Barusan abis nelpon ortu yang jauh di seberang sana, ceritanya di telpon saya numpahin uneg-uneg yang udah dua hari saya coba tahan. Bukannya marahin ortu, bukan.. itu namanya anak durhaka, tapi sekedar minta pendapat akan suatu masalah.
Terus terang, masalah ini agak sedikit mengganggu. Gimana ga bikin bete, karena ini menyangkut yang namanya kepercayaan dan keikhlasan. Dua hal selama ini saya coba maintain kalau pengen membantu seseorang. Ketika kita pengen bantu seseorang, sebenarnya yang paling utama itu ikhlas. Dalam beberapa hal saya ga begitu ambil pusying, itu bantuan mau diapain, yang jelas saya niat memberi, dan akan saya beri tanpa ada alasan dibelakang dan tujuan kedepannya. Tapi dalam beberapa hal, saya biasanya memberi karena alasan tertentu, tapi itu bukan untuk diri sendiri, tapi karena alasan untuk membantu orang tersebut yang menurut saya kurang dalam hal tertentu, dan saya akan berikan untuk mencukupi kekurangannya tersebut.
Dalam kasus yang terakhir saya biasanya akan state, ini saya bantu untuk keperluanmu yang itu, ‘yang itu’ tersebut sangat jelas dan disitu saya menanam kepercayaan bahwa bantuan saya tesebut akan digunakan sesuai dengan yang udah saya niatin. Disini sebenarnya saya bicara masalah trust. Naah yang bikin saya risih adalah ketika kepercayaan yang saya berikan disalahgunakan dan/atau disalah artikan. Disalah gunakan dalam artian, saya pengennya buat A, dia pake buat B, sementara disalah artikan misalnya saya ngasih A tapi bukan berarti dia bisa seenaknya minta A plus atau B karena dianggap saya bisa diakali karena kepercayaan saya padanya.
Naah dalam kasus yang bikin saya bete dan coba ngomong ke ortu itu adalah masalah menyangkut kedua masalah tersebut, ketika kepercayaan saya disalah gunakan dan di salah artikan. Suatu kepercayaan yang dilanggar membuat saya sangat kecewa. Pernah saya nulis di salah satu posting di private blog, disana saya katakan bahwa yang namanya trust punya posisi yang tinggi dalam agama, makanya salah satu yang menyebabkan Nabi saw waktu itu cepat diterima ketika menyebarkan Islam karena Beliau tersebut orang yang dipercaya.
Begitu juga saya dalam hidup, kepercayaan adalah hal yang pertama yang saya tanamkan dalam hal hubungan dengan orang lain, tapi ketika kepercayaan itu dilanggar, sangat sulit bagi saya untuk bisa recovery dalam hubungan tersebut.
Naah dalam kaitan dengan masalah diatas, ketika saya tidak lagi percaya, otomatis saya tidak lagi bisa ikhlas, dan untuk apa saya melakukan sesuatu kalau tidak berlandaskan ikhlas, suatu tindakan yang mubazir.. hmmm
nah lo kenapa tuh tiba-tiba ga ikhlas