Nu Opat

Berhubung lagi mudik, suasana disini pasti padang begete, yaa udah postingnya ga bakal jauh dari tema padang. Sing sabar, tinggal 3 hari lagi, pasti abis itu postingnya temanya kembali normal ^^

Ada yang menarik ketika acara silaturahmi keluarga pada lebaran pertama kemarin. Ketika semua keluarga ngumpul di rumah, paman tertua (dalam bahasa padang dipanggil mak dang) nanya ke saya “rumah gimana..?”. Pertanyaannya siy simple nanya rumah saya yang baru kelar dibangun, tapi bagi orang padang itu bukan pertanyaan biasa, bukan nanya rumah dalam arti sebenarnya, dan biar ga keliatan bolot saya respon “iya tuh mak dang, bingung nyari isinya”. Udah abis itu jawaban itu diangkat ke forum. Keluarga besar yang ngumpul lebih dari 20 orang kalau para bocah di hitung, langsung mengarahkan semua pembicaraan ke masalah “isi rumah”, dan pasti saya jadi sasaran.


Cerita diatas cuma sebagai overview bagaimana dalam adat minang (orang biasa bilang minang=padang, untuk selanjutnya saya akan pakai istilah padang sebagai pengganti minang), dalam adat padang dikenal istilah ‘Nan Ampek’ (yang empat) sebagai dasar adab sopan santun yaitu terdiri dari ‘kato manurun’ (kata menurun), ‘kato mandata’ (kata mendatar), ‘kato mandaki’ (kata mendaki) dan ‘kato malereng’ (kata miring). Orang padang biasa mengambil perumpamaan alam, dan keempat adab diatas diambil dari perumpamaan contur alam yaitu datar, menurun, mendaki dan miring. Beda dengan budaya di wilayah lain seperti Jawa yang mengenal bahasa kasar, halus dan bahasa super halus (saya lupa istilahnya.. kromo inggil yaa.. teing akh, pohok abdi ^^) dimana dari masing-masing bahasa tersebut sebenarnya berbeda dalam kosa kata maupun lafal pengucapannya, sementara bagi orang padang makna ‘kato=kata’ dalam istilah ‘Nan ampek’ diatas bukan hanya dalam pemilihan kosa kata, tapi lebih kedalam hal adab, dimana rincian sebagai berikut;
– Kato manurun : adab dengan orang yang lebih kecil
– Kato mandata : adab dengan orang yang sebaya
– Kato mandaki : adab dengan orang yang lebih tua
– Kato malereng : mengerti terhadap makna kiasan

Demikianlah dalam adat minang, keempat pokok tersebut harus diketahui, bagaimana kalau kita bertutur kata dan bersikap dengan orang yang lebih muda, sebaya maupun dengan orang yang lebih tua. Khusus dalam bertutur kata tidak perlu dalam intonasi yang pelan, mendayu-dayu seperti dalam bahasa jawa misal kepada orang yang lebih tua, tapi yang penting menyiratkan suatu kesantunan, dan rasa hormat. Tidak banyak perubahan dalam kosa kata dalam keempat kategori diatas seperti dalam pembagian dalam bahasa jawa. Adalah suatu kewajiban bagi setiap orang padang benar-benar mengerti empat komponen pokok diatas. Ada istilah ‘dak tau di nan ampek’ (ga ngerti akan yang empat), istilah bagi orang yang tidak tau sopan santun.

Naah dari keempat kata diatas, hal yang paling rumit adalah ‘kato malereng’. Kato malereng adalah ungkapan atau perbuatan yang berupa kiasan. Pertanyaan paman diatas disebut sebagai ‘kato malereng’, sebagai pertanyaan kiasan, dan saya harus merespon dengan suatu kiasan juga atau minimal mengerti apa yang dimaksud dari pertanyaan tersebut dan memberi jawaban yang sesuai dengan kiasan yang dimaksud. Dalam pergaulan di lingkungan padang, penggunaan ‘kato malereng’ sangat banyak digunakan, sehingga benar-benar dituntut untuk mengerti makna tersirat dari setiap ucapan, kata-kata dan perbuatan kiasan itu biasanya tidak hanya berasal dari kaum tetua, tapi juga telah dibiasakan sejak muda. Jadi dalam pergaulan kaum muda padang pun, penggunaan makna kiasan adalah hal yang lumrah. Tapi masalah kalau yang ngomongnya orang tua, karena mereka itu sudah sangat mahir dalam hal suatu kata kiasan, biasanya kata kiasan para tetua tersebut sangat sulit ditangkap kalau tidak benar-benar diperhatikan ucapan mereka. Sebagai contoh, beberapa hari yang lalu paman tertua tersebut juga sempat bilang sambil bercanda ketika kakak akan berangkat balik ke Batam dimana kakak tersebut menetap “moga nanti kita bisa ngumpul rame-rame lagi yaa”. Kalau dari hasil pembicaraan sebelum-sebelumnya, apalagi berkaitan dengan masalah keberangkatan kakak, penggunaan kata tersebut adalah kata yang lumrah, tapi sebenarnya kalimat tersebut merupakan kata kiasan, kata ‘nanti ngumpul rame-reme’ itu tidak lain dalam makna ‘pesta pernikahan’ dan siapa lagi kalau sasaran dari pembicaraan tersebut kalau tidak saya sendiri yang duduk persis di samping si paman, do’a agar saya cepat dapat jodoh dan menikah. Orang-orang mungkin ga semuanya nangkap maksud ucapan tersebut, tetapi sebagai orang yang duduk disamping beliau saya harus mengerti maksudnya, walau agak telmi.. ^^

Terakhir, ada beberapa istilah yang sangat dekat dengan istilah ‘kato malereng’ diatas, diantaranya ada istilah ‘tipih talingo’ (tipis telinga), adalah ungkapan bagi orang yang terlalu perasa, dimana suatu kata yang tidak punya makna kiasan tapi karena orang tersebut terlalu perasa, ungkapan tersebut justru dianggap memiliki makna kiasan. Selain ‘tipih talingo’, ada lagi istilah ‘pancimeeh’, yaitu ungkapan bagi seseorang yang suka menggunakan kata-kata kiasan yang kasar, sangat eksplisit dan bertujuan untuk memperolok-olok orang lain. Kedua tipe orang tersebut adalah tipe yang tidak baik, karena menempatkan makna kata kiasan bukan dalam tempat sebenarnya, janganlah jadi orang yang terlalu perasa, dan jangan menggunakan kata kiasan untuk tujuan memperolok-olok.

Begitulah seharusnya jadi orang padang, dan begitulah orang padang, enjoy..! .. halah ^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s