Silat Lidah v.1

Dah lama ga bikin tulisan serius, terakhir beberapa bulan lalu ngomongin masalah kemacetan. Naah sekarang saya coba kembali bikin posting yang aga seriusan. Moga ga bosen ngebacanya, karena ga ada bagusnya, dan yang pasti ga ada isinya.

Oke, ide tulisan ini sebenarnya muncul barusan ketika nonton Silat Lidah, bagi yang ga gaul dan jarang nonton tipi, silat lidah eta teh acara nu ti ANTV, acara yang diisi oleh ibu-ibu yang brisik dan si Irawan, moderator yang pede abis. Di silat lidah tadi ada pernyataan dari pemirsa yang mengatakan negara kita ini ga maju-maju karena rakyatnya terlalu banyak mengkritik pemerintah. Lah jelas aja penalis khususnya mbak Ratna Sarumpaet yang paling sering mengkritik pemerintah merasa terbakar jenggotnya, ooo ga ada jenggot yaa. Alasannya jelas, mereka (pemerintah) yang diberi tugas mengatur negara dan wajar di kritis karena gagal mengemban tugasnya. Ditambah lagi komentar Lula Kamal yang mengatakan bahwa sebagai orang yang membayar pajak, wajar warga menuntut haknya ke pemerintah yang seharusnya mengelola pajak untuk kesejahteraan rakyatnya dan bukan malah dikorupsi.

Terlalu serius yaa, ga papa dah kadung ^^. Ada dua hal sebenarnya yang saya sorot dari diskusi tersebut dimana kedua sisi menurut saya sama benarnya, si pemirsa dan si penalis. Cuma sayangnya mereka berada di sisi yang beda, dan menggap pendapat mereka yang paling benar, padahal keduanya menurut saya benar. Kenapa;

Pertama, saya akan pandang dari sisi penalis dulu, dan mereka benar, seharusnya memang kita sebagai orang yang bayar pajak harus menuntut hak kita. Coba bayangkan, betapa banyak pemerintah narik pajak dari kita. Paling gampang ngitungnya, coba itung mana siy bagian dari kehidupan kita yang tidak dikenai pajak, retribusi dan berbagai pungutan yang masuk ke kantong pemerintah. Mulai makanan, berasnya itu udah kena retribusi mulai dari truk pengangkutnya, pajak truknya, BBM yang dipakai pasti ada persen pajaknya, trus retribusi untuk toko yang menjualnya di pasar. Itu baru beras, kalau anda makan indomie, brapa persen harga itu adalah object pajak. Pakaian, hmm pasti kena pajak, kalaupun usaha rakyat, minimal kain sebagai bahan dasar di pabriknya udah di pungut pemerintah pajaknya. Apa lagi, anda bawa kendaraan, mulai harga mobil yang 30% nya adalah pajak, BPKB, anda masuk tol ada komponen pajaknya, aaakkkh banyak banget. Belum lagi gaji anda yang merupakan hasil keringat anda, brapa persen tuh dipalak pemerintah. Saya suka dapat laporan tiap taun saya gross dan neto gaji saya brapa, sebelum dan setelah di pajak. Busyeeet, buanyak banget yang diambil pemerintah, sementara mana buat baliknya ke saya.
Pertanyaannya, yaa itu, mana yang balik ke anda..! harga beras tetep mahal, harga makanan tetap mahal, jalan yang anda lalui tetep jelek, lampu jalan tetep mati, belum lagi polisi yang digaji dari pajak anda, tetap memalak anda dengan jebakannya dijalan raya, urus katepe, gaji mereka dari kita, tetep mereka minta lagi jatah, capee dey.

Ooo yaa selagi ingat, ngomongin masalah pajak, saya teringat belum lama ini baca dari salah satu blog orang amrik sana yang protes tentang undang-undang yang memberikan subsidi terlalu besar terhadap petani. Heran dey, orang sana protes karena petaninya yang terlalu sejahtera karena subsidi. La kok, ga salah tuh, disini petani itu kelompok yang paling melarat, tapi disana ternyata adalah kaum yang paling sejahtera. Masih di blog tersebut, dia ngasih perumpamaan jika produk pertanian itu berupa sebuah iPod, saat ini pemerintah memberikan instentif dalam pembuatan iPode misal 200 dollar, sementara nilai iPod itu sendiri dan tercermin dari harga di pasaran cuma 20 Dollar. Bayangin, gimana produsen iPod dalam hal ini ga semangat bekerja, makin banyak mereka memproduksi iPod, makin besar keuntungan yang mereka dapatkan dari selisih instentif yang 200 dollar dengan harga jual yang cuma 20 dollar yang secara kasat mata, jelas mereka untung 180 dollar setiap iPod yang terjual. Untuk mensiasati over produksi si petani iPod ngakalin dengan membuat varian produk dan dengan itu secara otomatis juga memberi nilai tambah, sehingga satu iPod yang awalnya bernilai 20 dollar, harganya bisa naik menjadi 30-50 dollar, sehingga si petaninya makin sejahtera aja. Perumpamaan varian ini contohnya pada produksi jagung, dimana sekarang si petani sana tidak hanya menghasilkan jagung, tapi jagung dalam berbagai macam varian produk seperti susu, gula rendah kalori, corn dan lainnya.

Tapi salah satu message dari protes ini adalah meski di protes, hal positifnya adalah pemerintah sana ternyata menjalankan fungsi mediasinya yaitu pajak yang dibayar rakyat kembali dinikmati oleh rakyat juga dalam hal ini dalam bentuk subsidi pertanian karena memang petani berada di rantai paling lemah. Bandingkan dengan disini, saya pribadi ikhlas jika sebagian pajak yang saya bayar menjadi subsidi buat mensejahterakan petani, bukankah memang dulu di jaman sahabat Nabi, baitul maal bisa berlimpah karena zakat pada waktu itu bisa disamakan dengan pajak dizaman sekarang sangat banyak terkumpul dan dikelola dengan baik. Zakat (pajak) tersebut kemudian disalurkan ke orang yang tidak mampu, yang sekarang ini adalah para petani. Makanya, saya ikhlas diberikan ke mereka bukan di korupsi seperti sekarang ^^

(bersambung.. kaya film ajah ^^)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s