Kurban

Tadi siang saya dapat sedikit cerita dari teman tentang diskusi makna kurban untuk saat ini. Diskusinya ga berat-berat kok, ga ngomongin agama yang mendalam. Yang jadi sorotan adalah masalah object korbannya yaitu si mbek dan si sapi. Ada teman yang bilang, sepertinya kita patut mereview ulang, apakah bisa hewan tersebut digantikan dengan bentuk yang laen. Bukankah pada daging hewan-hewan itu terdapat banyak sekali penyakit, bukankah daging merah itu sumber kolesterol, darah tinggi dan teman-temannya, belum lagi sekarang banyak terdapat penyakit hewan yang menular ke manusia seperti antrax dan sapi gila, bukannya kita kudu hati-hati.

Benar siy alasan teman yang tadi, belum lagi kebiasaan disini, jakarta khususnya, pada saat kurban terlalu banyak mudarat yang terjadi, pengurus masjid cari keuntungan dari penyelenggaraan korban (itu kata teman, saya sendiri ga tau), trus daging hasil kurban dibikin berbagai macam makanan trus dimakan berame-rame. Selain konsumsi makan daging yang berlebihan, kadang terdapat juga kemubaziran disitu. Belum lagi mereka yang ikutan kurban, biasanya dapat jatah daging kurban yang juga banyak, naah biasanya suka lupa diri misal makan sate yang kebanyakan, sehingga kolesterolnya naik lagi. Pokoknya, terlalu banyak kemudaratan dalam proses kurban saat ini, demikian kesimpulan teman tersebut, dan sebagian saya aminkan.

Ada benar juga, tapi menurut saya yang perlu direvisi sekarang adalah mekanisme pemberian daging kurban tersebut. Penggunaan kambing dan sapi boleh-boleh aja, tapi kepada siapa daging kambing dan sapi itu diberikan. Sebenarnya semua yang dihalalkan oleh agama itu baik untuk dimakan. Yang salah kita sendiri yang mengingkari prinsip dasar larangan dalam agama yaitu berlebihan. Agama saja melarang beribadah yang berlebihan, apalagi makan. Naah biasanya semua itu menjadi sumber penyakit karena dikonsumsi secara berlebihan. Yaa kan, toh dari SD pun kita udah diajarin tentang kecukupan gizi lewat 4 sehat 5 sempurna, bukankah disitu termasuk daging-dagingan.

Naah, untuk itu perlu perbaikan mekanisme, harus cari dulu target penerima daging kurban tersebut, terutama orang miskin yang memang jarang sekali memiliki lauk pauk berupa daging (makan aja kadang jarang). Trus, setau saya kurban itu cendrung kepada ritual, sehingga tidak ada keharusan tentang siapa penerima kurban yang disyara’kan. Tapi akankah lebih baik, kalau memang sudah susah mencari penerimanya, sementara kalau di konsumsi sendiri akan membuat kemudaratan seperti penyakit yang kambuh, yaaa akan lebih baik jika uang buat kurban itu dimanfaatkan untuk hal yang lebih bermafaat seperti santunan buat uang sekolah anak-anak ga mampu, atau membantu tetangga yang lagi kesusahan, dan perbuatan mulia lainnya..wallahu’alam.. just my opinion ^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s