Grand ma

“kerja dimana nak”. “Di BRI pak”.. “ohh penyiar”..

Demikian sekelumit obrolan dengan kakek-kakek yang kebetulan ketemu di Bus dari bandara Minangkabau padang menuju ke Bukittinggi. Dengar jawaban tersebut sebenarnya pengen ketawa ngakak, bilang BRI dikira RRI hehehe, tapi gimana lagi, namanya juga kakek-kakek, indra pendengarannya udah ga bisa di tune-up lagi.

Kali ini saya kembali mudik, belum genap 2 minggu abis mudik lebaran, sekarang mudik lagi, tapi kali ini gara-gara tugas kantor. Berhubung tugas ke padang, yaa udah mampir dulu ke home town bukittinggi. Potongan obrolan tersebut sedikit dari pengalaman mengesankan ketika perjalanan dari kota padang ke bukittinggi. Ada suasana yang beda antara di daerah dengan di ibukota, suasana kekeluargaan sangat kental terasa. Liat aja, si kakek tadi baru duduk di bus disamping saya langsung nawarin permen, kekeh lagi nawarin agar di ambil. Dari nawarin permen si kakek ngajak ngobrol panjang, mulai dari asalnya yang kebetulan seputaran bukittinggi juga, bagaimana dia baru balik dari Jakarta menengok anaknya yang baru ditinggal suaminya yang meninggal akibat kecelakaan dan banyak cerita lainnya. Suasana yang tidak akan didapatkan kalau naik angkutan umum di jakarta yang kalau diajak ngobrol, biasanya kalau ga ditanggapi dingin atau kadang curiga duluan, jangan-jangan yang ngajak ngobrol punya masuk tersembunyi. Saling curiga dan ketidakpercayaan itu selalu yang melandasi hubungan di ruang public di jakarta.

Pengalaman selanjutnya adalah perjalanan dari padang ke bukittinggi yang melewati lembah anai dengan kontur alam yang berbukit-bukit, belum lagi hutannya yang masih virgin ditambah suara sungai di kembah dibawahnya, sungguh sangat enak buat nyuci mata. Memasuki kota Padang Panjang, kota antara Padang dan Bukittinggi, terasa suasana lembab, embun yang menyelimuti kota padahal udah hampir jam 12 siang sungguh suatu pengalaman yang menakjubkan. Jarak pandang yang tidak lebih dari 50 meter karena pekatnya embun, sungguh suatu pengalaman unik yang akan tidak didapatkan dikota seperti jakarta. Suatu pandangan yang menyedihkan adalah melihat rumah-rumah kota tersebut yang banyak sekali retak-retak sebagai dampak dari gempa hebat pada maret lalu. Rumah yang sangat rentan roboh jika sempat muncul gempa hebat lainnya sungguh suatu pandangan yang menghibakan.

Fuuuss.., akhirnya nyampe lagi dirumah. Liat suasana sepi, menandakan ortu lagi keluar rumah dan pasti cuma tinggal nenek yang ada di rumah. Dan benar, ternyata ada nenek yang ditemani mak tuo (istri paman tertua), dan ternyata si nenek lagi sakit. Suatu yang mengharukan melihat nenek terbujur di tempat tidur dalam kondisi lemes karena telah dua hari sakit. Ada kesedihan yang mendalam melihat nenek dalam kondisi seperti ini. Terlihat sekali, kondisi ini dipengaruhi oleh umur beliau yang telah mencapai lebih dari 92 tahun yang gampang sekali terserang sakit, apalagi rata-rata karena dipengaruhi faktor psikis seperti sakit sekarang ini yang tidak lebih disebabkan oleh baru ditinggal para cucu dan cicit sehabis rame-rame lebaran kemaren. Mendengar cerita beliau membuat saya sering terharu, bagaimana beliau sangat ingin untuk cepat dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, karena tidak ada lagi obsesi beliau di dunia ini. Saya jadi kepikiran, bagaimana ketika kita semakin tua, semua bersifat duniawi tidak ada arti apa-apa lagi, dan tidak ada yang lebih indah kecuali menghadap-Nya. Dengan hadirnya para cucu dan cicitlah yang menyebabkan beliau masih dapat bertahan dan Alhamdulillah kepulangan saya kali ini setidaknya kembali dapat menjadi obat bagi beliau, buktinya saat ini beliau sudah kembali sanggup duduk didepan saya ketika saya menulis Blog ini

Ingat sang nenek, saya jadi ingat bagaimana dari saya kecil si nenek telah berjalan ditopang oleh tongkat karena rematik akut yang menyerang si nenek. Bagaimana saya ga sengaja menyebabkan gigi si nenek rontok karena becanda yang kelewatan, maklum masih anak-anak. Bagaimana dari kecil saya selalu dianggap cucu kesayangan karena selalu dianggap mendapat perlakuan istimewa terutama uang jajan dan makanan yang selalu disisihkan special buat saya. Mungkin saya secara ga langsung dianggap sebagai renkarnasi dari kakek yang meninggal 1 minggu sebelum saya lahir, dan oleh para tetua saya memang dianggap memiliki wajah dan karakter yang mirip dengan si kakek, kecuali dalam hal ngambek, si kakek sangat gambang ngambek, sementara saya orang nya baik banget… halah hihihi. Bagitulah, hal itu yang menyebabkan sampai sekarang saya selalu punya ikatan emosional yang sangat dalam dengan si nenek, salah satunya seperti sekarang, terkadang ga sengaja saya selalu hadir disaat beliau sakit karena kangen sama cucu-cucunya. Satu yang saya syukuri sampai sekarang adalah si nenek masih punya ingatan yang baik dan belum pikun, sehingga beliau sampai sekarang tetap menjadi tempat meminta pertimbangan yang sangat baik, sangat bijak, dan seperti jadi kebiasaan orang minang, selalu memberi nasehat dengan perumpamaan yang sangat indah dan penuh makna. Kadang muncul rasa ikhlas seandainya beliau dipanggil sang Kuasa ketika melihat penderitaan beliau kalau lagi sakit seperti kemaren, tapi disisi yang lain seperti ada rasa kehilangan besar jika benar-benar beliau dipanggil, karena beliaulah pemersatu keluarga besar saat ini, karena beliaulah semua keluarga selalu berkumpul dan kompak seperti pas lebaran kemaren.

Love you so much grand ma.. -_-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s