu kritik dia yang saya masih ingat sampai sekarang ketika dalam salah satu diskusi saya sempat bilang ‘gini aja..!’, si Indra langsung mengkritik cara saya ngomong ‘gini aja..!’, dia bilang dalam diskusi kita ga boleh ngomong ‘gini aja’, karena itu adalah ungkapan menyimpulkan sementara yang namanya dalam diskusi terbuka tidak ada satu orangpun yang berhak menyimpulkan, kecuali telah disepakati bersama. Sampai sekarang saya sangat menghindari penggunaan kata ‘gini aja..’ dan diganti dengan kata ‘menurut saya..’ yang lebih bersifat pendapat personal dan tidak bersifat konklusi. Ooo yaa belum lagi saya yang sempat mau di jodohin sama si mba’ bidan desa sana, maklum waktu itu saya nya sama anak-anak sana dibilang kayak Ari Wibowo, halah… (sinetron apa yaa waktu itu, yang tokohnya Ari Wibowo dengan rambut panjang.. gini-gini sempat jadi anak metal juga hehehe), hihihi nama si mba’nya siapa yaaa.. orangnya baek, orang kota yang kebetulan ditugasin disana.. coba kalau jadian.. halah

Begitulah, belakangan saya jadi teringat mereka, ga tau pengaruh umur juga kali yaa hehehe, kayak orang tua aja yang mulai mengenang masa mudanya.. halah. Saya lost contact karena memang ga punya no telpon, maklum jaman gituan kan belum punya hape, paling surat-suratan.. halah. Alamat, rumah ortu si Rima sekitar Pondok kelapa – Kalimalang kalau ga salah. Terakhir dengar kabar mereka Indra n Rima udah married, mereka berdua married, ternyata ada hasilnya juga perjalanan ke Jonggol hehehe.. Sepertinya harus bongkar-bongkar koper lama buat dapetin foto mereka, sekedar pelepas kangen, halah..

Buat yang baca ini dan kebetulan kenal ama mereka, kabar-kabari yaaa.. (gosip kali kabar-kabari..^^)

nb. Terakhir dengar cerita teman yang masih sempat main ke Jonggol, daerah tersebut kembali jadi desa miskin, semua yang sempat mencicipi manisnya ‘uang’ hasil pembebasan tanah kembali hidup susah karena tidak bisa mengelola uangnya, dan tidak terwujudnya ‘promise land’ berbarengan dengan jatuhnya rezim Soeharto, kasian.. moga suatu hari saya diberi kesempatan untuk balik kesana sekedar silaturahmi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s