Ingatkan jika salah

Lagi-lagi ngomongin masalah nikah (emang sebelumnya pernah dibahas ga yaaa masalah nikah, lupa ding ^^). Oo iya, ngomongin masalah nikah, seorang teman nasihatin saya kemaren di ym, bilangnya ‘yang penting priority cari yang saleha’. Kata-kata itu mengingatkan saya pada obrolan dengan teman lainnya yang kebetulan mau nikah, dia mengakui bahwa untuk nyari yang namanya istri dia cendrung nyari yang ‘save’. Konotasi save disini tidak jauh beda dengan nasehat teman di ym diatas yaitu yang shaleh.

Saya jadi mikir, jadi bagaimana dengan yang tidak shaleh? Oo yaa mungkin orang-orang berpijak pada Al-Qur’an surat An-nisa’ : 26

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…”

atau mungkin pada hadist Nabi saw

“Wanita itu dinikahi karena 4 hal : karena kecantikannya, karena keturunannya, karena kekayaannya, dan karena agamanya. Menangkanlah dengan memilih agamanya maka taribat yadaaka (kembali kepada fitrah atau beruntung).”

Ada dua hal yang saya sorotin dari Ayat maupun hadist diatas;
– Masalah kriteria keji dan baik dari ayat diatas. Siapa yang bisa memberi judgement seorang wanita atau laki-laki itu keji atau baik. Ada kecendrungan yang saya tangkap selama ini orang mendifinisikan sendiri baik dan keji dan kemudian membandingkan dengan dirinya, ooo si ini orangnya ga baik ga pantes buat saya, dan si itu anaknya baik, brarti pantes buat saya. Definisi baik adalah dari kacamata sendiri atau pendapat umum dan tidak pernah menggali sendiri apakah benar-benar seseorang itu sebaik atau seburuk yang dibayangkan. Parah lagi rata-rata kita berpijak bahwa diri kita sendiri adalah orang baik-baik, sehingga yang pantes buat kita juga harus yang baik-baik.

– Masalah memilih berdasarkan agamanya pada hadist diatas, ini mungkin sesuai dengan pengertian teman diatas, kata save berkaitan dengan agama dan akhlaknya yang bagus. Pertanyaan saya adalah bagaimana dengen mereka yang tidak memiliki akhlak yang tidak baik, apakah tidak pantas untuk kita?

Saya cukup terganggu dengan kedua pendapat diatas, sayang saat ini saya tidak lagi memegang tafsir Al-Misbah nya Quraish Shihab, jadi tidak mengetahui hal yang melatarbelakangi adanya ayat diatas dan sayapun tidak mendapatkan referensi di internet tentang asal-muasal hadist diatas. Pendapat pribadi saya mengenai kedua hal diatas adalah sebagai berikut;
– Masalah kriteria keji dan baik, menurut saya tidak mengacu kepada object siapa itu wanita atau laki-laki, tapi menurut saya adalah kajian untuk diri sendiri. Kita melihat tidak ke orang lain tapi menengok ke diri sendiri. Apakah kita benar-benar telah menjadi orang yang baik. Apakah kita telah menjadi hamba yang rajin beribadah, apakah kita benar-benar seseorang berakhlak yang baik, apakah hati kita benar-benar telah bersih dari semua penyakit hati. Goal-nya, kalau kita bisa mencapai, atau minimal menuju ke tahap perbaikan diri untuk hal-hal tersebut insyaallah kita dijanjikan pendamping yang juga baik menurut pilihan-Nya. Kembali, itu bukan melihat ke diri orang lain tapi adalah semacam cermin diri, introspeksi diri. Jangan berhenti untuk menjadi lebih baik kalau ingin mendapatkan yang terbaik ^^

– Masalah hadist ‘memilih agamanya’, menurut saya itu adalah masalah pilihan terbaik jika kita memiliki suatu rasa ragu akan 4 kriteria yang ada. Tapi kadang kita memiliki niat yang berbeda-beda dan menurut saya tiga kriteria lainnya juga boleh menjadi opsi pilihan asalkan niat tersebut lillahi ta’ala, berdasarkan tujuan yang mulia. Kalau ga salah dulu ada kisah seseorang menikah dengan alasan mengejar derajat kebangsawanan untuk tujuan untuk mempermudah penyebaran agama Islam, bukankah pilihan tersebut jauh lebih mulia daripada sekedar mendapatkan seseorang yang shaleh untuk memperkaya amalan sendiri sementara orang disekililing masih bergelut dengan dosa. Satu lagi, kalau semua yang baik agamanya untuk orang yang baik juga, bagaimana dengan mereka yang agamanya tidak baik? Akankah lebih mulia kalau kita memilih seseorang untuk menyempurnakan agamanya. Sering saya baca hadist ini diangkat untuk menunjukkan bahwa nobody perfect maka dianjurkan untuk milih yang agamanya lebih baik. Kenapa tidak kita coba balikkan, kalau memang tidak ada yang perfect, kenapa kita tidak memilih mereka yang agamanya belum sempurna untuk kita coba sempurnakan dan dengan niat seperti itu kita juga mungkin akan diberikan seseorang yang akan menyempurnakan agama kita, karena jika kita sendiri bilang nobody perfect berarti kita juga tidak sempurna dan dengan itu disempurnakan agama kita, Wallahu’alam.. mohon ingatkan jika pendapat diatas salah ^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s