Sicindai
menyingkap yang terlihat

Cita-cita

Kemaren iseng baca majalah Idea yang membahas mengenai teras ketika sedang menunggu jemputan my LJ. Ada yang menarik tentang konsep perubahan fungsi dari teras, sehingga juga menyebabkan terjadi perubahan dalam hal ukuran teras itu sendiri termasuk segala properti pendukungnya. Satu yang paling menarik adalah masalah perubahan dari yang dulunya luas menjadi kecil, bukan karena faktor harga lahan ..yang ini pasti.. tapi lebih karena gaya hidup. Disitu disinggung bahwa kebanyakan orang sekarang membangun rumah dengan menghabiskan sisa lahan untuk ruang dalam dan hanya menyisakan sedikit untuk teras, sekedar zone transfer ..kayak istilah DNS dalam dunia IT hehehe.. antara tamu dengan rumah itu sendiri. Apa yang menyebabkan perubahan itu..?

Naah ini point yang menarik yang sebenarnya pengen saya utarakan disini.

Itu adalah masalah perubahan pola kerja.

Yap, di majalah itu disebutkan, dulu orang tua kita bekerja cuma sampai siang maksimal jam 2, dan abis itu sisa hari dihabiskan dirumah. Dan telah menjadi kebiasaan, kebanyakan dihabiskan sambil duduk dan ngobrol di teras ..mungkin karena kita berada di daerah tropis yang bersuhu lebih panas.. atau mungkin juga karena waktu itu AC belum se booming sekarang untuk digunakan di rumah-rumah..

Ada dua kata disitu,

  • Duduk : untuk sekedar cari angin, ngadem dan mungkin cuci mata ngeliat alam dan lingkungan di sekitar. Ini menyebabkan pikiran lebih jernih dan secara psikis pasti menyebabkan hati lebih tenang dan otak lebih bersih. Kecuali cuci matanya ke hal-hal yang ga ga.. liat kemolekan tubuh mbok-mbok jamu lewat misalnya.. itu bikin otak jadi kotor..hehehe dasar playboi kampung
  • Ngobrol : ngobrol sendiri pasti ga mungkin, dikira gila.. :D , pasti yang dimaksud disini ngobrol dengan keluarga, istri atau anak, dan tentu kebanyakan ngobrol dengan tetangga atau kerabatĀ  yang sengaja datang. Tidak asing bagi kita zaman dulu ortu menjamu para tamu tidak di ruang tamu tapi di teras depan, selain lebih adem, suasana tempat ngobrol misal terdapat taman atau kolam ikan biasanya menimbulkan tema obrolan jadi meluas misal yang tadinya pengen ngelamar, temanya jadi melebar ngomongin masalah tanaman atau jenis-jenis ikan dan lainnya, sehingga tamupun lebih betah ngobrol.. yaa paling yang punya rumah bete harus nambahin kopi buat si tamu berkali-kali. Btw, kenapa contohnya harus ngelamar.. naah looo.. :D

Perubahan gaya hidup terutama jam kerja menyebabkan terjadi perubahan signifikan baik dalam hal sosial dan mungkin lingkungan.

  1. Sosial : Sekarang orang bekerja hingga jam 5 sore, dan karena kemacetan, rumah mereka telah bergeser tidak lagi secara fisik tetapi secara makna, yaitu dari rumah ke mobil. Mobil baik mobil pribadi atau bus telah berganti fungsi, tidak lagi cuma sebatas sarana transportasi tapi juga tempat bersosialisasi. Semuanya dikerjakan di mobil, ngobrol dengan teman, sarapan pagi.. bagi yang naik bus, tetangga mereka sekarang bukan lagi tetangga sebelahan rumah, tapi tetangga sebelahan duduk. Tidak ada lagi waktu untuk ngobrol dengan tetangga di depan rumah karena mereka baru nyampe rumah ketika tetangga-tetangga mereka telah pada tidur atau mungkin juga belum pada pulang.
  2. Bentuk teras : Ini juga berimbas ke bentuk fisik dari teras itu sendiri, teras yang awalnya luas beserta taman atau kolam ikan dan hanya berpagarkan setinggi pinggang orang dewasa dengan tujuan kalau tetangga lewat masih bisa disapa atau menyapa si empu yang punya rumah karena masih keliatan dari jalan dengan pagar yang rendah tersebut. Tetapi sekarang, semuanya ditarik ke dalam rumah, rumah yang tidak ditinggali selama bekerja menimbulkan kekawatiran akan keamanan. Tidak ada yang disisakan diluar rumah, semua ditarik kedalam rumah. Rumah seperti brangkas besar, dengan berbagai pengamanannya yang salah satunya berupa pagar yang dibangun setinggi mungkin untuk mencegah orang lain jangankan untuk memiliki akses, tapi juga tidak dapat melihat apa yang ada dihalaman atau didalam rumah itu sendiri. Semua itu mempengaruhi pola sosial.
  3. Lingkungan : tidak ada lagi area serap air, semuanya di beton, penyempitan halaman otomati mempersempit area serapan. Selain itu, karena semua aktivitas didalam rumah, penggunaan AC menjadi suatu kebutuhan. Ujung-ujungnya pemanasan global tidak dapat di hindari. Akh, maklum lagi terobsesi sama yang bertema global warming :D

Yaah, semua itu memang akibat yang namanya industrialisasi dan globalisasi. Semua memberi efek buruk secara psikologis maupun lingkungan. Industrialisasi menghasilkan produk-produk yang memberi kenyamanan secara personal. Semuanya di otomatisasi, dipermudah. Pengen adem, tinggal AC, mau blanja bisa di internet atau telpon. Interaksi antar manusia semakin sempit. Akibatnya orang-orang lebih egois, keingingan untuk mencapai strata kenyamanan yang lebih baik membuat orang lebih materialistis, dan untuk itu mereka harus bekerja lebih giat, menumpuk harta dan menaikkan strata, sehingga mereka semakin melupakan interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Semuanya berlari, orang-tua berlari mengejar pendapatan sebesar mungkin demi pribadi dan anak-anaknya. Anak-anak pun di sekolah disuruh berlari..jam belajar ditambah, kegiatan ekskul, sementara dirumah mereka dimanja dengan semua permainan yang makin menjauhkan dari lingkungan.

Yaah, di kepala terngiang lagunya Aqua - turn back time. Coba kalau kita bisa kembali ke pola jam kerja seperti dulu, hidup secukupnya, dengan rumah secukupnya, anak-anak bisa bebas bermain, siang balik dari madrasah pengajian bisa ketemu orang tua, bermain dengan anak-anak tetangga. Si bapak bersarung ngobrol dengan kaum sarungan lainnya.. udara bersih taman dimana-mana, ga perlu ada lagi banjir ketika hujan dan kesulitan air bersih ketika musim kering karena lahan hijau menyerap semuanya kembali ke tanah. Sepertinya saya salah bercita-cita.. seharusnya dulu saya cukup bercita-cita seperti lirik lagunya Cita-cita si Anak Desa -nya Ebiet G Ade;

Aku pernah punya cita-cita hidup jadi petani kecil
Tinggal di rumah desa dengan sawah di sekelilingku
Luas kebunku sehalaman ‘kan kutanami buah dan sayuran
Dan di kandang belakang rumah kupelihara bermacam-macam peliharaan

Aku pasti akan hidup tenang, jauh dari bising kota yang kering dan kejam
Aku akan turun berkebun mengerjakan sawah ladangku sendiri
dan menuai padi yang kuning bernas dengan istri dan anakku
Memang cita-citaku sederhana sebab aku terlahir dari desa

Istriku harus cantik, lincah, dan gesit
Tapi ia juga harus cerdik dan pintar
Siapa tahu nanti aku ‘kan terpilih jadi kepala desa
‘kan kubangkitkan semangat rakyatku dan kubangun desaku

Desaku pun pasti mengharap aku pulang
Akupun rindu membasahi bumi dengan keringatku
Tapi semua itu hanyalah tergantung padaNya jua
Tapi aku merasa bangga setidak-tidaknya ku punya cita-cita
Tapi aku merasa bangga setidak-tidaknya ku punya cita-cita

Yaah, walau telat, saya pengen punya cita-cita itu skarang :D

One Response to “Cita-cita”

  1. pernah liat hamster yg berlari terus mengejar makanan?, padahal tikus itu berlari didalam roda yg khusus dibuat untuk dirinya. tikus itu jelas pekerja keras dan giat, tapi sayangnya dia sebenarnya berjalan ditempat dan tidak pernah mendekat kepada makanan yg dicita-citakannya itu….sementara penjual hamster itu, asik merokok…mungkin masih sempet duduk-duduk dan ngobrol-ngobrol dalam hidupnya….

    mungkin temen satu kandang hamster itu udah ngingetin, kalo lari-larian seharian diroda itu tidak membawa hamster itu ke cita-citanya. tapi kesalahpahaman mudah sekali terjadi dikandang itu, dipikir si hamster temennya sedang memprovokasi dirinya untuk hidup sia-sia dan berhenti berproduktivitas dikandang itu….

    oleh karenanya saya suka banget ada kosakata “leverage” dalam kamus manusia.

    karnandi - Juli 30, 2008 at 12:31 am

Leave a Reply