Cross Road
Kau seperti bus kota atau truk gandengan
Mentang-mentang paling besar klakson sembarangan
Aku seperti bemo atau sandal japit
Tubuhku kecil mungil biasa terjepit
Pada siapa ku mengadu
Pada siapa ku bertanya
Mengapa besar selalu menang
Bebas berbuat sewenang-wenang
Mengapa kecil selalu tersingkir
Harus mengalah dan menyingkir(besar dan kecil - Iwan Fals)
Liat foto diatas, betapa leganya pedestrian buat pejalan kaki. Dan begitu hendaknya kalau pengen membuat kota yang beradab, kota yang lebih manusiawi, manusia berinteraksi langsung, bukan hidup dalam ruang private di mobil masing-masing.
Saya kepikiran menulis tentang ini, gara-gara barusan, ketika janjian ketemu dengan My LJ, ketika menyebang dari PS menuju Sensi, sebuah mobil kijang mengintimidasi saya, kijang tersebut memaksa saya untuk berlari menyeberang, Ga ada ruginya dia memberi saya sedikit ruang untuk berjalan karena traffic juga lagi padat, dia ga akan kemana-mana. Setelah lolos dari intimidasi sang kijang, saya juga harus mengalah sama taksi yang ga mau mengalah sedikitpun untuk mendahulukan saya untuk melanjutkan menyeberang, padahal kalau di hukumnya menyalip, saya udah duluan dapat jalan, tapi karena apalah body ini dibandingkan Limo Bluebird yang lebih kokoh, akhirnya saya mengalah. Ga salah lirik lagu Iwan Fals diatas, yang kecil memang harus mengalah dan tersingkir.
Huuh, benar-benar kesal. Kota ini memang adabnya udah ga ada. Baru minggu lalu saya ngalami kurangnya adab berkendara di medan sana, ternyata di jakarta ga jauh beda, khususnya bagi pejalan kaki. Saya ingat, pernah dalam satu perjalanan ke negeri seberang sana, saya sangat salut sama adab dan penghargaan mereka sama pejalan kaki dan penyeberang. Satu saat, saya berada di depan satu zebra cross, secara saya yang mau menyeberang, dari jauh saya liat sebuah mobil melaju kencang, sehingga saya harus berhenti. Tapi ajaibnya, di depan saya, pengendara mobil tersebut mengurangi kecepatan dan berhenti, mempersilahkan saya untukĀ menyebarang duluan.
Memang disini adabnya udah parah banget, yang nyeberang ga liat-liat tempat buat menyeberang, sementara yang punya kendaraan ga mau peduli bahwa jalan bukan hanya milik mereka, tapi juga milik pejalan kaki yang mau menyeberang. Sebagai pihak yang lebih lemah, harusnya mereka didulukan. Sering saya mengalami, ketika memberi jalan buat penyeberang, saya benar-benar merasa terancam oleh sesama pengendara motor yang mengintimidasi saya dari belakang.
Akh, saya tetap ga peduli, gimanapun, suatu adab yang baik harus dimulai, dari diri sendiri, dan walaupun itu sendiri. Jangan malu untuk berbeda demi suatu kebaikan.
-ttd-
Pejalan kaki\Pengendara Mio
Loading...