setengah 12 masih duduk sendiri ditengah ruangan.. huuuh, mau jadi apa siy kamu ndu’… **masih layak dipanggil ndu’ ga siy.. diliat dari umurnya
**
Ingat ndu’.. ingat jawa, saya jadi teringat cerita teman tentang acara tedak sinten terhadap ponakannya. Sangat menarik karena saya baru tau tradisi gituan. Dan surprise nya lagi tentang segala hal yang digunakan, mulai dari kurungan yang katanya mirip kurungan ayam, ada uang, perhiasan termasuk Al-Qur’an. Kebetulan bayi ponakan teman tersebut katanya selalu meraih Al-Qur’an, kata bude-nya tu anak mungkin akan menjadi Da’i.. semoga
Lah cerita jadi melebar, padahal tadi iseng mau nulis aja, gara-gara bingung mau nonton TV semuanya meliput pelantikan Obama, secara saya berseberangan dengan Obama gara-gara sayanya fans nya Hillary
. Oo yaa sebenarnya mau sedikit cerita…
Alkisah, halah..
tadi sehabis shalat isya di masjid komplek sebelah, saya diajak ngobrol sama bapak-bapak disana. Biasa, awalnya cuma nanya tinggal dimana.. karena bapak-bapak disana mungkin penasaran liat orang asing yang suka banget shalat disana. Dan ketika saya menyebutkan saya tinggal di cluster sebelah, mereka langsung interest, kok saya shalatnya justru ke cluster mereka. Setelah saya kasih tau bahwa di tempat saya belum ada masjid, mereka mulai cerita tentang perjuangan mereka membangun masjid tersebut. Salut juga, mereka bisa mengumpulkan sumbangan warga hampir 150 juta hanya dalam waktu kurang dari 3 tahun, dan sekarang sebuah masjid yang bisa dibilang sangat layak berdiri ditengah-tengah komplek. Tapi lucunya, masih di cluster yang sama sebuah mushalla baru berdiri. Saya tidak tau alasannya, mereka cuma cerita bahwa ‘ada sejarahnya’. Mushalla baru yang dibangun diatas tanah yang dibeli sama warga, sementara masjid yang tadi tempat saya shalat berdiri diatas tanah hibah dari pengembang.
Lantas, yang bikin heran adalah, sementara masjid tempat saya shalat biasanya hanya diisi oleh jama’ah tidak lebih dari 10 orang, rata-rata cuma 4-5 orang, kok masjid baru berdiri dengan jarak yang cukup dekat. Ini sebenarnya bukan kasus pertama, karena saya liat disini masjid memang banyak, tapi jama’ah nya sedikit-sedikit. Hampir tiap cluster punya masjid, dan hampir setiap masjid hanya dijama’ahi tidak lebih dari 10 orang. Lantas pertanyaan, kenapa kudu banyak masjid, kalau keberadaannya seperti hidup segan mati ga mau.
Satu alasan yang menurut saya make sense adalah karena konsep perumahan yang cluster, sehingga hanya ada satu pagar, dan satu gerbang keluar yang dijaga oleh sekuriti. Warga didalam cendrung nyaman didalam cluster nya sehingga malas untuk keluar komplek. Cluster yang di desain untuk menjadi hunian yang sangat manusiawi, menyebabkan orang betah didalamnya, termasuk untuk pergi shalat berjama’ah keluar cluster. Selain itu untuk shalat ke cluster sebelahpun, ada rasa sungkan karena untuk masuk ke komplek sebelah terlebih dahulu harus melewati gerbang dimana sang satpam harus bolak-balik buka tutup pagar. Dengan alasan itu makanya setiap warga di satu cluster memaksakan diri membangun masjid sendiri didalam clusternya.
Yang jadi pertanyaan, apakah banyak masjid sedikit jama’ah lebih baik dari sedikit masjid banyak jama’ah..?
Dari yang saya tahu **dengan elmu agama yang sangat terbatas** saya pernah mendengar bahwa shalat berjama’ah lebih baik dari shalat sendiri. Shalat berjama’ah bertiga lebih baik dari dua orang. 4 orang lebih baik dari 3 orang dan seterusnya. Intinya, semakin banyak jama’ah semakin besar pahalanya. Lantas bagaimana dengan kondisi diatas..?
Mungkin ada yang berpendapat lain..?
Jadi teringat tulisannya Cak Nun dengan judul seribu masjid satu jumlahnya;
Satu
Masjid itu dua macamnya
Satu ruh, lainnya badan
Satu di atas tanah berdiri
Lainnya bersemayam di hati
Tak boleh hilang salah satunya
Kalau ruh ditindas, masjid hanya batu
Kalau badan tak didirikan, masjid hanya hantu
Masing-masing kepada Tuhan tak bisa bertamu
Dua
Masjid selalu dua macamnya
Satu terbuat dari bata dan logam
Lainnya tak terperi
Karena sejati
Tiga
Masjid batu bata
Berdiri di mana-mana
Masjid sejati tak menentu tempat tinggalnya
Timbul tenggelam antara ada dan tiada
Mungkin di hati kita
Di dalam jiwa, di pusat sukma
Membisikkannama Allah ta’ala
Kita diajari mengenali-Nya
Di dalam masjid batu bata
Kita melangkah, kemudian bersujud
Perlahan-lahan memasuki masjid sunyi jiwa
Beriktikaf, di jagat tanpa bentuk tanpa warna
Empat
Sangat mahal biaya masjid badan
Padahal temboknya berlumut karena hujan
Adapun masjid ruh kita beli dengan ketakjuban
Tak bisa lapuk karena asma-Nya kita zikirkan
Masjid badan gampang binasa
Matahari mengelupas warnanya
Ketika datang badai, beterbangan gentingnya
Oleh gempa ambruk dindingnya
Masjid ruh mengabadi
Pisau tak sanggup menikamnya
Senapan tak bisa membidiknya
Politik tak mampu memenjarakannya
Lima
Masjid ruh kita baw ke mana-mana
Ke sekolah, kantor, pasar dan tamasya
Kita bawa naik sepeda, berjejal di bis kota
Tanpa seorang pun sanggup mencopetnya
Sebab tangan pencuri amatlah pendeknya
Sedang masjid ruh di dada adalah cakrawala
Cengkeraman tangan para penguasa betapa kerdilnya
Sebab majid ruh adalah semesta raya
Jika kita berumah di masjid ruh
Tak kuasa para musuh melihat kita
Jika kita terjun memasuki genggaman-Nya
Mereka menembak hanya bayangan kita
Enam
Masjid itu dua macamnya
Masjid badan berdiri kaku
Tak bisa digenggam
Tak mungkin kita bawa masuk kuburan
Adapun justru masjid ruh yang mengangkat kita
Melampaui ujung waktu nun di sana
Terbang melintasi seribu alam seribu semesta
Hinggap di keharibaan cinta-Nya
Tujuh
Masjid itu dua macamnya
Orang yang hanya punya masjid pertama
Segera mati sebelum membusuk dagingnya
Karena kiblatnya hanya batu berhala
Tetapi mereka yang sombong dengan masjid kedua
Berkeliaran sebagai ruh gentayangan
Tidak memiliki tanah pijakan
Sehingga kakinya gagal berjalan
Maka hanya bagi orang yang waspada
Dua masjid menjadi satu jumlahnya
Syariat dan hakikat
Menyatu dalam tarikat ke makrifat
Delapan
Bahkan seribu masjid, sejuta masjid
Niscaya hanya satu belaka jumlahnya
Sebab tujuh samudera gerakan sejarah
Bergetar dalam satu ukhuwah islamiyah
Sesekali kita pertengkarkan soal bid’ah
Atau jumlah rakaat sebuah shalat sunnah
Itu sekedar pertengkaran suami istri
Untuk memperoleh kemesraan kembali
Para pemimpin saling bercuriga
Kelompok satu mengafirkan lainnya
Itu namanya belajar mendewasakan khilafah
Sambil menggali penemuan model imamah
Sembilan
Seribu masjid dibangun
Seribu lainnya didirikan
Pesan Allah dijunjung di ubun-ubun
Tagihan masa depan kita cicilkan
Seribu orang mendirikan satu masjid badan
Ketika peradaban menyerah kepada kebuntuan
Hadir engkau semua menyodorkan kawruh
Seribu masjid tumbuh dalam sejarah
Bergetar menyatu sejumlah Allah
Digenggamnya dunia tidak dengan kekuasaan
Melainkan dengan hikmah kepemimpinan
Allah itu mustahil kalah
Sebab kehidupan senantiasa lapar nubuwwah
Kepada berjuta Abu Jahl yang menghadang langkah
Muadzin kita selalu mengumandangkan Hayya ‘Alal Falah!
Wuuuiih, mantap… jadi panjang.. padahal tadi bingung mau nulis apa, nulis hanya buat nunggu mata ngantuk aja setelah mampir ke blog-blog sebelah **walau ga sempat ninggalin jejak, insyaallah kapan-kapan ngasih finger print**
Dah akh Bobo.. zzzzzzzz…. good night, have nice sleep yaa
wahhhh……….. cak nun emang mantap puisimu….